Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
45. Cerita Rumah Pohon


__ADS_3


Tuhan berikan aku hidup satu kali lagi


Hanya untuk barsamanya


Ku mencintainya sungguh mencintainya


Rasa ini sungguh tak wajar


Namun ku ingin tetap bersama dia


Untuk selamanya


Rasa ini sungguh tak wajar


Namun ku ingin tetap bersama dia


Untuk selamanya


9 tahun yang lalu


"Kita mau kemana, pa?" Tanya Ina pada Aryo.


"Kita mau jalan-jalan, sayang." Aryo membelai rambut sang putri. Sedangkan tangan sebelahnya sibuk memegang setir mobil.


Ina meliuk ke bangku belakang, mama dan kakaknya pun tak ikut. Helaan nafas panjang, hanya Aryo yang ingat kalau sekarang ulang tahunnya yang ke 10.


"Mama dan Kak Rangga nggak ikut, pa?"


"Mamamu masih ada kerjaan sayang, Rangga juga ada tugas sekolahnya."


"Oooo..."


"Hey, anak papa mukanya gitu, sih. Ini kan hari ulangtahunmu, nak. Ntar nggak cantik lagi." Goda Aryo sembari fokus menyetir.


Mobil terus melaju kearah cibubur. Tampak Ina sudah tertidur lelap. Aryo menelpon seseorang.


"Gimana?"


"Kami sedang on the way sekarang."


"Oke."


Aryo sengaja mengajak Ina liburan ke cibubur karena mau memberi kejutan buat putri sambungnya. Rasa sayangnya pada Ina sangat besar, mungkin karena dirinya tak punya anak perempuan. makanya saat dikenalkan oleh Kania, Aryo langsung akrab dengan Ina.


"Na ... Kita sudah sampai."


Gadis kecil itu menggeliat, merenggangkan otot tubuhnya yang lelah. Padahal dia hanya duduk manis dikursi mobil. Tapi rasanya seperti sehabis kerja berat.

__ADS_1


"Kita dimana, pa?"


"Udah ikut aja." Aryo menutup mata putrinya lalu menuntun jalan yang masih dikelilingi hutan. Ina merasakan udara segar yang belum pernah didapatkannya.


"Masih jauh, pa."


Yang ditanya hanya diam saja. Tangannya masih sibuk menuntun sang putri. Jalanan yang masih dipenuhi bebatuan dan akar pohon yang menebal.


Tiba-tiba Ina merasakan langkahnya dihentikan.


Tutup mata dibuka.


"Tadaaaaa..." Teriak Aryo.


Ina menatap takjud sebuah rumah kecil yang bertengger di pohon besar. Kakinya melangkah mendekati rumah tersebut.


"Haaaaiiii"


Sosok lelaki yang timbul di jendela rumah tersebut. Mata Ina berbinar saat menatap siapa yang berada diatas. Kaki kecilnya pun menaiki tangga. Tapi saat menaiki tangga kedua Ina menatap kebawah, dia pun takut ketinggian, pada akhirnya memilih kembali turun.


Rangga yang sudah berada di atas ikut turun menuntut sang adik. Dia merelakan punggungnya dinaiki sang adik.


"Jangan lihat bawah. Liat kakak aja."


Ina pun menyembul di balik leher Rangga. Menghirup harumnya wangi tubuh sang kakak. Mereka pun sampai diatas. Ruangan yang hanya muat untuk mereka berdua.


Ina meniup lilin yang berjumlah sepuluh.


"Make a wish."


Tuhan jika aku diberi umur panjang. Aku ingin mama selalu sayang padaku. Jika aku dewasa nanti aku ingin punya suami seperti kak Rangga. amin. Doa nya dalam hati.


"Sudah." Ina membuka matanya.


"Apa doanya?" Tanya Rangga.


"Mau tauuuu aja." Ina mencoletkan mentega kue ke hidung Rangga. Mereka pun menikmati kue ulangtahun bertiga.


Tahun ini aku kembali melewati ulang tahunku tanpa mama.


Merekalah yang selalu ada buat aku.


Mereka lah keluargaku sebenarnya.


"Ini buat sendiri?" Tanya Ina pada papanya dan kakaknya.


"Rangga yang buat khusus buat kamu, na."


Ina menghambur memeluk sang kakak.

__ADS_1


"Makasih kakakku tersayang."


"Apa sih yang enggak buat adik kakak." Rangga menjentik hidup Ina.


Namun ternyata ini adalah ulang tahun terakhir bersama Aryo. Satu tahun kemudian Aryo meninggal dunia karena serangan Jantung. Pada saat yang sama Rangga dijemput tante Raya untuk pulang bersama mama kandungnya.


Sejak itu Ina merasa kesepian. Bi Narsih dan Pak Budi yang dianggapnya sebagai orangtua pengganti, walaupun masih ada sang mama. Dia tetap merasa tak punya mama.


Di masa sekarang


Ina melangkahkan kakinya menuju hutan kecil bersama Jihan. Aroma khas pepohonan masih terasa olehnya. Langit mulai menampak cahaya berwarna jingga. Senja yang tampak indah seolah menyambut kedatangannya. Sembilan tahun yang lalu pertama dan terakhir dirinya menginjakkan kaki di tempat ini, tempat kenangannya.


"Na."


Jihan membuyarkan lamunan Ina. Dia sendiri akan sangat takut pulang sendiri, karena pasti Rangga sangat ingin berduaan dengan Ina. Jihan sangat yakin Ina punya perasaan yang sama pada Rangga.


"Ya, kak Jihan."


"Kamu masuk ke dalam."


"Terus kak Jihan gimana?"


Jihan hanya tersenyum getir " Aku pulang. Ada Rangga yang menunggumu." Jihan perlahan menjauh dari Ina. Entah kenapa ada rasa sesak menyeruak di dadanya.


"Kak Jihan ...!" panggil Ina.


Langit mulai gelap. Ina masih gelisah melihat Jihan menerobos hutan. Saking gelisahnya dia tak menyadari tubuhnya dililit tangan yang sedari menyandarkan dadanya di punggung gadis.


Ina memutarkan tubuhnya kearah pemilik tubuh tersebut. Memberikan senyuman terbaiknya, membalas pelukan sang kakak, menikmati aroma tubuh wanginya tak pernah berubah.


"Na"


Rangga membungkukan tubuhnya didepan Ina. Kotak merah pun maju dihadapannya.


"Na, Aku tahu kamu pasti bingung kenapa aku ajak kesini. Kamu tahu, na. Hari-hariku selalu dihiasi sosokmu, setiap nafasku tujuanku adalah kamu. Pokok nya apa pun yang aku lakukan adalah untukmu."


"Kak"


"Na, aku mencintaimu sejak kita jadi saudara. Aku mencintaimu lebih dari nyawaku sendiri. Kamu tahu, na, setiap kebersamaanmu dengan Dodo, selalu asma didadaku, tapi aku pun menyadari kamu menganggapku tak lebih saudara.


Na, Aku tahu ini akan menjadi hal yang tabu buatmu."


"Na, kamu pilih jika kamu menolakku tutup kotaknya. Jika kamu menerimaku pakai cincinnya."


"Oke. Tapi kakak tutup mata dulu."


Rangga menutup matanya. Dia mendengar suara kotaknya ditutup. Didalam hatinya, sangat meyakini kalau dirinya sudah ditolak.


"Buka matanya." Rangga melihat kotak cincin sudah ditutup. Nafasnya terdengar melemah. Dibukanya kotak cincinnya ternyata kosong.

__ADS_1


__ADS_2