Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
Maafkan Aku


__ADS_3

Langit kota Jakarta terlihat terang benderang. Jalanan yang penuh dengan beberapa kendaraan, gedung-gedung menjulang tinggi diterpa oleh kemilaunya matahari yang memantul melalui jendela kamar inap di sebuah rumah sakit swasta. Memang kalau melihat jalanan macet bukan suatu keindahan yang bisa dikagumi.


Ina hanya memandang langit yang semakin memamerkan keindahannya. Rumah Sakit yang terletak di jakarta pusat, berderet dengan beberapa gedung menjulang tinggi. Ina menikmati momen itu sambil menyeruput segelas kopi susu sachet.


Tapi bagi Karina, situasi itu justru memiliki keindahan tersendiri. Jika dia yang berada dalam barisan itu, dia akan memanfaatkan waktu istirahat meskipun hanya didalam mobil, mendengarkan radio ataupun lagu-lagu kesayangannya. Tapi saat ini dirinya bahkan sudah semalaman tidak bisa tidur. Memejamkan matapun tak bisa. Tadi malam dia menemani Shasa yang terbangun dak bisa tidur lagi. Sementara Alam memilih istirahat di luar.


"Sayang, sarapan dulu, yuk?" Ajak Ina yang menemui Alam di teras luar.


"Aku tidak lapar, Na." Jawab Alam datar.


"Kamu sejak semalam tidak istirahat. Kamu juga harus jaga kondisi kesehatanmu. kamu harus kuat buat Shasa, buat aku dan buat diri kamu sendiri. Please, makan ya. Sedikit saja. Aku suapin, ya." Bujuk In


Alam hanya menuruti h. Tangan Ina mengaduk pop mie sudsahg diseduh. Tak lama satu suapan pun meluncur ke bibir lelaki itu.


"Kalau kita menikah nanti, Na. kamu harus suapin aku terus biar aku banyak makan. Biar badanku sehat selalu. Biar aku makin cinta sama kamu."


"Ih, ngegombal pagi-pagi. Udah, ah. Makan sendiri ya." Ina meninggalkan Alam hendak ke kamar mandi. Namun langkahnya tertahan ketika tangannya di tarik hingga terduduk diatas paha Alam. Tangan lelaki itu melingkar di pinggang Ina.


"Lam, nanti kalau ada yang melihat gimana?" Ina risih melihat sikap mesum yan kumat.


"Kalau mengerjakan sesuatu harus tuntas. Nggak boleh setengah-setengah, jadi harus suapin aku sampai habis."


"Ya udah turunin aku, lam. Masa aku nyuapin dengan pose kayak gini."


"Nggak, mau! aku mau nya disuapin kayak gini." Alam tetap tidak mau melepaskan tangannya dipinggang Ina.


"Kamu tuh kayak orang ngidam, tau nggak! aneh." Cibir


Alam terkekeh melihat wajah Ina yang masam. Lelaki itu mulai merenggangkan dekapannya. Tapi tidak melepaskan tangannya dari pinggang Ina. Tangan Alam menarik tengkuk leher Ina, saling meresapi bibir keduanya. Tangan Alam menuntun Ina merebah diatas sofa diruang rawat Shasa.


"I love you. Mari kita menikah." Bisiknya. Ina langsung mendorong tubuh Alam, dia takut kebablasan.


"Maaf." Jawab Alam.

__ADS_1


"Kamu minta maaf mulu tapi ngulangi lagi." Ina pergi meninggalkan Alam diruang rawat Shasa.


"Atau kita sementara ini nggak usah bertemu dulu." Sambung Ina.


"Kok gitu sih, Na? aku sudah minta maaf tadi. Kamu tadi menikmatinya kan. Jadi kita impas dong." Balas Alam.


"Oh, ya jadi karena terkesan menikmati dan kamu bisa ngambil kesempatan, gitu. Kamu itu seorang ayah dan kamu punya anak perempuan, mikir nggak kalau yang kamu lakukan barusan bisa terjadi sama Shasa."


"Kenapa bawa-bawa Shasa sih? Na... Ina... " Alam berlari mengejar Ina yang sudah masuk angkutan umum.


Ina sebenarnya sudah turun dari angkutan umum. Dia berhenti di sebuah tempat yang dia sendiri tak tahu dimana. Ina duduk meringkuk ketakutan melihat kanan kiri.


"Mama, Ina takut." Lirihnya.


Aku benci lamaran!


Aku benci lamaran!


Ina teringat bagaimana mesumnya Dodo dan mamanya. Semua yang sudah lama dilupakannya tiba-tiba datang kembali. Ina juga teringat bagaimana manisnya dodo melamarnya dan begitu juga yang dilakukan Rangga. Semuanya kembali berputar.


"Kita cari kemana lagi, lam." Ucap Edwar yang berkeliling seputar jakarta mencari keberadaan Ina.


"Pokoknya cari, war. Aku takut Ina tersesat, dia sedang kalut. Aku yang salah sudah bikin hatinya sedih." Keluh Alam masih merasa bersalah.


"Kamu dimana, Na. Maafin aku!"


Alam menatap langit yang sudah mulai gelap. Ada rasa khawatir menyelinap dalam hatinya. Matanya terus mengawasi pinggir jalan, memeriksa siapa tahu ada Ina disudut jalan.


Mata Alam tertuju pada seorang perempuan yang menangis dipinggir pagar Monas. Dengan cepat Alam turun dari mobil di tengah jalan. Edwar terkejut melihat Alam turun entah apa yang membuat lelaki itu nekad.


"Lam!" Panggil Edwar. Edwar akhirnya tahu siapa yang ditemui sahabatnya. Edwar pun ikut turun membantu Alam menggotong tubuh Ina yang pingsan.


"Na, sadar. Maafin aku, Na." Alam terus mengguncang tubuh Ina.

__ADS_1


Klik


Pagi ini suasana di apartemen milik Rangga terlihat sangat lenggang. Tampak seorang wanita yang sedang berkutat di kitchen setnya. Terdengar suara ketukan pisau yang menggema di sudut dapur. Wanita itu adalah Laras.


Sebagai seorang istri Laras berusaha menunaikan kewajibannya. Semalam Rangga tidak pulang karena lembur di kantor. Sejujurnya dia takut sendirian di apartemen. Apalagi dia pernah dengar gedung apartemen ini adalah bekas kuburan kolonial.


"Mas sudah pulang?" Sapa Laras saat melihat suaminya lonjoran di sofa ruang tamu.


"Hmmm ... " Jawab Rangga datar. Laras memijit bahu suaminya dengan pelan. Rangga merasa nyaman dengan hasil pijitan istrinya. Hingga nyaris tertidur, Laras akhirnya menyelimuti tubuh Rangga.


"Makasih, istriku." Jawab Rangga.


Laras pun kembali menekuni pekerjaannya. Sudah sejak pulang dari ancol. Laras langsung di boyong ke apartemen milik Rangga, walaupun mereka belum melakukan malam pertama. Laras pun sedikit lega karena suaminya tidak menagih.


Saat asyik memasak Laras merasakan ada tangan yang melingkar di pinggangnya. Wanita itu berbalik langsung mendapat serangan bibir dari Rangga.


"Ras, bisa aku memintanya sekarang?"


*


*


*


Maaf ya part hari ini rada gaje


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate

__ADS_1


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah


Bersambung


__ADS_2