
Saat mentari menyiratkan sinarnya, tampak kilauan cahaya dari balik jendela. Rembulan yang semalam menyinari malam mulai berganti peran. Terdengar kicauan burun melantunkan nada penuh cinta. Angin yang menyiurkan kesejukan pada yang merasakannya.
Tampak awan-awan mulai bergerak memutar bumi.
Di sebuah rumah kecil di gang sempit yang masih berada dalam lingkup Jakarta. Dimana Laras sudah satu minggu bermalam disana. Seminggu sepulang dari Jepang, Laras meminta pada suaminya bermalam dirumah orangtuanya. Dengan alasan rindu, sambil membersihkan rumah dimana dia dilahirkan.
Laras membuka jendela kamar dimana terdengar kokokan ayam serta kicauan burung milik tetangganya. Meskipun tempatnya gang sempit tapi kebersihan sangat terjaga.
Dihadapannya ada aliran air kali yang mengalir deras. Tapi namanya kali di jakarta tidak sejernih kali di desa-desa. Kali tersebut sering digunakan MCK oleh warga sekitar. Dulu saat kecil Laras, Adul dan Eva sering mandi disana. Hanya saat dia SMP, ayahnya membuat kamar mandi sendiri. Katanya anak gadis tidak bagus mandi campur lagi.
Laras berjalan menuju keluar kamar. Rangga, sang suami baru bisa tidur setelah subuh. Semalam suaminya mengeluh tidak bisa tidur karena suara muda mudi kumpul tengah malam. Ditambah laras hanya punya kipas angin kecil dan nyamuk yang nyantol pada Rangga. Laras tahu suaminya pasti kaget dengan kondisi lingkungan rumahnya. Maklum, Rangga terbiasa hidup mewah, tinggal di tempat yang nyaman.
"Pagi, sayang." Laras dikejutkan dengan pelukan yang menutupi punggungnya.
"Dah, bangun, mas. Itu aku buatin teh hangat dan ubi goreng." Balas Laras menunjuk menu yang dia siapkan di meja depan.
"Kamu nggak ada tv, sayang?" Rangga duduk di sofa belel ruang depan.
"TV dah dijual, mas. Buat pengobatan ibu dulu. Mas lihat kan nggak ada tv, nggak ada lemari, sudah di beli orang, mas."
Laras duduk disebelah suaminya, ikut menikmati ubi goreng.
"Maaf, ya mas. Gara-gara aku, mas Rangga malah nggak nyaman tinggal disini. Aku cuma mau ngecek keadaan rumah orangtuaku. Sekaligus melepas rindu gitu. Terus...."
"Aku nggak papa, sayang. Asalkan sama kamu, masa aku tega membiarkan istriku yang cantik ini mengerjakan sendirian."
"Mas, maaf,ya. Aku belum bisa memenuhi permintaan mama. Semalam aku cek, ternyata aku haid. Aku takut mama nanya lagi."
"Ras, mamaku nggak gitu kok. Asal kamu jujur sama dia, nggak masalah. Kita kan baru dua bulan menikah. Masih panjang waktu kita. Makanya mumpung sedang berdua dirumah yuk kita manfaatkan."
"Tunggu aku selesai, ya, mas."
"Lama,ya?" sahut Rangga sambil menarik pucuk kepala Laras keatas bahunya.
"Paling seminggu."
"Aku puasa lagi." Rangga mengurut dadanya pelan-pelan.
"Orang sabar di sayang tuhan." Laras mencubit pipi suaminya.
Laras hendak berdiri, namun Rangga menarik tubuh hingga terduduk menyamping diatas paha. Lengannya membelit pinggang Laras. Tangannya langsung menarik dagu wanita halalnya. Tangan Laras melingkar di leher Rangga. Menikmati indah cinta mereka yang bersemi setelah pernikahan.
Tangan Rangga yang lainnya menelusup ke dalam daster milik Laras. Sensasi nikmat yang diberikan suaminya membuat ******* terus berkumandang. Sebenarnya Rangga ingin melepaskan puncaknya, sayangnya dia baru ingat kalau istrinya sedang haid.
"Maaf, aku lupa." Rangga melerai tubuh istrinya lalu pergi ke kamar mandi.
"Aku juga minta maaf, mas. Buat kamu kepancing tadi." Laras berjalan ke dapur, mengecek bahan untuk diolah. Sambil menunggu abang sayur lewat. Laras mengecek jam, sudah pukul 08.00 tadi belum juga datang.
