Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
38. Kedatangan Narsih


__ADS_3

"Na"


Terdengar suara bariton tengah memandangnya didepan kamar. Suara yang mulai dilupakannya sejak kejadian di villa. Suara yang sebenarnya sangat dia rindu.


"****~ perasaan apa ini." Ina mencoba menjaga jarak pada pria dihadapannya.


Tubuhnya bergeser dari jarak yang jauh.


Buat apa? Buat menghindari kalau ada yang berdetak dan itu bukan penyakitnya. Ina memilih berdiri menuju kamar mandinya. Tapi tubuhnya tertahan, balungan tangan menyekap tubuhnya.


"Maafkan kakak, Na. Kakak tidak ada saat masa seperti ini. Kakak tadi awalnya hanya mengajak kamu jalan. Tapi saat sampai, ternyata tante Kania baru saja dimakamkan. Kakak tahu kamu sedang berduka saat ini. Kakak akan menginap disini menjaga kamu seperti biasanya."


"Nggak perlu, kak. Laras juga akan menginap disini, lagian ada pak Budi dan Bi Narsih. Kalau kakak mau layatan nggak papa, tapi kalau menginap disini. Maaf, kak aku tidak mau jadi omongan warga. Kita ini bukan sekandung, bukan muhrim. Paham!"


Ina melepas tangan Rangga. Dia tak mau kalau rangga tahu debaran kencangnya. Tapi apa dikata, tubuhnya tidak bisa bergerak ataupun menghindar.


"Nggak papa, kak. Ina paham kok." Gadis itu meninggalkan Rangga yang masih mematung didepan pintu kamar mandi. Wajahnya menyembul kembali melihat sang kakak masih tak bergeming.


"Kaaaaaak"


"Eh, iya." Lelaki itu tergagap saat Ina keluar sambil mengenakan handuk.


Kakinya melangkah mendekati sang adik yang hanya berbalut handuk. Saliva terus tertelan, Ina menatap Rangga dengan raut wajah bingung. Tangan Rangga menahan tubuh Ina dengan kuat, tatapan kuat keduanya. Debaran jantung yang semakin kencang membuat keduanya terlarut dalam jebakan rasa.Tangan Rangga langsung memegang wajah Ina yang memerah. Tanpa intruksi keduanya pagutan yang membuai.


"Kaaaaak"


Rangga terkejut. Rupanya adegan itu hanya khayalan semata.


"Eh, iya, na."


Ina masih berdiri didepan Rangga menggunakan pakaian lengkap. Bukan tubuh berbalut handuk seperti dalam khayalan tadi.


"Kakak, keluar, gih. Aku mau mandi." Usir Ina.


"Eh..Iya...itu...." Tubuh Rangga didorong Ina sampai keluar dari kamar.


Braaaaakkk!


Ina menutup pintu sangat kencang. Tubuhnya dihempas keatas kasur. Pikirannya terus menerka-nerka dengan kejadian barusan. Kalau sebenarnya memang Rangga mencoba menciumnya.

__ADS_1


Ina, sadar! Dia kakakmu! kayak nggak ada laki-laki lain.


klik


Siang ini Narsih berdiri didepan pagar besi yang menjulang tinggi. Pandangannya mengedarkan keseluruh titik sudut rumah.


Tidak ada yang berubah dirumah ini. Bisik Narsih dalam hati.


Ya, Narsih dulu bekerja pada Gunawan 30 tahun yang lalu. Menjadi pembantu dikediaman tersebut saat masih berusia 16 tahun. Dimana dirinya dengan usia lebih muda menjadi asisten andalan Yulia yang saat itu sudah menikah tapi belum dikarunia momongan. Narsih ingat bagaimana sedihnya Yulia setelah 3 tahun menikah tapi tak kunjung hamil. Tak lama setelah penantian 5 tahun pernikahan, Gita lahir. Semua yang ada dirumah itu menyambut kelahiran si kecil dengan sukacita. Gita pun tumbuh sebagai gadis kecil yang dimanja keluarga besar.


"Maaf, pak Bu Lia nya ada?" Tanya Narsih pada satpam penjaga rumah tersebut.


"Ada janji nggak, Bu. kalau nggak ada buat janji dulu baru kesini." Ucap pak satpam.


"Ada pak, makanya saya kesini." Kilah Narsih yang mencoba berbohong. Kalau tidak, dirinya tak bisa menemui Yulia. Semua itu dilakukannya demi Karina, anak majikan yang disayanginya.


Narsih melangkah masuk ke dalam rumah. Rumah yang dulu ditinggalkannya karena diamanatkan Gunawan menemani Kania yang sudah melahirkan.


