
Satu bulan kemudian
"Jadi kamu mau kan jadi pagar ayu nikahan kakak?" Tanya Rangga pada Ina melalui ponselnya.
"Iya kakak. Buktinya aku sekarang sudah di Jakarta. Demi siapa, demi kakakku dan Sahabatku pastinya." Jawab Ina.
"Kamu harus bawa pasangan ya. Biar nggak gigit jari pas lihat orang berpasangan." Kata Rangga yang adiknya sedang jomblo saat ini.
"Ih, ogah! Karina Permata Gunawan harus jadi Jomblo Limited edition. Karena apa? Aku kan calon insyinyur."
"Iya... iya... Jangan keenakan, Na. Ntar jadi perawan tua,lo." Terdengar sahutan dari belakang.
"Eh, Lo, Ras. Sombong banget baru mau nikah aja udah kayak gitu. Gini-gini aku yang antri banyak terus berpengalaman. Nah, kamu pacaran aja belum pernah! hhahaahahaha ..." Tawa renyah Ina bikin Laras malu.
Setelah selesai teleponan bersama Ina, Rangga menatap Laras dengan ketus. Laras hanya menunduk takut lalu meninggalkan Rangga. Sampai dikamar dia duduk sambil menatap photo keluarganya, ada rasa rindu yang tak terbendung. Dimana dia saat ini butuh support.
"Aku harus gimana, Bu? Apa aku harus tetap menikah dengan kak Rangga? sedangkan aku tahu dia sangat mencintai Ina.
Sekarang aku merasa seperti terkepung. Kemanapun aku bersembunyi, tetap saja mereka menemukanku. Apakah memang takdirku seperti ini?" Laras menangis memeluk photo keluarganya.
"Ras." Terdengar suara si bibi memanggilnya.
"Iya." Laras menyeka airmatanya.
"Kamu nangis? Kenapa? harus kamu senang dong dapat calon suami kayak mas Rangga."
"Saya kangen keluarga saya,bi. Seandainya mereka masih ada mungkin bisa lihat saya bersanding." ucap Laras.
Bibi menepuk pundak Laras sebagai bentuk simpatinya pada gadis itu. Dia paham perasaan Laras yang baru saja ditinggal ibunya. Sekarang malah diminta menikah dengan lelaki yang baru saja dikenalnya. Laras tertidur dipangkuan bibi, layaknya seperti seorang ibu si bibi membelai rambut gadis itu.
Bibi mengambil photo keluarga Laras. Tapi betapa terkejutnya saat melihat photo keluarga Laras.
"Jadi Laras anak Mala! Astaga pantas aku merasa tidak asing dengan wajahnya. Ya, Allah kalau bu Gladys tahu bagaimana? Bukannya dulu Bu Gladys sangat membenci Mala. Jangan sampai Laras di usir dari sini. Kasihan kalau gadis ini jadi pelampiasan masalalu ibunya."
Bibi beranjak dari kasur guna menyimpan photo keluarga Laras ditempat yang sulit terjangkau. Setelah itu bibi bekerja seperti biasa.
Beberapa saat kemudian Laras terbangun melihat sudah ada selimut menutupi tubuhnya. Dengan cepat Laras cuci muka lalu menyusul bibi yang sedang memasak di dapur.
"Bi, kok nggak bangunin aku?"
"Kamu pasti capek banget. Biar saya saja yang beresin. Ingat lusa kamu nikah jadi harus dipingit."
"Ah, bibi saya masih pembantu disini." Jawab Laras
Sementara Rangga datang ke kantor Spencer mengantarkan undangan pernikahan. Tampak Reza yang menyambut sahabatnya dengan ramah.
"Akhirnya seorang Rangga sold out juga." Ucap Reza sambil tertawa melihat undangan sahabatnya.
"Iyalah. Masa kamu aja yang nikah. By the way kamu harus bawa pasangan. Biar nggak ngenes pas sedang disana."
"Sombong mentang-mentang sudah punya yang sah." Ambek Reza.
__ADS_1
Sejak di tolak lamarannya dengan Ina. Reza sudah jarang dekat dengan wanita. Saat ini dia perlu hati-hati dalam memilih wanita. Apalagi dia malu dengan sikap ibunya di malam lamaran tersebut.
"Oh, ya atasanmu ada?" Tanya Rangga yang membuyarkan lamunannya.
"Pak Ronal kayaknya belum datang tuh. Tapi nggak tahu juga. Coba cek keruangannya. Akhir-akhir ini dia agak aneh, sikapnya balik lagi seperti saat istrinya baru meninggal dulu.
Katanya sih gara-gara hubungannya kandas dengan Ina. Kata Alena, Pak Ronal sudah melamar Ina tapi besoknya Ina mutusin hubungan."
Rangga mendengar cerita Reza malah tertawa. Reza seakan tidak kalau ditertawakan Rangga.
"Kenapa?"
"Za, lu cocok sama Alena. Cocok jadi tukang rumpi....hahahaaha" tawa Rangga makin kencang membuat Reza malu.
"Udah, ah. Entar ada yang dengar suara kamu malah aku yang kena omel. Suara lo itu ganggu banget." Timpal Reza.
"Habis cowok kok gosipan. Udah ah, aku mau ketemu Alam dulu." Rangga keluar dari ruang kerja Reza.
