
"Inaaaa ..."
"Iya, ras." Perempuan itu bernama Laras,Teman akrab Ina. Hanya Laras yang baik padanya setelah mamanya meninggal dunia.
Dulu, Ina punya tiga sahabat karib. Lala, Laras dan Angel. Laras, Angel dan Ina memang berteman sejak SMA. Sedangkan mereka baru mengenal Lala saat masuk kuliah. Angel dan Lala berbeda prodi dengan Ina dan Laras. Walaupun begitu, mereka tetap menyempat waktu untuk berkumpul.
Sekarang semua tinggal kenangan. Dua sohibnya sudah menjauh sejak mamanya meninggal dunia. Sejak satu kampus tahu mamanya suka plesiran dengan beberapa lelaki. Sejak satu kampus tahu mamanya punya penyakit HIV AIDS. Sejak saat itu semua yang dikampusnya merundung dirinya sebagai anak gundik.
Jika dia bisa memilih, dia tidak mau dilahirkan sebagai anak mama Kania, dia tidak mau dibilang anak yang menyusahkan mamanya. Dia ingin punya orangtua normal, dia tidak ingin dilahirkan sebagai gadis kelainan jantung. Tapi apa daya, dia tidak bisa memilih hidup sesuai dengan keinginannya.
"Melamun, aja lo" Suara Laras berdentang keras di telinganya.
"Hobi banget ngagetin orang. Kalau jantung gue kumat gimana!" Omel Ina yang kesal dengan kebiasaan sahabatnya.
"Kamu kan sudah punya jantung baru, na. Masa masih kumat juga. Jangan-jangan pemilik jantungmu belum ikhlas ngasih jantungnya kekamu." Ledek Laras.
"Eeeehhh, anak gundik masih berani muncul dikampus."
Ina tahu siapa datang menemuinya. Dia mencoba bersikap acuh pada gadis yang berdiri di depannya.
"Ngel, aku lagi malas, ya berdebat sama kamu. Minggir kami mau lewat." Ina menarik Laras meninggalkan Angel yang kesal dicuekin duo mantan sahabatnya.
Hari berganti hari semua berlalu begitu cepat. Berita tentang kelakuan mama Kania semakin berhembus kencang. Tapi Ina tetap mencoba kuat walaupun ada beberapa orang yang ingin menyingkirkannya.
"Kalau kamu masih mau kuliah disini, jauhi kak Rangga!" Ancam Angel.
"Coba aja, Ngel. Kalau dia memilihku berarti dia cinta sama aku, Ngel."
Hingga pagi ini saat dirinya sudah sampai dikampus. Semua mata memandang dirinya, ada yang sinis, ada yang menatap menertawakannya. Ina mencoba cuek.
Angel menatap Ina dengan perasaan benci. Dia berdiri di sudut lorong kampus. Matanya memandang punggung Ina hingga hilang dari pandangan.
Kamu tahu kan, na sejak dulu aku mencintai kak Rangga. Tapi kenapa malah kamu yang jadian dengan dia. Jahat kamu,na! sahabat macam apa yang menikung lelaki pujaan sahabatnya.
"Ooo ... jadi dia anak gundik, ya? Sekarang tinggal sama istri tua ayahnya .. ckckckxk udah anak simpanan, Jadi parasit pula di rumah orang." Teriak lala di depan semua orang.
Ina terdiam. Dia bisa apa? Mau marah apa yang akan dia marahkan? karena apa yang dibilang memang nyata adanya. Ina tak menampik perilaku mamanya yang suka gonta-ganti pria. Sebulan sekali mamanya pulang, dalam satu bulan mamanya hanya tahan dirumah 3 hari. Tapi dia membantah karena memang dia bukan tinggal dengan istri tua ayahnya, melainkan tinggal bersama anak ayahnya.
__ADS_1
Ina hanya berlalu dari hadapan orang-orang yang menertawakannya.
"Ina... kamu di panggil bu ramida di ruang TU." panggil Dewi dengan ketusnya.
Ina hanya mengikuti Dewi yang berjalan didepannya. Saat memasuki ruangan TU, beberapa pasang mata menatapnya dengan sinis.
Braaaaakkkkk!
Laras memukul meja yang ada didepan Angel. Rasa kesalnya pada Angel yang sudah membuat Ina tersudut.
"Mau lo apasih, ngel!"
Angel menatap Laras dengan remeh "Waaaaah, anteknya ngamuk." ucap Angel diiringi tawanya yang keras.
"Kenapa, ras. Lo mau gabung sama kita aku masih welcome kok. Daripada kamu terus di repotin sama cewek penyakitan. Anak gundik pula ..... hahahahahahha..."
