
Laras duduk di depan meja riasnya. Seorang perias pun mulai melancarkan aksinya membersihkan wajah Laras dengan alat saktinya. Melepas atribut akad karena akan diganti dengan yang lebih simple. Wanita itu manut saja ketika wajahnya kembali diobrak abrik sama perias tersebut. Tak lama Rangga masuk dengan alasan mau mengganti pakaian jas nya.
Ketika Rangga membuka kancing bajunya, tiba-tiba laras meminta Rangga mengganti di kamar mandi. Dia takut mata mbak periasnya tercoreng dengan tubuh milik suaminya.
"Kak Rangga, gantinya dikamar mandi saja." Titah Laras.
"Kenapa harus di kamar mandi, sayang?"
"Nggak enak banyak orang disini." Jawab Laras.
"Oke istriku." Rangga mencubit pipi tirus Laras.
BLUSH
Wajah Laras memerah seketika ketika Rangga menyebutnya istriku. Terasa jantungnya berdetak kencang. Tangan Laras terus membolak-balik karena grogi, padahal akadnya sudah selesai.
"Mbak bisa tolong make up temen saya yang itu?" Laras menunjuk Ina yang sibuk bersama panitia memeriksa dekorasi.
"Boleh, mbak. Saya selesai mbak sama mas nya dulu." Jawab perias.
"By the way, mbak kenal sama mas ganteng dari mana?" Tanya mbak perias.
"Itu kakak sahabat saya, Mbak." Jawab Laras yang sedikit geli saat sapuan kuas mengenai lobang hidungnya.
Mbak perias tak lagi bertanya macam-macam. Hanya saja, si mbak perias hanya mendumel dalam hati.
Si mbak penganten ini nggak terlalu cantik dan sepertinya hanya gadis biasa. Kok bisa ya, sama mas Rangga. Sepanjang saya jadi langganan make up keluarga ini, mbak Lani lebih cetar dari mbak Laras.
"Nanti make up nya jangan terlalu tebal, ya." Kata Rangga yang sudah berganti pakaian. Mbak perias hanya mengangguk.
"Soalnya dia nggak pake make up saja sudah cantik."
"Terimakasih, kak." Jawab Laras.
"Panggil Mas saja." Titahnya pada wanita yang baru saja dinikahinya.
Laras hanya tersenyum kecil. Segampang inikah jodohnya? Beda dengan Ina yang masih mengarungi terjal dalam kisah cintanya. Mbak perias mengingatkan kalau Laras sudah selesai dirias dan ganti baju. Sementara itu Rangga hanya sedikit dikasih polesan wajah karena kulitnya sudah putih.
Ina duduk dengan tenang setelah sibuk mengatur dekorasi sekitar cottage. Saat tangan melingkar di lehernya, kecupan di pucuk rambut membangkit sensualitasnya. Namun, Ina hanya diam membiarkan kekasihnya mengekspresikan perasaannya.
__ADS_1
"Nanti kalau kita menikah, aku mau pestanya di kebun." harap Alam.
"Kenapa mesti di kebun?"
"Lebih merakyat, sayang. Aku mau warga tempatku tinggal juga ikut menikmati acara. Tidak ada kesenjangan sosial."
"Emang acaranya dimana?"
"Aku pengen kita nikah di Jambi, tempat kelahiranku."
"Jauhnya, itu dikota ada desanya."
"Desanya."
"Yayaayaaah...." Pekik Shasa dalam gendongan mbak Diah.
"Anak ayah sudah sampai." Alam mengayun tubuh kecil putrinya.
"Ca au ue." jawab Shasa.
Alam pamit pada Ina dengan alasan mengajak Shasa berkeliling cottage. Gadis itu mempersilahkan kekasihnya membawa Shasa untuk melihat pemandangan. Dari jauh Ina melihat ada Alena yang datang mendekati Alam. Mencoba untuk tidak cemburu, namun dia tak bisa mencegah perasaan itu.
"Tolong rias dia, mbak." Titah Laras.
