
Aman tokyo, jepang, 4 january 2022
18.00 p.m
"Nak. Besok kamu kembali ke Jakarta. Tadi Reza mengabari ada tembusan tender untuk kerjasama dengan perusahaan dari hongkong." Bobby datang ke kamar putra sulungnya.
Tampak Alam hanya terdiam tanpa merespon ucapan Bobby.
"Lam, papa tahu apa yang kamu rasakan. Tapi ada benarnya ucapan mama mertuamu. Ina masih muda, bahkan jarak usia kalian terpaut 10 tahun. Masa depannya masih panjang. Papa minta kamu berpikir lagi soal itu."
"Dia, pa. Ina adalah pemilik jantung Gita. Aku juga mencintainya jauh sebelum tahu soal ini. Apa salah jika kami saling mencintai?"
Bobby menghela nafas panjang. Selama ini dia berusaha untuk selalu mendukung semua keinginan Alam. Walaupun dia tahu Yulia menentang hubungan mereka. Sebagai besan Bobby pun ikut merasa sakit melihat putranya diperlakukan seperti. Tapi dia juga setuju ucapan Yulia. Usia Ina baru 20 tahun, sedangkan Alam 31 tahun. Perbedaan usia yang lumayan jauh akan menjadi bumerang bagi mereka.
"Pa, Alena mana?" Tanya Alam.
"Dia mengambil barang dia apartemen Rio. Kamu istirahat, papa sudah pesankan tiket untuk pulang nanti malam. Biar papa dan mama yang datang ke acara Tuan Okada. Kita tidak bisa meremehkan tender ini" Bobby masih berusaha membujuk putranya.
"Pa, aku ingin istirahat. Aku baru saja pulang dari rumah sakit dan papa malah memintaku pergi lagi. Aku capek, pa."
Bobby meninggalkan Alam sendirian di kamar. Sepeninggalan Bobby, Alam beberapa kali menghubungi Ina. Sayangnya tidak mengangkat telepon.
Ting!
Alam buru-buru membuka handphonenya. Membaca pesan yang dikirimkan Ina padanya.
Dear Alam
Terimakasih sudah mengisi hari-hariku selama aku mengenalmu. Bagiku, semua yang pernah terjadi diantara kita akan menjadi kenangan terindah yang aku simpan.
Saat ini kita tidak bisa mengedepankan ego. Setidaknya kita sudah mencoba meyakinkan mereka yang meragukan cinta kita.
Lam, aku mencintaimu. tapi aku tidak bisa meneruskan apa yang menjadi harapan kita. Maaf, Lam aku mundur. Carilah wanita yang sepadan denganmu.
Suatu saat kamu akan bertemu denganku bukan sebagai Ina yang dulu.
Suatu saat yang kamu temukan adalah Ina gadis dewasa yang sukses dengan cita-citanya.
Kita sementara ini mengalah dulu. Jika memang berjodoh kita pasti akan dipertemukan kembali.
__ADS_1
Selamat tinggal
Karina
Sehabis membaca pesan dari Ina. Alam membanting handphonenya, menghunuskan tangannya di dinding hotel. Dia tidak menyangka Ina kembali mengakhiri hubungan mereka. Padahal baru saja mereka mengikrarkan hubungan mereka.
Praaaaaankk!
Bobby dan Marni yang tepat bersebelahan di kamar Alam langsung berlari ke kamar putra mereka. Tampak Alam meremas gelas hingga melukai tangannya.
"Ya Allah, Nak!"
Marni dengan cepat membersihkan luka ditangan putra. Wanita itu bahkan menghisap sisa darah yang terus mengucur ditangan anaknya. Tubuh Alam mendadak lemah karena banyak mengeluarkan darah.
"Mas...kita bawa Alam kembali ke rumah sakit." Ucap Marni panik melihat kondisi anaknya.
"Ya Allah kenapa kamu seperti ini lagi hanya karena seorang wanita. Sadar, Nak" Marni menelungkup kepala putra bersandar dibahunya. Ibu mana yang tidak melihat anaknya diperlakukan seperti itu.
Tadinya aku mulai berpikir ulang untuk membuka hatiku menerima Ina. Tapi kejadian tadi membuka mataku kalau Ina bukan untuk Alam.
Ibu, harap kejadian tadi bisa membuka matamu bahwa keluarga kita tidak akan diterima.
