Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
Rindu


__ADS_3

Tokyo, Jepang.


Ina terbangun dari tertidur lelahnya. Dahi berkerut mendapati tubuhnya sudah berselimut di sofa apartemennya. Kepalanya terus menggaruk mencoba mengigat apa yang sebelum terjadi. Tapi tak satupun ingatannya membuka soal selimut tersebut. Pada akhirnya Ina menyerah dan bangkit dari sofa. Tangannya meraba handphone yang tergeletak diatas meja. Tertera waktu menunjukkan jam 5 sore.


Ina bangkit menuju kamar mandi mengingat dia sudah melewatkan waktu Ashar. Meskipun susah cari mesjid di sekitar Tokyo. Paling tidak Ina punya handphone yang membantunya mengingatkan waktu sholat.


Sesaat setelah Ina menyelesai shalat Ashar, gadis itu memilih membaca buku sejenak. Apalagi kalau membaca buku novel yang dia bawa dari Jakarta. Sejenak tawanya berderai ketika membaca ke-uwuan adit dan tita (Hayo tebak apa novel yang dibaca Ina).


Setelah 45 menit membaca novel, lagi-lagi gawainya berdering mengingatkan kalau magrib sudah tiba. Ina menghentikan aktivitasnya, melepas mukenanya untuk kembali berwudhu. Tak lama adzan berkumandang, Ina pun selintas menatap jendela apartemennya. Tampak kota Tokyo masih terlihat lenggang. Mungkin efek salju yang membuat aktivitas masyarakat disana lebih memilih diam dirumah. Tampak kaca mulai tertutup embun.


"Na, bagaimana kuliahmu hari ini?"


Sebuah pesan tertera di ponselnya. Pesan dari sang kakak yang sejak keberangkatannya belum dikabarinya. Bukan hanya sang kakak dan keluarga disana, sampai saat ini pun Ina belum ada membuka komunikasi dengan Alam.


Tak lama ponselnya berdering menandakan sang kakak ingin mendengar suara Ina.


"Alhamdulillah, kak. Tadi masih pengenalan kampus,kak, Jadi belum ada kegiatan belajar disini.


Bagaimana keadaan disana? Kakak dan keluarga disana sehat-sehat saja,kan?"


"Alhamdulillah, kak sehat-sehat saja. Ini kakak lagi sama Shasa. Shasa coba bilang assalamualaikum?"


"Assalamulaya ikun?" Terdengar suara mungil yang sangat Ina rindukan.


"Waalaikumsalam, Shasa sayang. Wah, Shasa pinter ya sudah bisa bilang assalamualaikum."


"Emang siapa yang ngantar Shasa ke rumah?"


"Tadi kak Dul sedang main kesana. Pulangnya bareng Shasa."


Aku pikir Shasa diantar Alam.


"Ya,udah,Na. Shasa sepertinya mulai mengantuk. Kakak mau nidurin dia dulu. Kamu sekolah yang bener, ya. Jangan tinggalkan Shalat. Assamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Terdengar Yulia menutup teleponnya. Ina pun menyimpan gawainya.


"Kenapa bukan Alam yang mengantar Shasa ke rumah kak Lia? Bukankah kak Lia sudah kasih lampu hijau dalam hubungan kami.Apa mungkin dia lagi banyak kerjaan dikantor?


Aku kangen sama kamu, Lam. Masa sejak aku berangkat dan sekarang sudah 3 hari kamu nggak ada nanya kabarku?atau jangan-jangan dia sudah lupa sama aku."

__ADS_1


Ina menatap photo kebersamaan mereka selama di Jakarta. Berbagai kenangan terus melintas diingatannya. Dari awal pertemuan mereka yang selalu bersebrangan dan saat Alam mengungkapkan perasaannya pada Ina.


Flashback


"Terimakasih,Na."


"Buat?"


"Buat kami nyempatin datang kesini. Aku pikir kamu nggak akan mau datang nengokin."


"Emangnya harus banget nunggu aku?"


"Nggak tahu, Na. Rasanya kalau belum ketemu kamu masih ada yang kurang gitu."


"Haahahaha... Lebay kamu, Lam."


"Ya gitu, lah. Namanya juga cinta."


Ina terhenti saat mendengar ucapan terakhir Alam. Pelan-pelan dia melepaskan pegangan kursi roda. Ada rasa sesak yang menderanya.


"Dan cinta itu tidak boleh ada, Lam." Beber Ina dengan nada lirih.