"Lo nggak ngaca jadi orang! Bokap lo tukang selingkuh ... mama lo baik ... gue ragu lo anak kandung nyokap lo...!" balas laras.
Angel hanya diam saja. Walaupun dia membenarkan apa yang dibilang Laras.
Ina masuk ke ruangan TU duduk menghadap bu Ramida yang terkenal galak.
"Kamu tahu masalah kamu sudah membuat reputasi kampus kita turun. Karena kampus ini nyimpan anak gundik dan ayam kampus seperti kamu." cerca Ibu Ramida.
Ina menelan salivanya.
Ayam kampus? kenapa bu ramida menyebutku seperti itu.
Ibu Ramida melemparkan beberapa photo Ina keluar dari mobil dengan lelaki yang berbeda. Ina kaget karena sebenarnya photo ini adalah momen yang berbeda.
"Bu, ini fitnah. Saya tidak seperti yang anda tuduhkan! Itu semua tidak benar. Mereka semua keluarga saya." Bela Ina sambil memandang beberapa photo yang bertebar di meja.
Bukan gampang meyakinkan bu Ramida yang terkenal galak. Semua orang dikampus tahu kalau bu Ramida tidak pernah memberi ampun setiap berhadapan mahasiswa bermasalah. Tapi yang pertanyaannya siapa yang memberikan photo ini pada bu Ramida. Angel kah? atau Lala. Ina tak tahu siapa pelakunya, yang pasti dia hanya ingin membersihkan namanya.
Ina keluar dari ruangan bu Ramida dengan wajah mendung. Tak pernah terbayang dibenaknya ancaman kampus atas tuduhan yang tak dilakukannya.
"Na, gimana? apa yang dibilang bu Ramida sama kamu?" Laras muncul langsung mencerca beberapa pertanyaan.
__ADS_1
Yang ditanya hanya diam saja, berjalan tanpa arah tak memperdulikan kehadiran Laras. Tapi Laras tidak menyerah, dia terus berjalan di samping Ina, takut sahabatnya kenapa-kenapa.
"Na, aku antar pulang, ya?"
Ina duduk di pelataran kampus. merenungi beberapa kejadian seminggu terakhir ini. Dadanya menyeruak sesak, namun dia mencoba tidak menangis. Matanya menatap danau di kampus Universitas Indonesia, kalau dia tidak berpikir panjang ingin sekali melompat ke danau itu. Tapi dia sadar, kalau itu hanya kebodohan semata.
Mama lihat, ma. Aku dijauhi orang-orang karena kelakuan mama.
Puaskan mama sekarang!
Kenapa ma, kenapa aku harus lahir dari orang seperti mama.
Kenapa aku nggak lahir di keluarga biasa saja.
Seperti keluarga Laras.
KEaNAPA!!!!
"Hey, ada ayam kampus kita nih." Beberapa gerombolan laki-laki menghampiri Ina yang sedang menyendiri. Ina mencoba tidak memperdulikan kehadiran mereka. Tapi ternyata kediamannya tak membuat para lelaki itu berhenti mengganggunya.
"Mau kemana? Ayolah, kita bersenang senang saja dulu."
"Lepasin!"
"Hahhhahahaa... Nggak usah sok suci, Karina. Semua dikampus ini tahu siapa kamu."
"Kalau dia bilang lepasin, kamu harus lepaskan." Tiba-tiba suara bariton itu datang. Ina dan gerombolan pria itu menoleh kearah suara. Tangan itu menarik Ina dari genggaman si pria tersebut.
"Masuk mobil!" Perintahnya. Ina langsung berlari memasuki mobil.
"Dengar, ya. Kalau saya lihat kalian macam-macam lagi sama Ina. Saya tidak segan segan mematahkan leher kalian." ancamnya.
Pria itu masuk mobil meninggalkan gerombolan pemuda tersebut.
"Aku tahu kamu mau bilang terima kasih. Tapi aku rasa nggak perlu. Yang ada kamu makin gede kepala. Lagian ngapain kamu sendiri ditempat sepi. Hah!"
Seperti omongan ketus itu kembali meluncur dari mulutnya. Ina seakan sudah kebal mendengarnya. Hampir satu bulan dia tinggal di rumah kakaknya, gaya bicara itu sudah menjadi makanannya sehari-hari. Ina hanya terdiam. Dia lagi malas berdebat tapi lelaki disampingnya selalu memancing perdebatan.
__ADS_1
"Kak, aku masih ada dua mata kuliah."
"Setelah kejadian barusan kamu masih punya muka ... ckckckckkc."