Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
58.Interview


__ADS_3

Laras duduk dikantin kampus. Didepannya tersaji menu yang menanti sang pemilik bibir untuk mencincang mereka. Tapi sayangnya sang penikmat itu belum juga menyentuh hidangan tersebut.


Laras mengaitkan omongan Ina tadi malam. Ada terselip rasa penasaran tentang soal donor jantung tersebut. Pikirannya terus berputar seolah mencari petunjuk.


Apa iya Angel pernah dapat donor jantung? Bukankah sembilan bulan yang lalu Ina yang melakukan operasi donor jantung? Tapi belum tentu juga sih, bisa jadi memang Angel yang memiliki jantung ponakannya Ina. Bisa jadi juga yang Ina dapat itu orang lain. Lagian yang donor jantung kan bukan dia doang.


Ah, puyeng jadinya. Bagaimana bisa Angel mengaku seperti itu? Aku tidak pernah mendengar Angel drop karena Jantung.


Aaaaaaargggg!


Laras menatap hidangan tersebut lalu melahapnya. Memikirkan masalah Angel membuatnya harus menambah energi asupan tubuh. Bukan apa-apa, bagi Laras apa yang dilakukan Angel pasti ada kaitannya pada Ina, secara sejak tahu Ina pacaran sama Rangga, Angel memusuhi sahabatnya.


Seandainya Ina bisa memberi pengertian pada Angel sejak awal. Mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Laras menyayangkan persahabatan mereka hancur hanya karena seorang lelaki.


Mata Laras tertuju pada dua gadis muda yang asyik bercengkerama di sudut kantin. Emosinya memuncak teringat cerita Ina semalam. Langkah kakinya menyeret kearah keduanya. Dengan cepat Laras menarik tangan Angel meninggalkan teman yang bersama Angel.


"Ada apa, Ras?"


Laras memicingkan matanya kearah Angel.


"Maksud kamu apa masuk ke keluarga Ina?"


Angel tertawa renyah "Jadi Ina ngadu sama kamu? Hih, dasar, ya tukang ngadu. Berani dibelakang oranglain." Angel dengan sinisnya.


"Jawab dulu, Ngel? Kamu ngapain masuk ke keluarga Ina? Mau kamu apa! Bukannya kamu harus senang mendengar putusnya Ina dan Kak Rangga. Itu kan yang kamu mau!" Laras mendorong bahu Angel.


Angel menjelit kearah sahabatnya "Bagi aku sekali pengkhianat tetap pengkhianat. Pengkhianat itu seperti kuman dan harus dibasmi. Sama kayak kamu, Ras. Pengkhianat!"


Laras mengacak pinggangnya "Aku bukan pengkhianat, Ngel."


"Lo pengkhianat, Ras. Jangan kamu pikir aku tidak tahu urusan kamu sama Ibu Ramida. Andai Ina tahu yang sebenarnya, apa dia masih mau nganggap sebagai sahabat. Andai Ina tahu orang yang sangat dia percayai nusuk dari belakang."


"Maksud kamu apa, Ngel. Jangan fitnah!"


"Lo itu sedang dimanfaatkan ibu Ramida, Ras. Dia pasti iming-iming mau kasih nilai A kan. Heeh, Laras ... laras ... please deh, ya."

__ADS_1


Laras terdiam. Angel pun memanfaatkan keterpurukan laras "Di hp ini ada bukti percakap kalian. Sewaktu waktu akan jadi BOM buat Ina. Hatinya semakin hancur karena satu persatu orang terdekatnya menikungnya dari belakang. Dari mamanya, kak Dodo, kak Rangga yang akan menikah dengan wanita lain, hingga kamu. Silahkan kamu bergerak menyingkirkan aku. Tapi ...." Angel menggoyangkan jari telunjuknya.


Angel pun meninggalkan Laras yang masih terpaku. Ucapan Angel memang sukses membungkam dirinya. Rasa sesak menyeruak didadanya. Rasa takut jika Ina tahu yang sebenarnya, rasa takut jika Ina memusuhinya, karena selama ini dia hanya punya Ina sebagai sahabat. Langkahnya terasa berat, dia melihat beberapa orang tertawa lepas, seakan menertawakan dirinya.


