
Sebuah ruangan ruangan berukuran 4x4 ramai dengan beberapa orang wanita. Para wanita memakai seragam biru langit dengan paduan celana standar berwarna senada dengan atasan. Berbagai kisah tercetus dibibir yang berbeda. Sambil bertukar kisah mereka masih sibuk memasang beberapa alat dekorasi.
Besok adalah ulang tahun Shasa yang pertama. Staf OB yang diutus kantor ada Ina, Nofi, Intan dan Lela.
Mereka merayakan ulang tahun Shasa di kediaman Gunawan. Tentu saja penentuan lokasi menjadi perdebatan antara dua oma tersebut. Marni mau ultah cucunya dirayakan pada gedung milik keluarga Spencer. Sementara Yulia ingin ulang tahun cucunya diadakan dikediaman mereka.
Ina yang puyeng melihat perdebatan tersebut. Gadis itu memilih mengajak teman-temannya beristirahat di kamarnya.
"Ini kamar kamu, Na?"
Intan berputar mengelilingi kamar Ina yang luas. Kamar yang menurutnya dua kali lebih luas dari kamar kostnya.
"Iya, kak Intan." Jawab Ina malu-malu.
Intan memegang beberapa barang dikamar Ina. Barang yang diyakininya lebih gede dari gajinya. Semua membuatnya takjud tiada henti.
"Jangan macam-macam Intan. Kalo rusak nanti kamu nggak bisa ganti." Protes Nofi.
"Sirik aja, kamu. Ina nya aja nggak masalah."
Intan membuka laci nakas Ina. Matanya beralih ke sebuah cincin yang ada didalam kotak tembus pandang.
"Na, Ini cincin yang kamu pakai kemarin kan? Kok dilepas."
"Ya ampun Intan lancang banget kamu, ya! Balikin lagi ke kotaknya." Sahut Lela.
"Na, maaf ya. Emang si Intan ini rada katrok. Malu-maluin aja!"
__ADS_1
Ina tersenyum dengan tingkah teman-temannya. Dia tidak pernah mempermasalahkan soal barang-barang dikamarnya. Toh, itu bukan miliknya melainkan milik Gita.
"Iya. Sengaja aku lepas." Jawab Ina.
"Ini ada namanya Ronal. Ronal yang mana, Na?" Tanya Intan mulai kepo.
"Oh, Itu cincin nikahnya mendiang ponakanku." Jawab Ina dengan santai.
"Oooo ... Siapa ponakanmu?" lanjut Intan menginterograsi Ina." Awww..." Intan meringis saat Lela mencubit bokong temannya "Lo bisa diem nggak, tan." protes Lela.
"Gita." Jawab Ina masih santai dengan gawainya.
"Whaaat!" Ucap mereka berbarengan.
"Kenapa?" Ina heran dengan sikap ketiga temannya.
"Bukan Gita istrinya pak Ronal, kan."
"Na, kamu kenal sama Kania Aulia." Ucap Nofi sambil memegang sebuah figura di nakas dekat ranjang.
"Itu, mamaku."
"Astaga Ina. Jadi kamu anaknya Kania Aulia model terkenal itu. Kamu tahu nggak, Na? Aku ngefans banget sama mama kamu. Sekarang dia dimana? boleh nitip tanda tangan nggak?" Nofi sudah mengeluarkan kertas dan pen.
"Ada diatas."
"Diatas mana, Na. Bukannya ini lantai paling atas."
__ADS_1
"Di surga. Sudah dijaga sama Allah."
"Innalillahi wa innalillahi rojiun. Maaf, Na. saya nggak tahu kalau mama kamu sudah meninggal."
"Nggak papa, kak Nofi."
Ina berdiri didekat jendelanya yang mulai turun rintik hujan. Menatap hitamnya langit. Rintik gerimis terdengar menderu. Beberapa saat kemudian Ina menyembulkan diri didepan jendela.
Nofi dkk menyerukan Ina untuk menutup jendela. Beberapa saat setelah jendela ditutup, Ina mengajak teman-temannya turun kebawah.
Disudut teras kediaman Gunawan, tampak seorang gadis yang menatap sebuah figura. Mendekati seorang bayi kecil yang sedang bermain. Sang ayah bayi pun tak jauh dari anaknya. Duduk ditenda bermain bersama putrinya.
"Mereka serasi, ya." Puji Yulia saat melihat Angel berbaur dengan Alam dan Shasa.
"Mama yakin kalau dia yang menerima jantung Gita. Papa kok masih belum percaya."
"Yakin, pa." Jawab Yulia dengan tenang.
Maafkan mama, pa. Sebenarnya mama tahu kalau Angel itu berbohong. Sebab mama takut jika Alam tahu siapa pemilik sebenarnya. Mama lakukan ini demi kebaikan Shasa.
Ina turun menuruni tangga. Sebuah pemandangan layaknya keluarga bahagia. Lama Ina mematung, meresapi apa yang bergolak dihatinya. Mencoba menenangkan diri.
"Na"
"Eh, kak Eja."
"Aku pengen ngajak kamu jalan. Boleh?"
__ADS_1
Alam masuk kerumah sambil berjalan kearah dirinya. Ina berbalik menatap Reza, sambil membetul kemeja yang dipakai Reza.
"Kita jadi jalan 'kan kak Eja."