
Pagi ini udara yang sangat dingin sangat menusuk kalbu. Langit pun tak menyembulkan sinarnya. Sebuah langkah kecil terdengar pada sebuah kamar. Selimutpun ikut berjalan menutupi tubuh mungilnya. Sang pemilik selimut pun mendaratkan bokongnya di sebuah kursi di meja makan.
Sudah hampir satu bulan Ina berada di jepang. Berharap bisa menikmati indahnya kota Tokyo, tapi ternyata di Jepang sedang musim dingin. Tentu saja aktivitas kota terhenti karena salju sudah menutupi kota bunga sakura tersebut.
Pagi yang dingin, langit masih terlihat mendung. Tak ada sinar matahari, atau cicitan burung di pagi hari, tak ada suara ayam berkokok. Ayam berkokok? di kira ini jakarta kali,ya.
Desember ini aku sudah berada dijepang. Kupikir setelah sampai akan melihat suasana pagi yang indah ditemani secangkir kopi. Desember ini dimana aku memulai semuanya dengan lembaran baru. Melupakan semua cerita yang pernah ada. Desember ini aku akan fokus pada masa depanku, walaupun aku merindukan suasana di indonesia, merindukan canda tawa teman-temanku, merindukan .... Ah, tidak Ina Lupakan dia. Ini sudah saat kamu move on, bukankah kamu yang menginginkan semua ini. Tentu saja harus ada yang dikorbankan yaitu perasaan cinta.
Aku tahu yang kulakukan salah. Tapi ini hidupku, masa depanku. Jadi wajar kalau aku mengorbankan sesuatu yaitu cinta. Lam, jika sejak awal kamu tidak melarangku pergi ke Jepang mungkin kita tidak akan berakhir seperti ini. Seandainya kamu tidak mengumumkan semuanya didepan kakakku, mungkin aku tidak akan mengambil cara ini. Kamu harusnya mendukungku, bukan membuat runyam semua. Ah, percuma juga aku menjelaskan ini sama Alam. Dia tidak akan pernah mengerti dengan apa yang aku mau.
Ting ...
Tenaganya yang masih setengah hidup membuka layar gawai.
💌 Rangga
Na, buka pintu dong, sayang.
Ina langsung beringsut ke depan pintu. Masih ditutupi selimut, gadis itu membuka pintu dan menyambut sang kakak.
"Astaga kamu belum siap juga"
"Hmmmm..." Jawabnya setengah malas.
Rangga masuk membawa semua keperluan sarapan Ina. Sejak Yulia pergi ke Osaka, Ranggalah yang mengurusi keperluan perut Ina. Dari makan pagi sampai makan malam. Ranggapun rela masak khusus buat adiknya.
__ADS_1
Ploooook
Suara Ina yang menghamburkan tubuhnya di lantai ruang tamu. Rangga melihat sang adik kembali ke dunia mimpi hanya tersenyum. Sambil meracik susu jahe untuk Ina, Rangga pun menghidupkan mesin uap agar Ina tak kedinginan.
"Hey, putri tidur! Bangun! Isi perutmu dulu." Rangga membangunkan Ina. Tapi tetap saja gadis itu tak bergeming.
"Apa perlu pangeran berkuda putih mencium tuan putri agar bangun!" Tak lama Ina terbangun saat mendengar ucapan Rangga. Wajah terlihat kesal saat mendengar Rangga mau menciumnya.
Bukan masalah apa, pasalnya saat Ina tahu siapa yang memberi nafas buatan membuatnya sedikit trauma. Beberapa hari yang lalu saat Ina tertidur di kantornya Rangga, Dia hampir dicium oleh sang kakak. Alasannya satu "Biasanya pangeran berkuda putih akan mencium putri tidur agar sang putri bangun."
Rangga tertawa melihat ekpresi gadis didepannya. Dia tahu Ina tidak akan mau dibuat seperti.
"Sepertinya kamu sangat menjaga bibirmu, Na. Apa untuk dia? Tapi bukannya aku sudah terlebih dahulu saat dirumah pohon." Ina tak memperdulikan ocehan kakaknya. Matanya mengintip menu yang dimasak sang kakak.
"Jahe merah untuk apa, kak?" Ina mengalihkan pembicaraan.
"Bikinkan juga untuk Rio." Pesannya. Rangga mengangguk lalu fokus meracik susu jahe. Ina memperhatikan dengan seksama cara Rangga membuat susu Jahe. Tangannya berpindah ke kantong semen yang dibawa sang kakak.
"Waaah, disini ada indomie juga?" Seru Ina mendapati mie instan khas indonesia.
"Iya, ada. Susu jahe sudah siap" Rangga memberikan susu Jahe buatannya kepada Ina. Ina menghirup wangi jahe pada minuman tersebut.
"Enak, kak." Jawabnya riang. Ina hanya mengangguk sembari menyeruput susu jahe yang masih terasa panas di lidah.
Rangga tersenyum mengacak rambut adiknya. Lalu membereskan bekas masaknya di dapur. Tak lama dapur pun bersih.
__ADS_1
"Sekarang kamu siap-siap."
"Mau kemana, kak? Diluar dingin banget."
"Kita mau cari gaun. Kamu lupa kalau kakak akan mengajakmu ke undangan Tuan Okada." Ucap Rangga mengingatkan.
"Ah, iya. Kakak saja yang cari gaun. Aku malas keluar rumah. Apapun pilihan kakak aku ikut saja. Mana susu jahe untuk Rio."
"Itu." Rangga menunjuk susu yang masih dalam cerek kaca.
Ina menghabiskan susunya. Lalu membawa susu untuk keponakannya. Keponakan? Iya, Rio adalah sepupu Gita pihak Oma-nya dengan kata lain sepupu pihak ibu tirinya.
Ting tong..
Suara bel berbunyi didalam kediaman Rio. Sekali lagi Ina memencetnya tapi tak ada sahutan "Mungkin masih tidur." Ina meninggalkan kamar Rio. Tapi tak lama Rio membuka pintunya. Ina langsung menyelenong masuk kedalam meletakkan susu di gelas kecil.
"Rio!" Panggilnya.
Deg! Langkah kakinya terpaku. Entah kenapa jantungnya berdetak kencang. Ina memutar tubuhnya mencari tahu apa yang membuat darah terus berdesir.
Jantungnya berdetak kencang. Ina melihat kue donat di meja, lalu melahapnya.
Kenapa aku merasakan dia ada? Wake up, Na! Wake up! Itu hanya halusinasimu saja.
"Rio, ada sabun tidak!" Sebuah suara yang membuat aktivitasnya terhenti.
__ADS_1
Ina membalikkan tubuhnya. Mata mengerjap saat tahu siapa yang ada didepannya. Jantungnya semakin berdebar kencang, tangan Ina gemetar.
Praaaaanggg!