
"Kakak sudah pulang." Ina menyalami sang kakak lalu membawa barang bawaan Yulia.
"Sudah, Na. Kamu tahu kakakmu sepanjang osaka memikirkan kamu. Takut kamu nggak ada yang jagain. Pokoknya kakakmu rewel banget." Adu Dul.
Ina tergelak melihat wajah Yulia menekuk karena diadukan suaminya. Dia juga memaklumi kalau rasa khawatir itu sebagai tanda rasa sayang.
"Kakak lihatkan, aku baik-baik saja. Lagian ada kak Rangga yang memperhatikan asupan giziku. Ada Rio yang menjagaku. Jadi kakak tenang saja, kalau ada apa-apa pasti Rio ngabarin kakak."
"Ngomong soal Rio, kakak ketuk kamarnya kok nggak nyahut, ya? Soalnya mama nya tadi pesan suruh Rio ke Osaka."
"Mungkin Rio lagi keluar kak."
"Bisa jadi? Eh, gimana? sudah dapat info soal tes masuknya kapan."
"Aku sudah ikut ujian onlinenya, kak. Tinggal menunggu hasilnya. Semoga dapat."
"Bagaimana kalau kamu nggak lulus nanti?" Tanya Yulia.
"Ya, mungkin aku ikut kuliah di jakarta saja."
"Jangan! Kamu kuliah dibelanda saja. Kan nanti ada Ilham disana." Cegah Yulia.
"Kenapa, kak? Apakah aku jadi beban buat kakak? Kakak tenang saja, aku akan pulang ke rumah lama. Kata kak Rangga rumahku sampai sekarang belum ada yang nempati."
"Bukan gitu maksud kakak, na. Kakak ingin kamu belajar mandiri. Kamu kan penerus papa, Nak. Jadi harus benar-benar dipersiapkan." Jawab Yulia takut adiknya salah paham.
Kedua pasangan suami istri itu duduk disofa. Memandang suasana apartemen yang bersih mengkilat. Yulia yakin bukan Ina yang mengerjakan ini semua.
"Kok bersih, ya? kamu yang bersihin?" Tanya Yulia.
"Bukan, kak. Kak Rangga yang mengirim pegawainya untuk melayani aku. Dari membersihkan rumah, antar jemput, dan lain-lain. Aku jadi nggak enak sama kak Rangga. Selama aku disini sudah banyak merepotkan dia."
Yulia tersenyum simpul mendengar cerita. Ada rasa simpati atas semua yang dilakukan Rangga untuk Ina. Yulia yakin Rangga benar-benar mencintai Ina. Terbersit untuk mendukung kembali hubungan keduanya yang sempat kandas. Apalagi Rangga tidak jadi menikahi Jihan karena cintanya pada Ina.
"Na." Yulia merapatkan duduknya disamping adik semata wayangnya.
"Kakak merestui kalian. Kakak tahu kamu masih mencintainya. Setelah semua badai yang kalian lalui dan ini yang membuat kalian semakin dekat. Na, Kakak ingin bertemu dia. Hubungi dia kita akan makan malam."
"Maksud kakak, Kakak sudah menyetujui kami. Kakak tidak marah lagi kalau aku sama dia."
__ADS_1
Ina merasa senang karena Yulia merestui hubungannya dengan Alam.
"Kak Dul dengar! Kak Lia sudah merestui kami." Ucapnya penuh bahagia.
"Iya, Na. Kamu senang sekali sepertinya. Ya, udah cepat hubungi Rangga. Minta dia datang ke acara makan malam untuk memproklamirkan hubungan kalian."
Deg!
Jadi lelaki yang dari tadi dibicarakan kakak adalah Rangga. Ya, Allah aku harus bagaimana sekarang? Aku tidak mencintai kak Rangga. Tapi aku mencintai lelaki lain. Walaupun mungkin kami memang tidak akan bersatu. Apa memang tidak ada celah untuk kami.
"Aku cuma mengabari kalau aku sudah menemukan pemilik jantung Gita. Aku akan menikahinya sesuai janji wasiat dengan Gita."
Iya Jika dia jauh-jauh kesini cuma untuk mengabariku soal pemilik jantung Gita. Jika memang dia berniat menikahi orang itu, tandanya kami memang sudah selesai sampai disini. Itu artinya aku memang harus menerima kak Rangga. Karena sudah banyak dia korbankan untukku.
