Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
111. Setitik Rindu


__ADS_3

Tokyo, 18 Desember 2021


"Shasa!"


Ina terpekik dalam pejaman mata. Nafasnya terputus-putus ketika melihat disekelilingnya. Saat ini dirinya tinggal di sebuah apartemen dipusat kota Tokyo. Tubuhnya bangkit menuju ruang tengah. Disana terdapat kulkas kecil. Tangannya meraih gagang kulkas lalu menenggak air mineral dingin. Ina teringat mimpinya, didalam mimpi tersebut Shasa terus menangis seperti kesakitan.


"Ya Allah berilah kesehatan buat Shasa. Jangan kau limpahkan penderitaan kepadanya." Doa Ina dalam hati.


Malam terasa dingin, Ina tak bisa tidur. Tangannya meraih laptop untuk menggambar anime. Tangannya dengan lincah membuat gambar seorang lelaki. Hingga Ina tersadar siapa lelaki yang ada di gambarnya.


"Kenapa aku harus gambarin dia?" Ucap Ina sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


"Auh ah, gelap!" Ina menghapus gambarnya lalu kembali fokus dengan menggambar yang lain.


Tak lama Ina merasakan matanya mulai kembali mengantuk. Tubuh mungilnya tertidur di meja belajarnya, tampak goresannya menggambar sosok lelaki yang sama.


Kriiiiiing!


Ina tersentak saat mendengar Alarm kamarnya. Dengan cepat menghapus liurnya yang membasahi sudut bibirnya. Matanya membelalak ketika melihat jam sudah menunjukan pukul 08:00.


"Astaga kenapa tidak ada yang bangunin sih!" Pekiknya panik.


Ina berlari menuju ruang tengah. Sepi! itulah yang dirasakannya. Ina memanggil kedua kakaknya tapi tidak ada sahutan. Lalu rebahkan diri di sofa.


"Na, kalau mau apa-apa hubungi Rio ya. Kakak sekarang di Osaka ada urusan." Ina membaca selembaran yang tertempel di pintu kulkas.


Setelah mandi, Ina memilih duduk didepan tv. Satu minggu berada di Jepang membuatnya masih harus beradaptasi. Suhu dingin yang menyelimuti kota Tokyo membuatnya malas kemana-mana.



Dari lantai atas Ina memandang jalanan yang diselimuti oleh salju. Sembari memandang handphone seakan ada yang ingin dihubunginya. Seketika dia sadar kalau sejak berangkat ke Jepang, dia sudah mengganti nomor ponselnya. Mengganti akun sosmednya semua itu dia lakukan karena permintaan sang kakak.


"Kenapa sejak aku disini rasanya ada yang hampa? Ah, tidak Ina kamu sudah janji akan melupakan dia. Ingat Ina masa depanmu lebih penting daripada kisah percintaan."

__ADS_1


Secanting coklat hangat yang dia pikir bisa mengobati perasaan galaunya. Tapi ternyata tidak membantu sama sekali. Ina tak bisa membohongi dirinya sendiri ada kerinduan yang ingin dia luapkan. Tubuhnya menyandar di sudut kaca yang menghubung dunia luar.


Ting...


Ina membuka ponselnya lalu membaca sebuah pesan.


"Jika udara dingin bisa membuatmu tersenyum maka tersenyumlah. Kamu tahu, Na. Salju itu melambangkan rasa rindu yang membelenggu di dada.


"Kak Rangga jangan ngegombal deh. Katanya mau ke jepang"


"Makanya turun! jangan dirumah saja. Kapan terakhir kita main salju?"


Ina mengingat-ingat, terakhir ke Jepang saat mengantarkan Rangga yang akan kuliah. Saat itu, usia Ina masih sembilan tahun. Masih lengkap dengan mamanya, papa Aryo, tante Raya dan Om Donal yang ikut ke Jepang.


"Halllooo..."


"Ja...jadi ... kakak sekarang .." Ina langsung turun dari apartemen menuju keluar. Menghirup udara salju yang sangat menusuk tulang.


"Kakak dimana?" Ina masih mencari sang kakak.


"Halo, Nona Ina." Terdengar suara dari arah boneka salju yang hampir seukuran dirinya.


"Halo boneka salju." Sapa Ina mencabut ranting yang menjadi hidung sang boneka.


Puuuuuk!


Ina melempar bola salju kecil ke belakang boneka. Dia bisa menebak kalau Rangga ada disana. Tapi sayangnya tebakannya meleset. Tubuhnya terpaku saat ada tangan yang melingkar di pinggangnya. Pelan-pelan dia melepas lingkaran tangan itu. Tapi si pemilik tak menyerah, bahkan semakin erat.


"Kamu dingin kan, Na. Aku akan menghangatkan tubuhmu dan hatimu." Bisik Rangga.


"Maaf, kak." Ina terpaksa melepas dengan kasar.


"Apa kamu masih memikirkan Alam? Dia bahkan tidak datang saat kamu mau berangkat. Kakakmu juga tidak setuju dengan hubungan kalian. Ingat dia menantu kakakmu!"

__ADS_1


"Lalu apa bedanya dengan kita! Sama saja, tante Raya juga tidak setuju kan dengan kita. Itu karena kita ini saudara kak! saudara!" Pekik Ina menjauhi Rangga.


"Selama ini aku masih bersikap baik pada kakak karena hubungan saudara kita. Oke dulu aku mencintai kakak, tapi sekarang perasaanku pada kakak sebagai rasa sayang seorang adik tidak lebih. Jadi aku mohon jangan rusak tali persaudaraan kita, please." Mohon Ina.


Rangga menggenggam erat tangan Ina. Saat ini dia masih mencoba mengalah pada gadis itu. Tapi dalam hatinya dia berjanji tetap akan memperjuangkan cinta yang tumbuh selama bertahun-tahun.


"Maaf kalau kakak membuat kamu kecewa."


"Aku mau pulang!" Ina mendahului langkahnya menuju apartemen mereka. Rangga berjalan mengikuti langkah Ina. Sepanjang perjalanan mereka saling diam.


Klik


Jakarta, 18 Desember 2021


Disebuah ruang keluarga, tampak seorang lelaki yang masih berkutat pada pekerjaannya. Segelas teh hangat dan cemilan tak membuat lelaki itu bergeming. Beberapa arsip yang diperiksanya membuat keningnya berkerut.


Beberapa hari ini dia mendengar kalau salah satu hotel yang akan mereka rekrut sudah berpindah tangan. Apalagi kalau yang memegang hotel itu adalah Damar Pratama, saingan bisnis perusahaan mereka. Sempat tersiar kalau Damar mengirimkan orang untuk menyusup ke perusahaannya. Setelah diselidiki ternyata tidak terbukti. Lelaki itu memencet nomor dibenda pipih tersebut.


"Halo, Lena. Kamu bisa datang kerumah saya?"


"Oke saya tunggu."


Lelaki itu adalah Alam. Sejak seminggu kepergian Ina dia lebih menyibukkan dengan setumpuk pekerjaan. Marni sampai menggeleng melihat putranya yang mulai workholik.


"Pa" Ucap Marni saat menemui suaminya yang istirahat di kamar.


"Iya."


"Kita ajak Alam dan Shasa liburan yuk.Kasihan mama lihat Alam."


"Kebetulan, ma. Bulan depan papa dapat undangan dari Jepang untuk pembukaan hotel relasi papa."


"Terus?"

__ADS_1


"Kita kirim Alam kesana. Kerja sekaligus liburan. Gimana?"


"Mama setuju."


__ADS_2