Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
62. Undangan


__ADS_3

Jihan mendatangi kantor Spencer untuk mengantarkan undangan pernikahannya. Alam saat tahu kalau Jihan yang datang mencoba meminta Jihan menemuinya di lobby kantor. Lelaki itu takut Ina down saat melihat undangan tersebut.


"Emang kenapa, Lam?" Tanya Jihan masih bingung dengan sikap Alam.


"Nggak papa, kak. Aku pengen ketemu di lobby aja. Mana undangannya?"


Jihan menyerahkan undangan ke tangan Alam. Ada dua undangan yang diberikan Jihan.


"Itu untuk Ina." Ucap Jihan.


Lelaki itu menjelit kearah Jihan. Tatapannya belum bisa dicerna oleh Jihan.


"Kenapa kak Jihan mengundang Ina? Biar pamer kalau kakak berdiri dipelaminan dengan kak Rangga gitu?" Terdengar nada ketus dari suara lelaki itu.


"Bukan gitu, Lam. Aku..." Jihan tak bisa menjawab apa-apa.


"Apa, kak? Kakak perempuan kan, pasti paham bagaimana sakitnya melihat seseorang yang kita cintai bersanding dengan orang lain. Kalau kakak punya perasaan kakak tidak akan tega mengundang Ina. Itu kalau masih punya perasaan sih?"


Jihan hanya terdiam. Pernikahan ini juga bukan kemauannya. Kalau dia bisa memilih pasti dia tidak akan menerima perjodohan itu. Tapi nyatanya Rangga tetap menjalankan rencana orangtua mereka. Walaupun Jihan tahu hati dan pikiran Rangga tak terarah untuk dirinya. Jihan menatap kaca lobby mencerna ucapan Alam. Mungkin bagi Alam, Jihan tak punya perasaan. tapi bagi Jihan, yang dia lakukan semata mata demi kedua orangtuanya.


"Aku pamit, Lam. Jangan lupa datang lusa ke pernikahanku." Jihan meninggalkan Alam yang acuh padanya.


Lelaki itu beranjak dari Lobby menuju ruang kerja. Dia bahkan membuang undangan untuk Ina. Karena diyakininya undangan itu hanya akan menyakiti perasaan Ina.


Sementara Jam makan siang sudah tiba. Ina memasuki kantin khusus karyawan. Matanya mengedar mencari tempat kosong. Tampak beberapa karyawati yang menatapnya, Ina menelan salivanya, sayup-sayup terdengar bisikan.


"Eh, itu OB baru yang titipan ya?"


"Iya, darimukanya kayaknya masih polos."


"Tapi sejak dua hari kerja disini dia lebih sering bolak balik ruangan pak Ronal."


"Mungkin dia servis pak Ronal juga. Tau sendiri kalau pak Ronal baru saja ditinggal mati istrinya. Pasti kesepian deh." Kikik beberapa karyawan menatap sinis kearah Ina.


Ina hanya menunduk malu. Dia memilih duduk dikursi sudut dekat dapur. Mencoba menikmati menu sederhana, tapi pikirannya terpacu pada kata-kata negative yang mengarah padanya.


"Hai"


Tiga orang wanita duduk didekat Ina. Tatapannya ramah, membuat Ina sedikit tenang.


"Hai aku Nofi khanza, karyawan yang kece di kantor ini." Ucap Nofi menyodorkan tangannya pada Ina.

__ADS_1


"Karina."


"Namaku Menik." Ucap Menik yang ikut bersalaman dengan Ina.


"Aku Alena. Sekretarisnya pak Ronal." Alena pun menyodorkan tangannya pada Ina.


"Makasih kalian mau temenan sama aku." Jawab Ina malu-malu.


"Its Okey. Soalnya aku yakin kamu senasib dengan kami. Tim yang gedek sama sifat pak Ronal." ucap Alena sambil menyantap menunya.


"Dulu pak Ronal nggak gitu. Dulu orangnya ramah, humoris dan rada narsis. Tapi semenjak istrinya meninggal dunia dia jadi ketus. Tanya aja sama yang Alena selalu salah dimata bos kita." cerita Nofi yang sudah lama kerja di perusahaan Spencer.


"Humoris?"


Rasanya Ina mau tertawa mendengar cerita para karyawan. Sedangkan selama dirinya mengenal Alam, lelaki itu selalu memasang muka ketus.


Ina hanya mengangguk ketika mendengar cerita ketiga teman barunya. Mata mereka menangkap wanita yang melintas "Itu mbak Rasty. Dia itu HRD disini." Bisik Nofi.


"Tapi kamu mirip seseorang, deh." Nofi mencoba mengingat-ingat.


"Sok tau kamu, neng." Menik menepuk jidat Nofi.


"Aku kan belum selesai menebak." sergah Nofi.


"Ina!" Panggil Alam saat gadis itu melewati ruang rapat.


"Iya, pak."


"Kamu tolong temani Shasa. Tadi dia tidur diruangan saya. Takutnya dia bangun."


Dalam perjalanan ke ruangan Alam, tiba-tiba terlintas ide menghubungi seseorang. Tangannya dengan lincah menari diatas layar.


"Halo."


"Kamu bisa kesini, kan?"


"Oke. aku tunggu."


Satu jam kemudian.


Alam baru selesai rapat, tubuhnya remuk karena aktivitas yang menyita waktu. Dengan gagah dia memasuki ruangannya. Matanya membulat melihat siapa yang sedang asyik bermain dengan putrinya.

__ADS_1


"Ngapain kamu disini?" Ucapnya ketus.


"Aku rindu Shasa, kak. Nggak tahu aku ngerasa dekat dengan Shasa."


Apa mungkin benar dia yang menerima jantung Gita?


Tapi kenapa aku merasa tidak punya rasa kedekatan pada gadis ini.


Kok aku ngerasa lebih dekat sama ...


Ah ngaco kamu, Lam


Alam menatap Angel yang masih asyik bermain bersama Shasa. Dari balik pintu ada sepasang mata yang mengacungkan jempol kearah Angel.


klik


"Assalamualaikum."


Hari ini Ina sengaja pulang cepat. Kakinya melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Tubuhnya gerah setelah seharian dikerjai Alam. Disuruh ini itu yang menurutnya bukan pekerjaannya. Bahkan lelaki itu membawa Shasa ke kantor. Kalau mengingat hal itu hanya kekesalan yang ada dibenaknya.


"Kualat tuh anak! sama mertua nggak ada segannya." omel Ina.


Selesai mandi Ina turun kebawah. Perutnya terus berdemo sehingga Ina pun melangkahkan kakinya ke dapur.


"Eh, non Ina. Sudah pulang?"


"Sudah, bi. Kok sepi sih? Kak Lia mana?"


"Ibu sama Bapak pergi tadi, non."


"Kemana?"


"Bibi nggak tahu, non."


Ina melangkah kaki ke meja makan, melahap habis mie goreng yang dibuatnya tadi. Matanya tertuju pada selembar kertas didekat meja makan. Tangannya gemetar ketika membaca isi lembaran itu.


Jadi mereka benar akan menikah?


Jadi janji yang diucapkan kak Rangga hanya palsu.


Rasanya sakit sekali ya Allah!

__ADS_1


Berasa ditujam berkali kali.


__ADS_2