Dan saat mereka jadian dan Alam melamarnya.


"Aku mencintaimu, Karina Permata. Bukan karena wajahmu, tapi karena hatikaku memang sudah terpaut padamu."


"Na, Maaf jika aku mendadak melakukan ini. Aku hanya ingin kita punya ikatan pasti, sebagai tanda aku serius sama kamu. Aku adalah Ronal Wassalam, seorang lelaki dari Jambi. Aku sebenarnya bukan anak orang kaya, aku anak tiri papa Bobby, ya walaupun ayah kandungku adalah adiknya papa Bobby. Aku duda punya anak satu, yang jatuh cinta pada seorang gadis, adik dari mama mertuaku, bibi dari istriku dan oma mudanya anakku.


ha


"Karina Permata Gunawan..... Will you marry me?"


Flashback off


"Iya, Lam. Aku mau jadi istrimu." Ucapnya Lirih seperti menahan tangis.


Klik


Jakarta, Indonesia


"Jadi bagaimana dengan masalah penyusupan ini, Reza. Kenapa kita bisa kecolongan?" Tanya Alam saat melihat beberapa aset perusahaan banyak yang raib entah kemana.

__ADS_1


"Maaf, pak, Ronal. Seperti ada yang memanfaatkan situasi saat anak bapak masih dirumah sakit. Ada staf mengatakan kalau pihak perusahaan snack dari bandung ingin bertemu anda. Mereka bilang bapak tidak profesional karena alasan anak sakit." Jelas Reza.


"Tapi anak saya bukan hanya sakit, Za. dia di opname! Opname! kalau mereka memang berkepentingan sama saya. Kenapa tidak menemui saya dirumah sakit. Saya yakin pasti ada orang dalam di perusahaan ini."


Reza hanya diam saja saat Alam terus meminta penjelasan tentang masalah yang muncul dikantor. Belum lagi Alena yang mulai mangkir kerja membuat bos nya semakin uring-uringan.


"Kamu suruh Alena ke kantor. Sudah beberapa hari ini dia tidak masuk. Kalau perlu cek ke kontrakannya, kalau dia mau berhenti selesaikan dulu urusannya diperusahaan ini. atau jangan-jangan dia yang membocorkan aset perusahaan." Tuduh Alam.


Setelah Reza keluar dari ruangan Alam. Lelaki tampak merenung. Sudah beberapa hari ini omzet perusahaan menurun, ditambah beberapa aset perusahaan yang hilang. Alam tampak berpikir keras mencari solusinya. Netranya menatap cincin yang melingkar dijarinya. Cincin yang pernah Ina, lalu kembali dia sematkan saat acara pertunangan mereka.


"Aku rindu kamu. Andai kamu disini, mungkin aku tidak se sedih ini. Kamu tahu, Na? Mama Lia masih mengabaikanku saat aku mengantar Shasa semalam.


Kamu tahu, Na? Restu yang mama Lia berikan pada kita ternyata hanya restu palsu. Dan sepertinya aku akan berjuang mengejar restu kakakmu.


Na, kenapa kamu tidak pernah mengabariku sejak pulang ke Jepang?"


Alam memandang handphone mencoba menghubungi Ina. Luapan rindu yang sudah beberapa hari ini ditahannya. Deringan telepon terus terdengar, lama deringan tersebut disusul suara manis mbak operator.


"Mungkin Ina lagi kuliah? Apalagi sekarang memang jam belajar." Alam mencoba berpikiran positif saat Ina tidak mengangkat teleponnya.


Alam keluar dari ruangannya. Langkah kakinya berjalan menuju rooftop kantor. Tempat dimana dia mencoba menenangkan diri. Langkahnya terhenti saat melihat seorang lelaki berdiri didepannya.


"Apa kabar, Ronal? rasanya lama sekali kita tidak berjumpa." Sapa lelaki itu.


"Kamu...!" Alam mengepal tangannya dengan keras.


"Kenapa melihatnya seperti itu? Kaget? Oh, ya saya turut bersuka cita atas meninggalnya Gita. Selamat ya kamu jadi duda.......hahahahaa." Lelaki itu berlalu meninggalkan Alam.


"Kamu jangan lupa, Ronal. Adik sepupu saya yang kamu jebloskan ke penjara, adalah pemilik sah dari aset perusahaan ini. Kamu itu cuma anak tiri paham!satu lagi, saya kembali untuk menjaga aset perusahaan untuk Roki."


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2