Laras menghembuskan nafas panjang. Mencoba positif thinking. Gadis itu melangkahkan kaki menuju ruang kelas. Tapi langkahnya terhenti pada sosok lelaki didepan.


"Kak Rangga?" Tanyanya heran.


"Iya, Ras. aku perlu bantuan kamu, Ras."


"Ada apa?" Rangga dan Laras duduk berdampingan didepan kelas.


"Bujuk Ina, Ras. Dia menghindar terus tiap aku mau bertemu." Jelas Rangga.


"Ya Jelaslah. Kakak sudah membohongi Ina, kakak tahu sendiri, Ina pernah terluka karena pengkhianatan kak Dodo dan Mamanya. Lalu apa bedanya kakak sama Kak Dodo. Sama aja!"


"Ras, ini bukan keinginanku. Itu semua rencana mamaku, please, Ras. Bantu aku." Rangga bersujud di kaki Laras.


"Oke akan aku usahakan semampunya. Tapi kalau Ina tetap menolak aku tidak bisa memaksa." Rangga bangkit dari sujudnya.


"Rumit kisahmu, Na." Setelah Rangga pamit, Laraspun kembali ke dalam kelas.


Ina duduk dimeja makan bersama kedua kakaknya. Sambil fokus dengan Gawainya, Ina melahap roti tawar tanpa toping. Membaca sebuah berita tentang pertunangan seorang anak pengusaha. Ina tahu siapa yang dimaksud, lalu mengalihkan dengan bacaan lain. Tapi ternyata berita itu sedang menjadi trending topik.


"Na"


Tak ada respon. Yulia tahu adiknya masih memikirkan masalah Rangga. Ina pun meninggalkan meja makan, tapi kakinya menubruk kaki kursi.


"Aaaaaawwww" Ina menjerit kesakitan.


"Makanya jangan melamun." Cetus Dul melihat adik iparnya kesakitan.


"Aku nggak melamun, kak. Oh ya katanya kakak mau carikan aku kerjaan, mumpung aku lagi cuti kuliah."


"Ada. Kakak sudah menelpon perusahaan itu, dan hari ini kamu interview."

__ADS_1


Ina kaget. Masalahnya dia belum siap apa apa.


"Kak, kok nggak ngomong dari kemarin sih." Ucapnya panik.


"Maaf, aku lupa, na. Kamu siap-siap, Na. Kakak tunggu."


"Maaf, kak perusahaan mana tempat aku bekerja."


"Perusahaan Spencer, Na. mereka lagi nyari lowongan staf magang."


"Kenapa nggak dikantor kakak aja sih."


"Belum ada lowongan kosong, na. Cepat, kakak cuma mengantar."


Spencer? kayak aku pernah dengar nama itu.


Ina bersiap-siap mengganti bajunya. Dia masih punya setelah jas milik mamanya. Ina memutar diri didepan cermin. Beberapa kali mengganti model rambutnya. Pada akhirnya dia tetap membiarkan rambutnya tergurai indah.


"Sudah siap." Ina mengangguk lalu pamit pada sang kakak.


Sepanjang perjalanan Ina membuka google, mencari tahu bagaimana menghadapi Interview. Meskipun dia sebenarnya grogi. Karena ini pertama kalinya dia interview meskipun jalur orang dalam.


"Nah, na. Ini kantornya... kamu masuk saja. Disana sudah ada yang menunggu." Ina menuruti permintaan sang kakak.


"Permisi mbak, saya Karina permata. Saya ada janji Interview." Sapanya pada resepsionis.


"Oh, iya. Anda sudah ditunggu diruangan. Mbak Alena ini ada yang mau di interview." panggil Resepsionis saat melihat Alena melintas.


Kok perasaan gue rada nggak enak, ya. Ah, jangan-jangan bos nya rada mesum nih. Ah, semoga saja tidak.


Ina sudah tiba di sebuah ruangan Direktur perusahaan Spencer. Alena sang sekretaris mempersilahkan Ina masuk.


"Pak, yang mau interview sudah datang."


"Suruh dia masuk." Ina hanya mendengar suara dibalik kursi. Tapi dia seperti mengenal pemilik suara tersebut.

__ADS_1


"Pak saya mau ..."


Kursi itu berbalik. Ina melotot saat tahu siapa bosnya.


__ADS_2