Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
101. Pengakuan


__ADS_3

"Jadi kamu mau kuliah di jepang, Na?" Tanya Rangga sambil duduk di batuan pantai.


"Iya, kak. Kakak lupa cita-citaku dulu."


"Pengen kuliah di tokyo university dengan jurusan arsitektur. Ya, kan?" Tebak Rangga.


"Nah itu kakak ingat"


"Kamu tinggal di apartemenku saja, Na. Sayang kalau kosong, sambil kuliah kamu kerja diperusahaan papa yang di jepang." usul Rangga.


"Nggak usah, kak. Semua sudah disiapkan kak Lia. Aku tinggal berangkat."


"Terus kamu sama Reza gimana? Bukankah kalian sedang dekat."


"Aku dan kak Eja nggak ada hubungan apa-apa kak. Sama kayak kakak, aku menganggap dia seperti saudaraku sendiri. Kak kenapa kakak ninggalin kak Jihan?"


Rangga terdiam saat mendengar pertanyaan Ina. Seharusnya Ina tahu apa yang membuat dirinya batal menikahi Jihan.


"Kak?" Suara Ina membuyarkan lamunannya.


"Apa karena aku?"


"Na, jawab pertanyaan kakak? Apa benar kamu sempat depresi gara gara pernikahanku?" Rangga balik bertanya.


Ina menunduk lalu mengangguk. Rangga langsung memeluk Ina. Rasa bersalah karena membuat adiknya down akibat rencana pernikahan dirinya dan Jihan.


"Na, maafkan aku. Gara-gara aku, kamu jadi seperti ini." Ucap Rangga masih memeluk Ina.


"Kak. Bisakah kita seperti dulu. Tidak ada aku dan kamu lagi. Tapi tetap sebutan Ina dan kak Rangga." Ina melerai kakinya dari sujudan Rangga.


"Buatku, kita tetap akan jadi kakak adik. Dulu aku memang pernah mempunyai harapan mencari lelaki seperti kakak. Tapi sejak kakak pergi, aku sadar kalau perasaanku sama kakak bukanlah cinta, cinta iya cinta. Cinta adik pada kakaknya, cinta yang berasal dari rasa kagum semata. Bukan cinta yang ingin memiliki." Jelas Ina.


"Na, jangan bilang kamu tidak mencintaiku lagi. Na, kita mulai dari awal lagi. Kita temui mama untuk merestui hubungan kita. Aku yakin kalau kita berusaha mama akan luluh." Rangga masih mencoba meyakinkan Ina.


Ina melangkah pergi meninggalkan Rangga. Berjalan mengitari pantai sambil bermain ombak. Rangga mengejar Ina sambil memercikkan air pantai ke wajah Ina. Suara pekikan Ina karena kesal di gangguin sang kakak membuat Rangga semakin menjadi. Digendongnya tubuh Ina sambil berputar membuat gadis itu terasa pusing. Senyum tawa bahagia diwajah mereka terpancar.


"Tunggu! Satu yang bikin aku penasaran. Kenapa kakak tahu aku disini?"


Rangga hanya mengulum senyum teringat semalam seorang lelaki datang ke kantornya. Menemui dirinya membahas tentang Ina. Rangga yang mengenal lelaki itu sebagai menantu kakaknya Ina.


Flashback On


Perusahaan Pattimura yang bergelut dibidang produk furniture. Saat ini sedang mengalami masa sulit, dimana penurunan minat produk mereka karen ada saingan baru.

__ADS_1


Perusahaan Spencer pun terlibat kerjasama dengan perusahaan Pattimura. Mereka mengirim Alam sebagai perwakilan perusahaan.


"Ingat Rangga! Kamu harus memenangkan tender ini. Itu sebagai bukti ganti karena kamu kabur dari pernikahan dan Alex pun menghentikan kerjasama. Padahal Alex adalah jembatan besar buat perusahaan kita. Jadi sebagai ganti ruginya kamu harus memenangkan tender dari perusahaan Spencer." Ultimatum Donal.


Rangga pun mengiyakan permintaan papa ternyata. Meskipun sebenarnya dia malas menuruti kemauan Donal. Lelaki berusia 35 tahun itu meninggalkan ruang kerja menuju ruang meeting. Disana Rangga bertemu dengan Alam sebagai perwakilan perusahaan.


Awalnya keduanya saling diam. Alam hanya bicara mengenai tender mereka. Begitupun Rangga yang juga mempromosi project mereka. Persaingan sengit antar dua perusahaan besar se jakarta, membuat suasana menjadi tegang. Selesai mempromosi bahan meetingnya Alam dan Alena meninggalkan ruang meeting. Tapi tak berapa lama Alam kembali menemui Rangga diruangannya.


"Bisa kita bicara?" Sapa Alam saat mendaratkan bokongnya di kursi berbahan kulit tersebut.


"Silahkan" Rangga menyilahkan lelaki didepannya untuk memulai obrolan.


"Okey. Aku mau bahas soal Ina."