Klik
pukul 13.00 a.m
"Jadi begitu ceritanya?" Raya mendengar kisah yang dialami keluarga gunawan versi Mama lia.
"Iya, Raya saya tidak mau Ina mengalami hal yang sama seperti anak saya." Cerita Yulia sambil menunggu keterangan Dokter tentang kondisi Ina.
Raya hanya bisa mendengarkan tanpa memberi komentar. Karena dia pun tidak terlalu paham dengan kondisi keluarga Gunawan. Rangga sedari tadi hanya mengukur lantai rumah sakit. Mencemaskan keadaan sang adik yang masih ditangani dokter.
Tadi Rangga datang ke apartemen Ina untuk pamit karena akan pulang ke Indonesia. Namun saat sampai disana, dia mendapat kabar kalau Ina pingsan didepan pintu kamarnya. Rangga dan Raya langsung ikut mendampingi Yulia untuk membawa Ina kerumah sakit.
Rangga pun menginterogerasi Yulia, karena sejak Ina dekat Alam, Yulia sangat keras pada Ina. Untuk kesekian kali Rangga menegur Yulia agar merestui Ina dan Alam.
"Apa salahnya tante merestui mereka! Apa salahnya mendukung hubungan mereka. Ina itu punya sakit jantung tante! Ina itu tidak boleh banyak beban pikiran. Sekarang apa yang tante lakukan, Jika terjadi sesuatu pada Ina gimana, tante!" Suara Rangga meninggi saking emosi melihat Yulia.
"Tante lihat apa yang sudah anda lakukan. Saya paham tante punya alasan sendiri menentang hubungan mereka. Tapi sekali-sekali tante juga mendengarkan keinginan Ina. Ina sering cerita kalau tante suka melarangnya dekat dengan Alam. Tapi pernah tidak tante mendengar permintaan Ina."
__ADS_1
"Bahkan Ina bilang kalau tante mengancam Alam akan menjauhkan dari anaknya. Dimana rasa manusiawi anda..." Lanjut Rangga.
Rangga tahu Ina menghindari Alam karena tidak ingin membuat Yulia bertindak lebih jauh lagi. Tapi Rangga melihat Ina tersiksa dengan semua ini.
Yulia hanya bisa diam. Tubuhnya serasa berkeringat walaupun udara di rumah sakit terasa dingin. Sedari tadi hanya menunduk seperti seorang anak yang habis dimarahi ayahnya.
"Kamu tenang, nak. Ini rumah sakit." Raya mencoba menenangkan putranya masih emosi. Rangga pun menghela nafasnya dalam-dalam. Lalu mendaratkan punggungnya di dinding rumah sakit.
Tak lama dokter keluar dari ICU. Semua yang ada disana berhambur ke arah dokter.
"Watashi no imōto, isha wa dōdesu ka (bagaimana keadaan adik saya, dokter)" tanya Rangga dalam bahasa Jepang.
" Anata no imōto wa shinzō-byō no byōreki ga arimasu ka? Anata ga kare o sugu ni tsurete kita no wa yoi kotodesu, samonakereba soreha-betsu no hanashi ni narudeshou. Anata no imōtnho wa tada shokku o ukete imasu. Kangae no omoni o ataenai koto o o susume shimasu.
Apakah adik anda punya riwayat jantung?
Untunglah kalian cepat membawanya kalau tidak akan lain ceritanya .Adik anda hanya syok saja. Saya sarankan jangan kasih beban pikiran." Ucap Dokter meninggalkan Rangga dan keluarga Ina.
"Apa kata dokter, Ga?" Tanya Dul
"Ina hanya syok, Om. Kondisi sudah stabil." jawab Rangga.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Rangga yang penasaran penyebab sang adik pingsan.
"Panjang ceritanya Rangga yang pasti ada orang berhati batu membuat Ina drop." Dul menjelit tajam kearah istrinya.
Tak lama Ina sudah dirumah. Tadinya dokter meminta Ina dirawat rumah sakit. Namun Yulia bersikap membawa Ina dirawat dirumah saja. Raya, Rangga, Yulia, Dul dan Rio sudah berkumpul di ruang tamu. Sementara Alena menjaga Ina dikamar. Mata Alena menjurus ke handphone Ina. Tak lama handphone Ina pun sudah kembali ke tempatnya.
Hmmm ... kira kira apa yang Alena lakukan pada handphone Ina?
Ada yang bisa menebak!
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
__ADS_1
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
Bersambung