Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
46. Jadian


__ADS_3

Masih di rumah pohon


Ina membuka matanya ketika merasakan tangan yang kuat dan hangat. Tangan itu meluncur dari pucuk kepalanya. Ina mendongakkan kepalanya keatas menatap si pemilik wajah, senyuman pun terbit dari bibir lelaki tersebut.


Ina membangkitkan tubuhnya dari dekapan Rangga. Aneh, saat ini jantungnya tidak berdebar terlalu kuat pada lelaki yang sudah resmi menjadi kekasihnya. Padahal sebelumnya dia merasa getaran aneh setiap bersama Rangga. Rangga masih tak bergeming, Ina yang hendak berdiri kembali terhempas diatas paha lelaki itu.


"Kak"


"Hmmm .. apa sayang?"


"Ah, kok aku geli, ya?"


Rangga mengerutkan dahinya "Geli kenapa?"


"Dengar kakak bilang sayang kayak aneh rasanya."


"Mulai sekarang kamu harus terbiasa."


"Iii..iya kak."


Rangga menggoyangkan jari telunjuknya "Coba lagi."


"Kakak eh sayang."


"Lagi!"


" Udah, ah. Pulang yuk dah malam. Aku takut kak Lia cemas."


"Kak Lia? Siapa itu?"


"Kakak kandungku, anak dari papa kandungku."


Rangga sedikit tertawa "Kenapa baru sekarang mereka mencarimu. Kemana mereka saat kamu dan mamamu berjuang sendiri."


Ina hanya terdiam setelah mendengar ucapan Rangga. Sebenarnya dia juga sempat berpikiran sama seperti Rangga. Tapi Bi Narsih sempat bilang kalau sebenarnya keluarga itu tidak tahu keberadaan Ina dan Kania.


Rangga memandang wajah Ina sejenak, hingga kepalanya memagut bibir Ina dengan lembut. Ina terdiam, dia bukan menikmati momen itu, tapi entah kenapa sosok yang menyebalkan malah melintas dalam pejamannya. Sebelum semakin dalam Ina melerai pagutan itu.


Kenapa malah wajah dia sih?


Apa maksudnya Ini?


Ah, tidak, Ina.


Ina berdiri menatap jendela. Suara aungan anjing hutan membuatnya bergidik ngeri. Lalu tatapannya beralih ke Rangga yang mendekatinya.


"Kita menginap disini saja." Ucapnya sambil mencium leher Ina.

__ADS_1


"Nggak! Aku mau pulang, kak. Kakak cinta kan sama aku, kalau kakak cinta sama aku harus kakak menjagaku. Bukan malah mengajak hal yang tidak boleh."


"Na"


Ina mundur saat Rangga hendak mendekatinya. Dia memilih turun dari tangga. Rangga mengejar Ina.


"Na. Kamu dengarkan aku dulu. Bukan begitu maksudku. Kita menginap, kamu tidur disini biar kakak tidur di tenda." Rangga menunjuk tenda yang belum dipasang.


"Pokoknya aku mau pulang. Aku nggak mau bikin cemas mereka."


Rangga menghela nafas panjang "Oke...oke... kita pulang, ya, sayang." Rangga mengajak Ina membersihkan rumah yang berantakan.


Ina melirik jam di gawainya, waktu sudah menunjukan pukul 22:00. Ina dan Rangga akhirnya meninggalkan rumah pohon. Mereka sampai diparkiran mobil.


Rangga memacu mobilnya dengan cepat. Tampak suasana sangat sepi dan mencekam. Ina biasanya tertidur, tapi saat ini dirinya sulit memejamkan mata.


"Kak."


"Hmmm.. apa sayang?" Rangga membelai rambut Ina dengan lembut.


"Boleh nanya?"


"Waktu dan tempat dipersilahkan."


Ina terkikik " Kayak pelajaran bahasa Indonesia aja."