"Iya, kak. Aku akan menghubungi kak Rangga." Ina mencoba tetap ceria didepan sang kakak.
Ina merasa handphone bergetar lalu mengangkatnya.
"Hallo Assalamualaikum"
"Na, ini aku, Laras" Terdengar suara isak tangis dari seberang sana.
"Ibu, Na. Ibu sudah nggak ada. Aku sekarang sendiri. Aku sebatang kara sekarang."
"Innalillahi wa innalihahi rojiun. Kamu yang sabar,Ras. Aku yakin kamu kuat." Ina menguatkan sahabatnya.
"Hiks..hiks...hiks... Waktu aku mau kerja badan ibu panas. Seandainya aku nggak berangkat kerja, mungkin ... mungkin .... hiks...hiks."
klik
Langit malam mulai bergulir, memamerkan cahaya indah meskipun udara dingin menyengat. Membuat sang penikmat cahaya merasakan kenyamanan.
Seorang lelaki berjalan mengitari pusat kota Tokyo. Menatap tumpukan es berwarna putih. Menutupi aktivitas kota bunga Sakura tersebut.
Alam terus berjalan tanpa lelah. Antara menikmati suasana salju tapi pikirannya entah kemana. Melihat sikap Ina tadi, sungguh membuatnya bertanya-tanya. Apa salah kalau dia memperjuangkan cintanya? apa haram kalau dia berpacaran dengan Ina? Alam masih belum paham dengan semua ini.
"Kau yang memulai, kau yang mengakhiri. Kau yang berjanji kau yang mengingkari"
Suara Alam bernyanyi sebuah lagu, menyumbangkan perasaan hatinya. Mungkin benar kata Dilan " Rindu itu berat" Seperti yang dia rasakan saat ini. Saking beratnya dia sudah tidak bisa menahannya. Helaan nafas berat, saking beratnya keluar kepulan asap dari mulutnya.
__ADS_1
Setelah lelah menjajaki kaki berkeliling pusat kota, Alam pun memasuki pusat perbelanjaan terdekat. Kakinya lelah berjalan, lalu memberhentikan diri pada sebuah cafe kecil. Lama lelaki itu merenung tanpa memperdulikan orang lalu lalang didepannya. Bahkan waitress yang sedari tadi bertanya tak didengarkannya.
"Sumimasen, nani o chūmon shimasu ka?" ( permisi,pak. anda mau memesan apa?)
Alam memandang kearah waitressnya. Jujur dia belum fasih bahasa Jepang. Meskipun dia pernah sekampus dengan orang Jepang saat di-Korsel dulu. Tapi mereka sudah fasih bahasa korea sehingga tidak menyulitkan bagi Alam.
"What's the best-selling menu here?( Disini ada menu apa yang paling laris? )"
Can you speak English?( bisakah anda berbahasa inggris?)"
"Yes I can (iya, saya bisa)." Jawab Waitress itu dengan mantap.
"I want a special green tea here ( Saya mau teh hijau khas disini."
"ok, something else?(oke, ada yang lain?)"
"I think that's enough for now (Saya rasa cukup itu saja dulu)." Waitress pun undur diri hadapan Alam. Lelaki itu fokus dengan gawainya. Setelah beberapa menit dia merasa bosan.
Pandangannya beralih disebuah pertokoan yang memajang gaun cantik anak-anak. Senyumnya mengembang membayangkan putrinya menggunakan gaun tersebut. Hanya saja dalam lamunannya, Shasa sudah besar dan tersaji kue ulang tahun dengan lilin angka 5.
"is this your order sir" Sapa seorang waitres yang berbeda dengan yang tadi.
"Thanks you." Balas Alam.
Alam kembali menikmati kesendiriannya, dihadapannya tersaji teh hijau yang mulai mendingin. Tatapan kembali terfokus dengan gaun tadi. Berharap besok bisa kembali dan membelikan untuk Shasa.
"Tuhan aku ingin sekali membahagiakan Shasa. Jadi kumohon jangan kau beri penderitaan padanya. Aku ingin melihatnya tumbuh. Melihatnya tersenyum bahagia, bermain bersama teman-temannya. Jika bisa kumemilih biar aku yang sakit bukan dia."
...****...
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
__ADS_1
Bersambung