Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
79. Gara gara mimpi


__ADS_3

Pagi ini


Ina membuka matanya pelan-pelan. Silaunya cahaya matahari menyilaukan pandangannya. Dengan berat Ina membangkitkan tubuhnya kearah kamar mandi. Langkah kakinya dengan santai membenamkan diri ke dalam bak rendaman. Ina menikmati permainan sabun nan wangi, sesekali meniupkan gelembung-gelembung sabun.


"Bunda, anak kita nangis nih. Kok kamu lama banget sih mandinya."


"Bunda? nikah aja belum kok udah dipanggil bunda sih? Bentar! Ini kayaknya bukan kamar mandi aku deh? Terus itu kok kayak aku kenal suaranya. Tapi siapa ya yang panggil aku sebutan bunda."


Ina bangkit dari bed shower. Rasa penasarannya semakin menjadi tatkala mendengar suara bayi menangis.


Oooweeeeee oooòweeee


"Ada suara bayi menangis? Anak siapa, ya?"


Selesai membersihkan diri Ina melangkah keluar. Matanya membulat saat melihat seorang bayi ditinggalkan diatas ranjang. Ina menggendong bayi tersebut menenangkannya, tak lama si bayi pun tertidur.


Ina mengembalikan bayi tersebut kedalam ranjang. Matanya memutar mencoba mengenali ruangan tersebut, hasilnya nihil. Dia tetap merasa asing dengan tempat itu.


Ina tersentak sepasang tangan mengalung dipinggangnya. Aroma tubuh yang dia kenali. Ina memutar tubuhnya untuk tahu siapa lelaki itu.


"Kamu wangi banget, yang. Bikin aku makin cinta."


"Aaaa...laaam.. kamu ngapain disini?" Ina berjalan mundur tapi Alam malah makin dekat.


"Yang, kamu ini gimana sih? Kita ini suami istri, Lo."


"Suuuami istri? Jangan ngaco kamu, lam. Kita tidak mungkin menikah, nggak mungkin!"


Ina mengganti bajunya mencoba bajunya. Mencoba memahami apa yang terjadi. Matanya mulai berkaca, ketakutan demi ketakutan terus menyerang pikirannya.


"Yang.." Suara itu kembali menyapanya ditambah dengan lembutnya belaian yang membuatnya terpaku. Hentakan bibir yang dimainkan Alam membuat Ina pun mengikuti permainan lelaki itu.


Lagi dan lagi seakan menjadi kecanduan bagi keduanya. Alam mendorong tubuhnya keatas ranjang.


Bruuuuk!


Pukul 03.45


Ina mengerjap matanya yang terbuka lebar. Pandangannya terarah pada langit kamar sambil terengah-engah. Nafasnya mulai tak beraturan bagaikan dikejar setan.


Ina bersyukur karena itu hanyalah mimpi. Dia tidak bisa membayangkan kalau itu menjadi nyata. Sekarang saja bulu kuduknya merinding. Mimpi tadi menari-nari dalam pikirannya.


"Bagaimana mungkin aku nikah sama Alam? Kayak nggak ada laki-laki lain saja!"


"Amit-amit jabang bayi! Ngapain dia masuk dalam mimpiku! Hiiih, di mimpi aja dia omesnya minta ampun. Pasti aslinya begitu! Ngebayanginnya udah bikin eneg! Ngapain juga di bayangin? kesenengan dianya!"

__ADS_1


Ina teringat mimpinya tentang adegan kissing. Membuat bulu kuduknya merinding.


"Tenang, Na. itu cuma mimpi! ingat cuma mimpi! lagian kak Lia kan nggak suka sama Alam. Jadi nggak mungkin aku jadi sama dia."


Ina mencoba menenangkan pikirannya. Lalu berkonsentrasi agar melupakan mimpi tadi. Tapi nyatanya semakin dilupakan semakin menjadi. Ina bangkit dari ranjangnya menuju ke dapur. Dibukanya kulkas lalu meneguk satu botol air mineral dingin. Nafasnya masih belum teratur.


"Astagfirullah! Astagfirullah!" Ina berkali-kali menyebut istigfar.


"Please, Na. Itu cuma mimpi! Mimpi buruk! mimpi buruk."


"Makanya kalau mau tidur berdoa dulu."


Ina kaget saat suara itu ada dibelakangnya. Di telannya saliva, lelaki itu sekarang malah ada didepannya. Hanya memakai singlet putih dan celana pendek. Membentuk tubuhnya yang sedikit atletis. Kenapa sedikit atletis? karena tubuh Alam tidak berisi dan tidak kurus, otot tubuhnya tidak terlalu menonjol.