Rangga memasuki ruang kerja Alam. Tak ada sosok yang di carinya. Nampak Bobby yang masih berkutat dengan pekerjaannya. Ranggapun memberanikan diri masuk menemui Bobby.
"Assalamualaikum, Om."
Bobby menoleh lalu mempersilahkan tamunya duduk. Ranggapun duduk sambil memperhatikan disekilingnya. Ruangan yang luas bahkan lebih luas dari ruang kerjanya. Matanya tertuju pada pintu dibelakang kursi kerja milik Bobby.
"Itu wc ya, om." Tanya Rangga.
"Itu kamar istirahat Alam. Biasanya kalau dia lembur atau bawa anaknya kesini."
"Wah, selamat ya. By the way calon kamu anak pengusaha mana?" Tanya Bobby.
Pertanyaan Bobby menohok bagi Rangga. Karena dia malu menjelaskan kalau calon istrinya adalah pembantunya. Dia sempat menentang keinginan mamanya untuk menikah dengan Laras. Gadis sahabat adik tirinya, yang sudah dianggap seperti adik sendiri.
"Cuma gadis biasa, Om. Teman dekatnya Ina." Jawab Rangga.
"Oh. Kami akan mengusahakan datang. Kapan acaranya?"
"Lusa, Om. Alam mana, Om?"
"Alam ke Jambi bersama Shasa. Jenguk bibinya yang sakit keras.Tadi katanya hari ini mereka akan pulang" Jawab Bobby sambil membaca undangan Rangga.
"Ya, udah, Om. Saya pamit dulu."
"Selamat, ya." Rangga dan Bobby berjabat tangan.
Klik
Ina duduk mematut wajahnya dicermin. Sudah satu minggu pulang ke indonesia demi pernikahan Laras dan Rangga. Mumpung kuliahnya masuk bulan depan. Ina diterima di universitas Tokyo mengambil jurusan arsitektur. Rencananya setelah pesta Rangga, Ina mau ziarah dahulu ke makam mamanya dan makam papanya.
Siang ini Ina akan ke butik mencari gaun untuk acara Rangga. Yang pasti dia akan tampil secantik mungkin. Setelah siap, Ina pun melenggang turun ke bawah. Tampak sosok Gilang sudah duduk di kursi tamu. Ina menghela nafas berat. Ina menebak kalau kedatangan Gilang pasti suruhan kakaknya.
"Sudah siap?" Tanya Gilang.
__ADS_1
"Menurut kakak gimana?" Jawab Ina ketus.
"Menurut apa pun yang kamu pakai tetap terlihat cantik." Jawab Gilang sambil mengedipkan mata.
Ina menunduk. Kedipan mata Gilang mengingatkannya pada seseorang. Tak lama mereka sudah berada dimobil. Tampak Gilang menerima telepon seseorang.
"Na, Kita ke bandara dulu, ya. Tante Grace minta dijemput." Ina hanya membuang muka menatap ke Jendela.
Mobil berputar kearah berlawanan. Ina memilih tidur daripada banyak bicara dengan Gilang.
"Tante Grace ada pertemuan bisnis di Jambi. Tahu sendirikan perusahaan tante Grace bergerak dibidang makanan ringan gitu. Jadi dia mau mengangkat snack citarasa Sumatra gitu." Cerita Gilang.
Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai dibandara. Ina terbangun saat mendadak rem, saking kagetnya Ina sampai terjedot. Mereka turun dari mobil dan ternyata Grace sudah keluar. Ina dan Gilang menyalami Grace.
"Kak Gilang aku mau beli donat dulu, ya. Lapar" Gilang mengiyakan permintaan Ina.
Ina berdiri didepan stand Dunkin donuts memesan satu pak donat bermacam toping.
"Yayah, Ca mau onat." Sapa seorang anak kecil.
"Ternyata kalau jodoh nggak akan kemana, ya? seberapa jauh kamu menghindari tapi selalu ada celah untuk dipertemukan kembali." sapa suara lelaki tersebut.
Ina yang tadinya hampir menggit donat, tiba-tiba dikeluarkan lagi saat mendengar suara sapaan itu. Tubuhnya menoleh kearah sosok tersebut. Sosok kecil yang dirindukannya kini berpindah ke pangkuannya.
"Ate Na, Ca kangen." Suara manja Shasa pada Ina.
"Ante juga kangen sama...".
"Sama ayah..." Sahut Alam.
Ina tidak memperdulikan sahutan Alam. Dia sudah berjanji pada seluruh keluarganya untuk tidak berurusan dengan lelaki itu. Gadis itu membawa Shasa ikut menyusul ke Gilang.
Alam terdiam saat melihat kebersama Ina dan Gilang. Helaan nafas panjang terdengar kembali dari bibir lelaki itu. Dengan berat dia menyusul Ina guna merebut sang anak dari pangkuan rivalnya.
Grace menawarkan Alam untuk semobil. Gilang menggandeng tangan Ina sambil menggendong Shasa. Lagi-lagi tatapan jengah terlihat di netra lelaki itu. Dengan cepat dia mengambil Shasa.
"Shasa biar sama saya saja." Alam mengambil Shasa dari gendongan Gilang.
Grace berbisik ke arah anak angkatnya "Bagus, Nak. Selangkah lebih maju." Gilang tersenyum menang mendengar dukungan dari ibu angkatnya.
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
Bersambung
__ADS_1