"Aku dan Jihan bersahabat, karena orangtua Jihan dan orangtuaku terlibat kerjasama perusahaan."


Ina terdiam. Dia pernah mendengar kalau perusahaan bekerjasama pasti ada perjodohan bisnis " Nggak ada perjodohan gitu?" Rangga mengerutkan dahinya. Heran kenapa Ina memberikan pertanyaan itu " Enggak kok, Jihan sudah punya pasangan dan aku sekarang pun sudah punya seseorang, yaitu kamu."


"Ooo.."


"Na, kamu yakin kan sama aku. Bila nanti waktu yang tepat aku akan bawa kamu ke hadapan mama Raya dan papa Donal. Kamu tahu momen ini sudah lama aku tunggu." Rangga mengecup jari Ina.


Klik


Pukul 01:00


Sementara hari sudah larut. Yulia duduk diteras menunggu sang adik pulang. Dul yang melihat kegelisahan sang istri datang menghampiri. Dul paham Yulia mencemaskan sang adik yang belum pulang ke rumah.


"Ma, kedalam, yuk. Anginnya kencang, nggak bagus untuk kesehatan." Bujuk Dul pada Istrinya.


"Tapi, pa ..."


"Ma, biar aku yang nunggu. Mama istirahat aja." Alam muncul melihat mama mertuanya masih memikirkan Ina.


"Biar mama aja, Lam. Kamu temenin Shasa aja."

__ADS_1


"Ma, biar aku aja. Bukankah ini tugasku sebagai bodyguard Ina."


"Nah, ma. Dengar kata Alam, biar dia aja. Dia masih muda. Fisiknya masih kuat." Dul menuntun Yulia untuk masuk kedalam.


Ina ... Ina ....


Baru seminggu disini kamu sudah bikin khawatir.


Perlu ditegur Ini.


Alam menggelengkan kepalanya mengingat tingkah mertua mudanya. Baru selangkah dirinya berdiri, dia mendengar suara mobil berhenti diluar lalu menginstruksi satpam membuka pagar.


Tampak Ina berjalan bergandengan dengan Rangga.


"Bagus ... Dia enak enak pacaran sementara mama disini cemas memikirkan adik kesayangannya." Gumamnya dalam hati.


Alam masuk kedalam rumah setelah melihat adegan mesra dihadapannya.


"Nah sayang, kamu masuk. Udah malam."


Cup!


Rangga mengecup kening Ina dengan lembut.


"Nah sayang kamu masuk sudah malam. Hueeeeks. Tua tua keladi makin tua makin lebay.".Ejek Alam yang menengok kemesraan itu dibalik jendela samping pintu.


Ceklek!


Ina lega pintunya tidak dikunci, dengan mengendap ngendap kakinya melangkah kearah tangga menuju kamarnya.


Baru satu langkah kakinya menuju tangga, tiba-tiba lampu ruang tengah terang benderang. Muncul Alam dengan wajah ketusnya. Ina sedikit lega karena yang muncul bukan kakaknya.


"Bagus... jam segini baru pulang. Habis darimana?" tanya Alam tegas.


Ina menghembuskan nafas. Entah kenapa dia tidak terlalu takut dengan menantunya ini. Tapi rasa takut terbersit kalau Alam mengadu pada kakaknya.


"Jalan ke vila keluargaku." Jawab Ina tanpa melepas tatapannya kearah lelaki itu.


"Berdua? Keren ... belum muhrim aja udah berdua di vila. Ngapain aja kalian?"


"Bukan urusan kamu." Ina melangkah menuju tangga tapi tangannya keburu ditarik Alam, karena tidak seimbang tubuh Ina terjatuh menindih Alam.


"Ngapain kalian!"


"Ina, masuk!" perintah Yulia.


Ina hanya menunduk mengikuti perintah sang kakak.

__ADS_1


"Kamu juga Alam. Masuk!"


__ADS_2