Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
100.Cemburu


__ADS_3

Sejak Malam itu, Alam dan Ina tak pernah lagi bertemu. Layaknya orang asing mereka memilih menyibukkan diri. Ina mulai fokus dengan persiapannya berangkat ke Jepang bulan depan. Begitu juga Alam yang memilih meleburkan diri dalam pekerjaan.


Marni sampai kewalahan melihat putranya terlalu tenggelam dalam pekerjaan. Apalagi Alam sering mengirim Alena hanya untuk menjaga Shasa. Padahal Shasa terbiasa bersama Ina.


"Kenapa nggak minta Ina saja, Lam?"


"Nggak usah! Dia sibuk!" jawab Alam.


"Sibuk, Apa?" Tanya Marni.


"Bu, mulai sekarang nggak usah bahas Ina lagi,ya."


"Tapi, Lam?"


"Alam berangkat dulu, ya, bu." Alam pamit menyalami ibunya lalu mengecup kening putrinya yang masih terlelap.


Sementara itu, Ina mulai disibukkan dengan persiapan kuliah. Dari mengurus visa pindahan sampai pasport. Yulia senang melihat Ina mulai fokus dengan rencana kuliahnya.


"Na, Kita berangkat dua minggu lagi, ya."


"Haaaah! Bukannya bulan depan, kak."


"Kan kita juga harus mempersiapkan tempat tinggal kamu disana."


"Tapi, kak ... Ya sudahlah." Sungut Ina.


...*****...


Dua hari kemudian


Siang ini kota Jakarta sangat terik. Saking teriknya cahaya matahari yang kuning keemasan seolah menembus atap rumah, gedung dan beberapa kendaraan yang berjejer dijalanan.


Suasana di Pantai Ancol kali ini begitu ramai. Cahaya matahari yang tercermin dari riak gelombang membuat siapapun yang ada disana merasa damai.


Tampak seorang gadis kecil yang asyik bermain pasir. Beberapa orang anak juga masih menggeluti aktivitas yang sama. Semalam keluarganya diundang dalam acara aqiqah twins D. Acara yang dihadiri empat keluarga yaitu keluarga Adolf, Keluarga Wijaya, Keluarga Spencer dan Keluarga Gunawan.


Ina awalnya malas datang ke acara itu. Karena baginya itu sudah termasuk buang-buang duit. Menurutnya, daripada pake pesta besar-besaran mending uangnya dipakai untuk yang lebih bermanfaat.


Di sepanjang pantai tampak beberapa muda-mudi bercengkerama mesra. Rata-rata mereka berjalan menggenggam tangan, memperlihatkan bahwa mereka sedang dimana memadu kasih, apalagi ini adalah hari minggu.


Suasana tengah hari dipantai Ancol seperti dimanfaatkan oleh para muda-mudi untuk jalan-jalan. Mereka yang dimabuk asmara menjadikan pantai sebagai pelepas rindu. Setelah disibukkan dengan rutinitas harian.


Siang ini pantai Marina, Ancol tampak terasa terik. Pandangannya beralih pada gadis kecil yang asyik dengan dunianya. Ina mendekati Shasa untuk ikut bermain, membantu untuk mengaduk pasir. Tapi sepertinya Shasa tidak suka di ganggu, gadis kecil berusia satu tahun tersebut memindahkan tangan Ina. Reaksi itu sebagai kode kalau tak ingin di ganggu.


"ae ina ak oeh agu inan aca (tante Ina gak boleh ganggu mainan aca)

__ADS_1


"Tante suntuk, sha. Masa nggak boleh maen?"


"ak oeh" Shasa mengekpresikan amarahnya pada Ina.


Tapi Ina sama sekali tidak merasa takut dengan ekpresi Shasa. Malahan dia tertawa lepas karena ekpresi itu kelucuan baginya.


Ina menatap eskrim berbentuk kerucut yang bergantung pada sebuah tangan dihadapannya. Sambil membuka pelampisnya, Ina mengucapkan terimakasih.


"Makasih, Lena." Ina menyunggingkan senyuman pada gadis disampingnya. Tangan Alena melipat diatas lutut paha kecilnya. Pandangan Lena berputar pada gadis disampingnya. Bibirnya tersenyum kecil.


"Kamu benar-benar mirip sama Bu Gita." Umpatnya dalam hati.


Alena kembali memalingkan wajahnya kearah deburan ombak. Menghirup nafas dalam-dalam seakan mengumpulkan keberanian.


