
Di Kediaman Gunawan
Pukul 18:30
Selamat ulang tahun kami ucapkan
Selamat panjang umur kita kan doakan
Selamat sejahtera dan bahagia
Riuh suara-suara menyanyikan lagu ulang tahun. Beberapa anak anak ikut bernyanyi. Mendoakan si pemilik umur agar diberikan berkah sepanjang hidupnya.
Tepat satu tahun usia Shasa. Gadis kecil yang lahir dengan perjuangan hidup dan mati. Gadis kecil yang pertama kali melihat dunia tanpa belaian seorang ibu.
Tepat satu tahun kepergian Gita. Semua yang ada diruangan tampak sibuk mendekati Shasa. Kecuali Alam, dia justru duduk termenung di teras rumah mertuanya. Ingatannya berputar tentang beberapa kebahagian menjelang lahirnya sang putri. Namun berubah menjadi duka karena kepergian Gita.
Sudah satu tahun, Gita.
Sudah satu tahun kamu pergi meninggalkan aku dan Shasa.
Dalam selama satu tahun pula kamu banyak menyembunyikan rahasia.
Sekarang aku yakin kamu tidak pernah percaya padaku.
Hari ini ulang tahun putri kita yang pertama.
Hidupnya dilimpahkan kebahagiaan yang tak terkira. Seharusnya kita bersama berdiri menuntun Shasa meniup lilin.
Gita andai kamu hadir walaupun tak berwujud.
Andai kamu tahu aku sangat merindukanmu.
Alam menutup pandangan berharap meresapi kehadiran Gita. Tapi sepertinya percuma karena dia yakin Gita hanya memantau dari langit.
__ADS_1
Pelan-pelan dia membuka mata. Tampak seseorang menyerupai mendiang istrinya berdiri dihadapannya. Alam mencoba menyakinkan siapa didepannya.
"Yang." Sahut sosok itu.
"Ini benar kamu, yang?" Sosok itu mengangguk.
"Aku bahkan bisa memegang tanganmu." ucapnya riang.
Alam langsung memeluk sosok itu dengan erat. Rindu yang sudah lama dipendamnya langsung diluapkannya. Tangisan demi tangisan terdengar dari bibir lelaki itu.
Tak lama sebuah cahaya keluar dari tubuh sosok itu. Tak pelak tubuh yang dipinjam Gita langsung pingsan.
"Gita bangun! Yang, bangun!" Pekik Alam.
"Ada apa, Lam?" Yulia langsung datang mendengar suara menantunya.
"Gita datang, ma. Dia datang melihat ulang tahun Shasa." ucapnya berbinar.
"Itu, Ina bukan Gita. Coba kamu perhatikan baik-baik."
"Mama tahu, kamu merindukan Gita. apalagi ini tepat satu tahun meninggalnya Gita. Kamu harus rajin mendoakan Gita, Lam. Mungkin ketika kamu merasa melihat Gita itu tandanya kamu tetap harus setia padanya."
Alam paham arah ucapan mama mertuanya. Helaan nafas terdengar pelan. Hanya sekedar mengiyakan ucapan Yulia sudah cukup daripada terpancing debat.
Sejak kehadiran Ina, Yulia terus mewanti dirinya agar tidak menyukai adiknya. Alam pun menyanggupi meskipun bertentangan dengan kata hatinya. Dia pun berusaha menghormati kedua nya sebagai mama dan tante mertua.
Salahkah Perasaanku ini?
Alam menggendong Ina yang sudah pingsan karena kemasukan arwah Gita. Entah itu kemasukan atau mungkin halusinasi Alam saja. Tidak ada yang tahu, tapi yang pasti Alam yakin yang dilihat memang Gita.
Didepan tangga menuju kamar Ina, Reza datang mengambil paksa tubuh Ina. Alam hanya menatap punggung Reza yang mulai menaiki tangga ditemani Yulia. Lelaki itu memilih berbalik dan berkumpul bersama keluarga yang lain.
Angel dan Raga datang ke pesta ulang tahun Shasa. Raga membawa Asih, istri ketiganya. Tak ada yang memperdulikan kehadiran keluarga Raga Budiman. Bobby Spencer pun menganggap keluarga itu tak tahu malu.
"Kenapa mereka masih berani nunjukin muka? padahal mereka sudah ditolak. Apa Alam yang mengundang mereka?"
__ADS_1
"Malam pak besan, apa kabar?" Raga datang menyapa Bobby Spencer.
"Alhamdulilah baik. Oh ya saya mau bertemu dengan besan saya. Silahkan cicipi hidangan yang tersedia." Pamit Bobby yang enggan meladeni Raga Budiman.
Tiba saat pemotongan kue, Alam menggendong Shasa sambil memotong kue ulang tahun. Namun Shasa tiba-tiba menangis, Alam pun kewalahan karena tidak tahu kemauan putrinya.
"Yayaaaaaha... auuuu ama Inaaaaaa ... aca aaaauuu ama Inaaaaa..."
Alam berusaha mengalihkan sang anak dengan melihat balon. Bibir Shasa masih melengkung seperti payung. Akhirnya Alam mengajak Shasa menuju kamar Ina. Tapi dicegat Yulia dengan alasan Ina butuh istirahat. Yulia pun merampas Shasa dari gendongan Alam. Oma dan cucu tersebut melenggang kearah kamar Ina.
Ini ulang tahun Anakku, tapi kenapa aku seperti tamu disini.
Sabar, Lam. Bukankah dari dulu sikap mereka begitu padamu.
*
*
*
*
Segitu dulu ya.
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
Bersambung
__ADS_1