"Ka...kamu?Nga..ngapain disini?"


"Nganterin Shasa. Mama bilang dia rindu sama cucunya. Lagian Shasa kan masih hak asuh mama. jadi wajar dong pulang kesini." Ucap Alam sambil mengambil air mineral dibelakang Ina.


"Modus." ucap Ina ketus


"Apanya yang modus, sih? emang mama yang nyuruh, kok? emang aku mau modus sama siapa? sama kamu? hahahahahaa .... nggak mungkin aku modus sama omanya Shasa."


Ina berlari kembali ke kamar. Membuat lelaki itu bingung.


Selesai wudhu, Alam mengenakan koko. Sejak istrinya meninggal, Alam belajar rajin sholat. Dulu dia selalu bangun ketika akan sholat subuh saja. Tapi semenjak ada Shasa, Alam terbiasa bangun dinihari hanya untuk memberikan susu atau sekedar mengganti popoknya.


Terkadang sehabis menenangkan Shasa, sudah tidak bisa tidur lagi. Masa itulah dia manfaatkan untuk sholat malam. Mencoba mendekatkan diri pada yang kuasa.Tak lupa mendoakan sang istri agar terhindar dari siksaan kubur.


Selesai salat malam, Alam mengambil laptop untuk menyelesaikan tugas kantornya. Terdengar rengekan Shasa membuatnya menghentikan aktivitasnya. Tampak bayi usia 12 bulan tersebut menggeliat lalu membuka matanya. Senyum kecil serta tawa lucunya membuat Alam lupa pada permasalahan hidupnya. Alam membawa Shasa ke teras lalu menunjuk salah satu bintang yang berkelip.


"Nak, itu bunda datang. Kalau dia rindu sama Shasa, lampunya jadi kelap-kelip. Ayo dadah sama bunda." Alam menggoyang lima jari mungil pada salah satu bintang terang.


"Uu...da.." Shasa tiba-tiba mengeluarkan kosakatanya.


"Coba panggil lagi, nak?"


"Yaaayaaahh.. iu ... uuda ( ayah, itu bunda)" Alam memeluk gemes pada putri.


Pandangan Shasa sebenarnya bukan ke langit. Tapi di hadapannya dia melihat sosok tak kasat mata yang tersenyum padanya. Sosok kasat mata menatap sendu pada keduanya.


"Yaaaaayaaahh ...iu ... uuda ( Ayah itu bunda)" Shasa mengulangi ucapannya.


Adzan subuh berkumandang, pelan-pelan sosok kasat mata itu menghilang. Menyadari tubuhnya panas saat mendengar adzan. Gita pun mengecup pucuk rambut suaminya lalu menghilang. Alam tersentak seperti ada yang menyentuhnya.Tapi tidak ada siapapun.


"Yang, kamukah itu?" Ucapnya dalam hati.

__ADS_1


Dul sudah bersiap-siap mengikuti sholat subuh di mesjid. Matanya menghangat ketika melihat pemandangan di teras rumahnya.


"Lam?"


Alam menoleh kearah papa mertuanya.


"Iya, pa."


"Kita sholat subuh yuk di masjid simpang. Sekalian ada yang mau papa bicarakan."


"Shasa gimana, pa?"


"Biar Papa kasih ke mama. Kamu tunggu disini." Papa Dul mengambil Shasa dari gendongan Alam. Tak lama Dul sudah kembali dan mengajak menantunya pergi ke mesjid.


Beberapa saat setelah pulang sholat subuh, Alam dan Papa Dul mampir ke sebuah warung. Disana tersedia beberapa menu seperti gorengan, nasi uduk, ketoprak dan lontong. Pilihan mereka jatuh pada lontong ditemani teh hangat dan gorengan.


"Tadi, Papa bilang ada yang mau dibicarakan?" Alam mengingatkan janji papanya.


"Iya, Lam." Papa Dul menjeda pembicaraannya dengan menyeruput teh hangatnya.


"Ini soal Ina." Sambung papa.


"Iya, emang ada apa dengan Ina?" Alam masih belum paham dengan arah pembicaraan Dul.


"Lam, semalam Papamu datang ke kantor."


"Terus?"


"Papamu datang bermaksud melamarkan Ina buat kamu."


Alam tersedak. Dia kaget mendengar cerita papa mertuanya "Papa nggak bercanda, kan?"


Papa Dul menggeleng, jangankan Alam, dirinya juga kaget mendengar ucapan langsung dari Bobby.


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2