"Na"


"Iya" Ina menoleh gadis disampingnya. Rambut Alena yang sebahu menari-nari karena hembusan angin.


"Aku boleh nanya?"


"Boleh"


"Kamu dan pak Ronal ada hubungan apa?"


"Dia itu menantu kakakku."


Ina menggeleng "Tidak ada." Ina merapatkan tubuhnya pada lutut kakinya.


"Berarti, boleh dong kalau aku dekati pak Ronal?"


Ina mengangguk "Lagian aku nggak ada hak untuk melarang dia dekat dengan siapapun. Itu privasi."


Ina membalikkan melihat Shasa sudah tidak ada ditempat. Sontak, Ina panik karena merasa teledor.


"Lena... sha..sa...mana?" pekik Ina.


"Loh, tadi bukannya disini?" Lena ikut panik saat gadis kecil berusia satu tahun tersebut tak terlihat lagi.


"Shasa hilang! Shasa hilang! Lena kabari Alam kalau anaknya hilang!" Titah Ina.


Lena baru saja hendak menghubungi Alam, netranya terhubung pada seorang lelaki yang menggendong anak kecil.


"Ah, jadi Shasa sama ayahnya. Huft, syukurlah kalau begitu.


Ah, apa pak Ronal dengar, ya obrolanku sama Ina.

__ADS_1


Aaaarggh! Aku jadi malu." gumam Alena dalam hati.


"Gimana, Lena? Sudah ketemu?" Alena mengangguk lalu menunjuk pemandangan didepannya. Ina lega kalau Shasa sudah sama ayahnya.


"Na, aku kesana dulu, ya. Berbaur sama Shasa." Pamit Alena.


"Makasih, Na. Sudah iklaskan pak Ronal buat aku. Aku tahu kok, kalau kamu sudah menolak pak Ronal dua kali. Jadi kesempatanku untuk membuat pak Ronal berpaling." Gumam Alena dalam hati.


Alena berjalan menuju ke arah Alam yang masih asyik berceloteh bersama Shasa. Sayangnya kehadiran Alena tidak di tanggapi oleh Alam.


Ina hanya mengangguk. Sebuah pemandangan layaknya keluarga lengkap, Ina lama menatap mereka. Mencoba menahan gejolak yang kembali timbul. Helaan nafas berat terdengar pelan. Ina memutar tubuhnya meninggalkan pemandangan yang membuatnya sesak.


Apakah ini rasanya cemburu?


Ah tidak Ina, ini karena kamu masih jomblo.


Siapapun yang melihat pasangan bahagia, pasti akan berpikiran sama denganku.


Alena itu wanita yang baik.


Aku yakin dia bisa membuat Alam bahagia.


Ina terus berjalan menuju salah satu batu pantai lalu menyandarkan tubuhnya.


Dari kejauhan Alam memperhatikan gerak-gerik Ina. Langkahnya terhenti saat melihat Rangga datang mendekati Ina.


Alam tersenyum melihat senyum terpancar diwajah Ina. Ada kelegaan tersendiri jika Ina bersatu dengan orang dicintai.


Setidaknya aku bisa mengembalikan kebahagiaanmu bersama Rangga.


Rangga menarik tangan Ina menuju ke pinggir pantai. Mereka berlari tertawa tanpa beban. Terlihat kilasan kenangan saat Ina masih kecil. Ina yang takut pada ombak diajarkan berani oleh Rangga.


"Kakak, aku takut." Ina kecil menyembul dibelakang tubuh Rangga.


"Ada kakak." Rangga membungkuk sejajar pada adiknya. "Na, apapun yang terjadi kakak akan selalu ada buat kamu." Wajah Ina berseri "Janji" Ina memasang jari kelingkingnya. "janji" Rangga pun memasang jari kelingkingnya untuk disatukan dengan jari Ina.


Terkadang tak selamanya cinta itu harus bersama.


Aku yakin suatu nanti ada secercah kebahagiaan yang akan datang padaku.


Kak Rangga kamu kakakku.


Dan selamanya kita tetap akan jadi saudara.


Ina dan Rangga saling melempar senyum. seakan saat ini kebahagian sudah mereka raih. Baginya sosok rangga bukanlah seorang kekasih tetapi sebagai seorang kakak.

__ADS_1


Beda dengan Rangga yang merasa akan memulai semuanya dari awal. Memulai cinta yang dari sempat terhempas. Rangga yakin dia akan mengejar restu bersama Ina.


__ADS_2