Rangga merapatkan dadanya diatas meja. Karena dia juga ingin kabar Ina, perempuan yang sangat dia cintai saat ini. Rasa penasaran dengan apa yang akan dibahas lelaki itu.


"Apakah anda mencintai Ina?"


"Tentu. Tidak perlu kau tanyakan. Aku mencintai Ina sangat mencintainya. Jadi apa yang akan kamu bahas tentang Ina."


"Temuilah Ina dia pasti sangat bahagia jika tahu anda belum menikah dengan Kak Jihan. Anda tahu, kalau Ina sampai drop waktu mendengar anda menikah. Itu sudah memperlihatkan kalau dia sangat mencintai anda. Saya hanya ingin melihat Ina bahagia dengan orang yang dia cintai." Terang Alam.


Rangga hanya terdiam meresapi ucapan Alam barusan. Dalam hati teramat senang karena kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka terpampang didepan mata.


"silahkan" Jawab Alam.


"Apa kamu punya perasaan khusus pada Ina?" tanya Rangga.


"Kenapa menanyakan hal ini?"


"Jawab saja." Rangga melipatkan tangannya diatas meja. Sambil menyeruput teh hangat yang sudah disediakan pihak OB.


"Tidak" Jawab Alam.


Rangga tersenyum simpul.


"Aku tahu wajah Ina sangat mirip dengan mendiang istrimu. Masa sih tidak ada getaran yang terasa dihatimu." Cerca Rangga.


Pertanyaan Rangga membuat Alam sempat ketar-ketir. Dia tidak munafik kalau punya perasaan khusus untuk Ina. Tapi Alam tahu diri, Ina tidak mencintainya melainkan cinta Ina untuk Rangga. Sejak malam itu, Alam sadari kalau dia memang mencintai Ina awalnya karena mirip dengan Gita. Tapi lama kelamaan dia benar-benar cinta Ina apa adanya. Sosok Ina yang mengubah kekerasan hatinya.


Maafkan aku Ina.


Aku yakin kamu akan bahagia bersama Rangga.

__ADS_1


Flashback off


"Jadi Alam yang meminta kakak datang kesini. Dia juga mau comblangin aku sama kakak." Rangga mengangguk sambil tersenyum.


Emosi Ina membuncah. Seakan dia merasa dipermainkan oleh Alam. Bagaimana tidak! Belum lama lelaki itu menyatakan perasaannya. Sekarang dia disodorkan seperti barang.


"Na, kamu mau kemana?" Kejar Rangga melihat Ina berlari.


Ina berlari sejauh mungkin. Mencoba menepikan diri setelah mendengar apa yang dijelaskan Rangga. Sungguh tidak disangka Alam menemui Rangga hanya untuk menyomblangi dirinya.


Netranya semakin panas ketika melihat Alam dan Alena sedang duduk dipasir pantai. Ina langsung menghampiri keduanya. Alam yang melihat sudah berdiri dihadapannya pun ikut berdiri.


PLAAAAKK


Alam memegang pipinya yang terasa perih karena tamparan kuat dari Ina. Rangga, Alena dan Alam kaget melihat sikap Ina.


"Kamu kenapa, Na?" Alena bertanya pada Ina.


"Apa maksud kamu mendatangi kak Rangga? apa maksud kamu menyuruh kak Rangga untuk mendekatiku?"


"Na" Sela Alam.


"Apa!Kamu pikir aku barang! Yang bisa di sodor sana sodor sini! Hah!" Bentak Ina.


"Na, aku melakukan ini untuk kebahagiaanmu. Aku tahu kamu masih mencintai kak Rangga. Aku hanya ingin membantumu." Bela Alam.


"Tau apa kamu soal cinta! Jangan mentang-mentang kamu lebih dewasa dariku, kamu jadi mengatur kehidupanku. Emangnya aku pernah bilang kalau aku cinta sama kak Rangga."


Rangga ingin menengahi keduanya tapi ditahan oleh Alena. "Beri mereka kesempatan menyelesaikan masalah mereka kak" Ucap Alena sambil mengajak Rangga jauh dari Ina dan Alena.


"Na, aku tahunya kamu cinta sama Rangga."


"Aku nggak cinta sama Rangga. Aku cinta sama kamu Alam. Dasar laki-laki nggak peka!" Ina memukul dada Alam lalu berlari malu.


"Barusan dia bilang apa? Cinta sama aku?


Tuhaaaan, terima kasih akhirnya aku diterima." Alam melonjak riang sambil berjoget hawai.


Ina berdiri terpaku mendengar teriakan Alam. Gadis itu bingung melihat polah tingkah Alam. Alam terus berjoget tanpa peduli tatapan orang-orang. Ina membalikan tubuhnya menatap tajam seakan masih ada kemarahan.


Tiba-tiba dia teringat ucapannya. Seketika dia baru sadar tentang pengakuan perasaannya.


"Astaga aku ngomong apa tadi! Mulut ... mulut .." Ina terus menepuk bibirnya.

__ADS_1


Alena berdiri sambil tersenyum dari kejauhan "Selamat, pak Ronal. Akhirnya kamu mendapatkan cinta Ina."


__ADS_2