"Aduh, Ras. Nggak usah dirias lagi."
"Mau nggak cantik di depan Alam?" Goda Laras.
"Aku nggak make up saja dia udah suka."
"Udah nggak usah bawel. Masa pendamping penganten mukanya kucel."
Ina menurut saja saat mbak perias mulai melancarkan aksinya. Dengan cepat kuas kuas menyapu wajah gadis itu. Ina sedikit geli saat sapuan kuas mengenai matanya.
"Nah, kan cantik." Puji Laras.
Laras berjalan menuju lokasi resepsi. Gaunnya yang panjang dibantu dengan para pendamping pengantin termasuk Ina dan Eva yang didaulat Laras. Sementara Alam dan Reza menjadi pendamping pengantin untuk Rangga.
Serangkaian acara resepsi pun berjalan dengan meriah. Dari acara pembukaan, pemotongan kue, hingga musik live pun ikut memeriahkan. Laras dan Rangga terlihat bahagia sekali. Walaupun terlihat lelah tapi mereka menikmatinya.
__ADS_1
"Laras selamat, ya. Semoga Samawa." Ucap tamu bernama Rasty yulia yang datang bersama seorang lelaki "Oh,ya kenalkan ini suami saya Brian." Lelaki bernama Brian pun ikut menyalami penganten.
"Terimakasih mbak Rasti. Novel mbak keren lo, apalagi yang judulnya Duda sang pemikat hati. Saya suka kesel lihat si Firman yang nggak tahu diuntung." Cerocos Laras.
Rasty dan Brian pun pamit undur diri karena masih banyak yang antri.
"Laras selamat, ya." Ucap Arthi Yuniar, Ayu Widia, Nofi khanza, Ria Aisyah, masih banyak author yang datang memenuhi undangan pernikahan Laras dan Rangga.
Acara pun hampir selesai. Akan ada acara pelemparan bunga buat yang jomblo. Setelah pesta usai, biasanya pengantin wanita akan membalikkan badan dan mulai melempar rangkaian bunga ke arah tamu undangan. Di saat seperti ini, para tamu wanita, utamanya yang belum menikah akan berlomba-lomba untuk mendapatkan rangkaian bunga tersebut.
Karena menurut mitos yang ada, wanita yang bisa menangkap rangkaian bunga tersebut akan segera melangsungkan pernikahan dengan lelaki idaman. Bagaimana dengan yang masih sendiri? Beberapa juga percaya, jika yang masih sendiri mendapatkan rangkaian bunga itu, mereka juga akan segera mendapatkan seorang kekasih dambaan hatinya, dan bahkan akan langsung menikahinya.
Ina hanya duduk melihat acara tersebut. Teringat saat pernikahan Ilham dan Siti ketika acara pelemparan bunga. Dimana dirinya dan Alam mendapat lemparan bunga, tapi lelaki itu malah memakinya di depan banyak orang.
"Kamu mau ikut?" Alam mengulurkan tangan pada Ina yang sedang duduk. Ina hanya menggeleng, lelaki itu duduk disamping kekasihnya.
"Kamu ingat ada seorang lelaki yang memakiku dengan sebutan parasit." Ina membuka kenangannya.
"Dan karena masalah itu awal kedekatan kita." Sambung Alam.
"Maaf jika saat itu menyinggung perasaanmu. Saat itu aku hanya takut. Takut benar-benar jatuh cinta sama kamu."
Mereka memandang para single berdiri menerima lemparan bunga. Alena menarik Ina untuk ikut berbaur dengan mereka.
"Kasih kesempatan sama yang lain, sayang. Kita kan sudah waktu di pesta Ilham. Ucap Alam.
Alam dan Ina pergi menjauhi kerumunan. Tiba-tiba Alam menutup mata Ina dengan kain. Ina merasakan gelap hanya mengikuti apa yang mau dilakukan kekasihnya. Tangan itu terus menuntun menyusuri pantai. Hingga dari merasakan ada tangga yang dipijaknya.
"Satu ... dua... tiga..."
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
__ADS_1
Bersambung