"Sayuuur!"
__ADS_1
"Sayuuuur!"
Laras mendengar teriakan abang sayur bergegas mengambil dompet. Kepalanya menyembul ke pintu kamar melihat suaminya asyik bermain gawai.
"Mas."
"Iya sayang?"
"Mau dimasakin apa?"
"Apa aja deh asal jangan jengkol sama petai"
"Wah, mas padahal itu enak banget loh. Ina aja suka sama mereka. Nambah lagi makannya." Rangga menjelit ketika Laras menyebut nama Ina.
"Wokeh deh, sayang. Aku kedepan dulu,ya" Laras dengan gesit langsung tancap gas menuju abang sayur.
Laras berjalan menuju gerobak abang sayur yang sudah dikerumuni para ibu-ibu dasteran.
"Eh, kalian dengar nggak berita si Nindy?" Bu Farida memulai gosipannya.
"Emang kenapa si Nindy, bu?" Yang lain ikut kepo.
"Dia hamil, nggak punya suami. Nikah aja belum udah nitip duluan."
"Bu, Farida dengar darimana? Jangan fitnah!" jawab bu Eko.
"Saya kan tetangganya, Bu. Tiap pagi saya dengar suara huek huek." Bu Farida masih tidak mau kalah.
Laras yang merasa disebut namanya langsung mendekati kerumunan ibu-ibu.
"Ada apa, bu?" Laras penasaran dengan cerita para ibu-ibu.
"Ras, kamu hamil ya? bu Farida tadi suara orang mual di sebelah rumah. Pasti kamu kan?"
Laras tersenyum mendengar cerita para ibu "Makasih bu, doanya. Tapi saat ini saya belum hamil, bu ... sekarang saja lagi menstruasi. Doakan saja secepatnya."
"Nah, berarti benar yang aku dengar tadi dari rumah Nindy." Bu Farida senang apa yang diberitakan bukan Hoax.
"Ras, kapan kamu hamil? Masa kalah sama Nindy yang belum nikah?" Sahut Bu Farida.
"Doakan saja,bu." Jawab Laras.
"Jangan lama-lama,Ras. Nanti kayak emak kau satu tahun menikah baru hamil."
Deg! Laras terkejut mendengar ucapan Bu Farida.
Benarkah Aku lahir setelah satu tahun pernikahan Ibu. Itu artinya aku memang bukan anak papa Donal.
Alhamdulillah itu artinya aku bukan anak Haram dan bukan saudara tirinya mas Rangga.
__ADS_1
"Ras, kau berapa lama pacaran sama suamimu?" Selidik bu Farida.
"Aku dan mas Rangga tidak pacaran, bu. Dia langsung mengajakku menikah."
"Masa? nanti kau malah tahu suamimu seperti apa. Nanti kau malah ditipu sama suamimu. Sekarang banyak laki-laki berkedok serius, tahu-tahu suami orang."
"Insyaallah enggak, bu" Jawab Laras sambil tersenyum.
Laras meninggalkan kerumunan ibu-ibu setelah menyelesaikan belanjanya. Pikirannya menerawang dengan ucapan bu Farida. Laras berlari seperti kesenangan tanpa sadar menginjak pisang yang tergeletak di jalan.
Saat Laras tergelincir menginjak pisang dari arah berlawanan motor melaju dengan kencang.
LARAAAAASSSS!
Laras tak tahu apa yang terjadi. Dia hanya mendengar suara orang-orang memanggil namanya. Bau anyir pun mengalir entah dari mana, dia hanya merasakan penglihatannya mulai kabur dan gelap.
klik
"Dokter bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Rangga saat dokter keluar dari ruang pemeriksaan.
Dokter hanya tersenyum sambil menepuk pundak Rangga.
"Istri anda tidak papa. Hanya ..."
" Hanya apa,dok?"
"Akibat tabrakan itu membuat kondisi kantong rahimnya bermasalah. Dan itu kalau tidak ditangani dengan baik, kalian akan susah dapat anak."
Lutut Rangga terasa lemas mendengar vonis dokter.
*
*
*
*
Hai-hai itu cuplikan sedikit tentang novel baru yang menceritakan tentang rumah tangga Laras dan Rangga. Nanti setelah tamat Kekasihku menantuku akan dipublikasikan.
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
__ADS_1
Bersambung