Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
35. Mama Maafkan aku.


__ADS_3

...Berdoalah kepada Tuhanmu dengan suara yg lembut, nah lembut disini bisa dgn suara pelan atau dalam hati kemudian rendah hati , seperti tidak menganggap dirinya itu sebagai orang hebat . Nah sesungguhnya Allah itu tidak suka pada orang² yg melewati batasannya....


...🍇🍇🍇🍇...


وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ يُغْشِى ٱلَّيْلَ ٱلنَّهَارَ يَطْلُبُهُۥ حَثِيثًا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَٰتٍۭ بِأَمْرِهِۦٓ ۗ أَلَا لَهُ ٱلْخَلْقُ وَٱلْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ


Artinya :


Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam ( Al araf ayat 54)


Klik


Rumah Sakit Kasih Bunda


Pukul 03:00


"Bagaimana keadaan Bu Kania,Dok?" Tanya Bi Narsih saat melihat dokter keluar dari ruang ICU. Setelah Kania sempat kejang-kejang dan ditangani Dokter.


"Maaf, Pak, Bu. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin.Tapi tuhan berkehendak lain, Bu Kania tidak tertolong. Dia sudah meninggal dunia. Kami turut berdukacita."


"Innalillahi wa Innalillahirojiun." Ucap Narsih dan Budi berbarengan.


"Ibuuuu..." Narsih langsung memeluk majikannya saat dibawa keluar dari ruang ICU.


"Ibu kenapa pergi secepat itu? Kenapa tidak menunggu non Ina pulang. Bu..!" tangis Bi Narsih pecah.


Bi Narsih dan Pak budi bingung harus mengurus admistrasi rumah sakit. Karena mereka hanya memegang tabungan seadanya. Biaya rumah sakit yang mahal.


Mereka masih berusaha mengabari Ina maupun Rangga. Tapi nihil karena keduanya tak bisa dihubungi.


"Ya Allah bagaimana ini, budi? baik non Ina maupun den Rangga tidak ada yang bisa dihubungi."


"Biar saya yang bayar, bu, pak."


"Mbak Mona?"


Mona tersenyum pada Bi Narsih dan Pak Budi. Kedua mengenal Mona sebagai mantan Pacar Rangga.


"Pokoknya Bibi dan Pak Budi tinggal beres. Ambulan sudah disiapkan untuk mengantar tante Kania ke rumah. Tapi Ina mana, ya?"


Bibi pun menjelaskan kalau Kania dan Ina sedang perang dingin. Bibi bilang pada Mona kalau Ina pergi dan sampai sekarang tidak bisa dihubungi.


Akhirnya setelah serangkaian administrasi diselesaikan. Petugas ambulans memasukkan jenazah Kania untuk dibawa ke kediamannya.

__ADS_1


Tiba dirumah jenazah Kania pun dibawa masuk. Bi Narsih dan Pak Budi pun ikut turun membantu.


Beberapa orang memindahkan jenazah Kania yang belum di kafani ke kasur lantai. Para warga sekitar kompleks pun ikut membantu.


"Kalau bisa kita mandikan dulu jenazahnya. Pagi ini langsung kita kuburkan."


"Jangan dulu, pak. Kami masih menunggu non Ina dulu."


klik


"MAAAAAMAAAA!"


Ina berlari menghambur ke sosok yang sudah terbujur kaku. Semua pelayat yang datang merasa iba, ada juga yang bisik-bisik.


"Narsih?"


Bi Narsih menoleh saat seseorang memanggilnya.


Wanita bertubuh tambun itu mendekati si pemilik suara.


"Non, Lia?"


"Ya Allah ini benar kamu narsih." Yulia menghambur tubuhnya ke arah Narsih.


"Bentar? Kamu bukannya kerja sama Kania kan. Apa sudah enggak sama dia lagi?"


"Non Lia kedalam dulu, nanti non akan tahu." Narsih mengajak Yulia masuk ke dalam rumah.


Yulia dan Dul masuk kedalam rumah. Sambil menggendong Sasha yang masih terlelap. Bi Narsih menjaga Sasha dikamar. Yulia mendekati Ina yang masih syok didepan jenazah Kania.


Yulia membuka penutup jenazah. Betapa terkejutnya ketika tahu siapa yang berada dibalik kain tersebut.


Kania!


Yulia merasa sesak setelah tahu bahwa Kania adalah mamanya Ina.


Jadi Ina anak Kania. Jadi Ina adalah anak dari perempuan itu.


Perempuan yang aku benci.


Perempuan yang datang ke kehidupan papaku lalu meninggalkan papaku.


Dan anak ini ...

__ADS_1


Aaarrrrggggh .....


Jadi selama ini gadis yang aku anggap anak sendiri.


Yang kuperlakukan sayang adalah anak Kania.


Yulia beranjak meninggalkan Ina yang masih menangis. Ada rasa tertipu setelah tahu siapa Ina.


"Pa, kita pulang." Ajak Yulia.


Dul yang duduk diteras luar, kaget saat istrinya mendadak minta pulang.


"Kita baru sampai, ma, Kasihan Ina."


"Mama bilang pulang, pa. Papa tidak kasihan dengan cucu kita."


Dul akhirnya memilih mengalah. Papa Dul masuk ke dalam untuk pamit dengan Ina. Tapi saat melihat jenazah mamanya Ina, Dul pun sama terkejutnya dengan Yulia. Pada akhirnya Dul paham kenapa istrinya mendadak minta pulang.


"Na, om pamit dulu, ya. Kamu yang sabar, ya, nak."


"Iya, Om. Terimakasih sudah antarkan Ina pulang. Tante Yulia mana, Om?"


"Tante sudah dimobil. Sepertinya dia lelah. Om pamit dulu, ya, na."


Bi Narsih mengantarkan Dul sampai didepan pagar. Bi Narsih paham dengan reaksi yang ditampakkan keduanya. Ingin rasanya cerita yang sebenarnya pada Yulia dan Dul, tapi sepertinya sekarang bukan momen yang tepat.


"Non yang sabar, ya. Ibu udah tenang, non. Ibu meninggal dalam keadaan husnul khotimah."


"Maksud bibi?"


"Ibu pingsan saat sedang sholat, non. Ibu sudah taubat, sejak non cuekin dia, diam-diam ibu mulai belajar agama. Dia malah minta bibi yang ajarin belajar sholat."


"Mama sholat,bi?" Ina seakan tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Seingat Ina mamanya tidak pernah sholat.


"Mama maafkan, aku. Maafkan yang tidak ada di saat terakhir mama. Maafkan aku, ma. Aku sempat membentak mama di telepon tadi." isaknya sambil memeluk tubuh Kania.


"Bi, sebenarnya mama sakit apa?"


"Bibi juga nggak paham, non. tapi kata pak Budi ibu ada sakit HIV."


Beberapa warga yang mendengar ucapan Narsih mendadak kaget.


"Bu, ibu kita pulang yuk. Nanti nular sakitnya." Ucap salah satu warga. Beberapa orang akhirnya ikut membubarkan diri setelah tahu penyakit Kania.

__ADS_1


Ina menangis saat melihat para pelayat malah mencibir ibunya.


__ADS_2