Karena saat itu Gunawan sudah menceraikan Kania.


Narsih Ingat, kalau saat baru sudah melahirkan Kania begitu sayang pada Ina. Hingga kata talak itu datang dari pengacara Gunawan. Membuat Kania sangat membenci Ina, dimana dia membutuhkan perhatian suami tetapi malah diceraikannya.


Baby blues itu yang Narsih dengar dari dokter yang menangani Kania. Sekitar satu tahun Kania mengikuti terapi tersebut. Walaupun sudah sembuh Kania tetap tidak peduli pada Ina.


Helaan nafas panjang keluar dari wanita single berusia 46 tahun tersebut. Dia melangkah memasuki kediaman Gunawan. Matanya tertuju pada Photo yang berjejer di dinding rumah.


Jadi ini photo non Gita. Sangat mirip dengan non Ina. Ya Allah gen pak Gunawan sangat kuat dalam diri Ina.


Seorang wanita sepantaran dirinya datang.


"Ada yang bisa dibantu, bu?" Tanya Bi Suti.


"Bu Lia nya ada?"


"Oh, ada didalam. Saya antarkan ke Bu Lia." Tawar Bi Suti.


"Bu, ada yang mencari." Sahut bibi yang bekerja pada mereka.


"Siapa?"

__ADS_1


"Saya, bu ... Narsih ..."


Yulia meminta Bi Suti mempersiapkan jamuan buat Narsih , wanita yang dulunya pengasuh Gita. Yulia masih memperlakukan Narsih dengan Ramah.


"Silahkan duduk, Narsih."


Yulia mempersilahkan Narsis duduk dikursi ruang tengah. Sementara Dul lebih memilih mengecek keadaan cucunya. Sengaja dia begitu agar Yulia dan Narsih lebih leluasa mengobrol antar wanita.


"Saya kesini bermaksud membicarakan hak asuh Ina, bu. Maaf saya tahu kedatangan saya lancang, tapi saya tidak tega meninggalkan non Ina, tanpa ada yang saya percayakan untuk mendampinginya.


Saya paham kalau Non Lia tidak pernah bisa menerima Bu Kania sejak dulu sampai sekarang. Tapi tolong jangan lakukan itu pada non Ina. Dia bukan seperti mamanya. Non Lia orang baik, itu yang membuat saya percaya menitipkan Ina pada Keluarga ini."


Yulia hanya terdiam meresapi ucapan Narsih. Hatinya sangat menyayangi Ina, tapi rasa kecewa masih terasa saat tahu identitas Ina. Ina adalah anak perempuan yang meninggalkan papanya.


"Non Lia, sejak kecil Ina sudah menderita. Tahukah non kalau Kania tidak pernah meninggalkan Bapak. Justru bapaklah yang meninggalkan Kania. Bapak mau anak laki-laki tapi ternyata malah lahir anak perempuan. Ibu Kania syok sampai mengalami depresi Baby Blues, sampai mencoba menghilang nyawa Ina saat itu."


"BOHONG! Aku tahu papaku. Dia tidak mungkin seperti itu!"


"Tapi faktanya memang begitu,bu. Saya saksi mata perjalanan pahit Kania dan Ina. Bukan berdasarkan cerita orang, tapi saya melihatnya sendiri. Saya permisi. Saya harap ibu memiliki hati nurani menerima Ina. Sebab saya dan Budi akan menikah juga menetap di kampung."


Narsih pergi meninggalkan Yulia yang masih terdiam. Ingatannya melayang saat Ina mengalami depresi, dimana menurut Ina dirinya tak pernah disayang mamanya.


"Narsih, tunggu!" Yulia mengejar Narsih yang hampir keluar pagar.


"Iya, Non."


"Saya minta setelah menikah kamu dan Budi tetap tinggal dengan Ina. Soal gaji biar saya yang tanggung.Ina masih butuh kalian, saya mohon19) jangan tinggalkan Ina." Mohon Yulia.


Narsih menggeleng, baginya tugasnya sebagai pengasuh Ina sudah selesai. Dia ingin menjalani kehidupan rumah tangga yang harmonis dikampung. Maka itu dia meminta Yulia mengambil hak asuh Ina, karena Yulia dan Ina adalah satu ayah.


"Baiklah. Kamu tunggu disini. Aku mau siap-siap.Kita jemput Ina."


"Bi Suti!" Panggil Yulia


"Iya,bu."


"Bersihkan kamar Gita yang diatas. Karena akan ada yang nemempatinya."


"Baik, Bu."

__ADS_1


__ADS_2