
Di daun yang ikut mengalir lembut
Terbawa sungai ke ujung mata
Dan aku mulai takut terbawa cinta
Menghirup rindu yang sesakkan dada
Jalanku hampa dan kusentuh dia
Terasa hangat, oh, di dalam hati
Kupegang erat dan kuhalangi waktu
Tak urung jua kulihatnya pergi
Tak pernah kuragu dan s'lalu kuingat
Kerlingan matamu dan sentuhan hangat
Ku saat itu takut mencari makna
Tumbuhkan rasa yang sesakkan dada
Kau datang dan pergi, oh, begitu saja
Semua kut'rima apa adanya
Mata terpejam dan hati menggumam
Di ruang rindu kita bertemu
Suasana kediaman Spencer tampak lenggang. Beberapa orang yang sudah tenggelam dengan aktivitasnya masing-masing. Salah satunya Alam, lelaki itu tenggelam dengan laptop didepannya. Sesekali mengecek gawainya. Kacamata yang menutupi matanya sekarang berpindah ke atas meja. Tangannya mengerut ke keningnya menandakan kelelahan yang dirasakan lelaki itu.
"Lam, katanya Ina besok mau tunangan sama Gilang." Adu bobby tadi saat sarapan bersama.
"Oooh, Selamat deh kalau begitu." Nada datar tercuat dari bibir lelaki itu.
"Kamu nggak papa kan?" Tanya Dul melihat sikap menantunya.
"Nggak papa, pa. Aku ke dalam dulu." Pamit Alam.
Lelaki itu merebahkan diri diatas ranjang. Melepaskan rasa penat yang terus mengguncang batinnya. Melepaskan seseorang yang memang harus dilupakan. Alam menepis wajah manis itu yang terus menari dalam pikiran. Satu yang disadarinya, ternyata ikhlas itu tidak mudah.
__ADS_1
Dua hari sejak Ina dan Alam sepakat tidak melanjutkan hubungan mereka. Itupun sudah kesepakatan bersama. Sekarang masing-masing mencoba membiasakan diri tanpa mengungkit kenangan ataupun perasaan diantara mereka. Kalaupun mereka kembali dipertemukan nanti, pertemuan itu hanya sebagai keluarga tidak lebih.
"Assalamualaikum"
Suara salam terdengar di ruang depan. Alam mengenal pemilik suara itu memilih keluar dari kamar. Menyapa sang tamu seramah mungkin. Melupakan semua yang pernah wanita itu lakukan pada dirinya dan keluarga.
"Ma." Alam menyalami mama mertuanya.
Yulia menerima uluran salam dari menantunya. Sunggingan senyum terukir di wajahnya. Tangannya membelai pucuk rambut lelaki itu.
"Mama apa kabar? aku dengar mama sakit." Tanya Alam membuka obrolan.
" Alhamdulillah mama sehat, nak."
Marni melihat kedatangan Yulia langsung emosi. Dimata Marni, besannya itu tak tahu malu. Setelah yang terjadi pada putranya, Yulia muncul dikediaman mereka seolah tidak terjadi apa-apa. Marni mencoba melabrak Yulia, tubuhnya tertahan saat putra dan suaminya meminta diam.
Namun, Marni tidak peduli. Dia dengan lantang mendatangi Yulia. Selama ini Marni sudah mencoba diam melihat sikap besan perempuannya.
"Mau apa anda kesini? Mau lihat penderitaan anak saya, kan!" Amuk Marni.
"Saya kesini mau suami saya, Abdullah. Saya tahu kamu marah sama saya atas kejadian di anyer tersebut. Tapi itu bukan rencana saya, Marni. Itu kerjaan Gilang, tunangannya Ina." Ujar Yulia.
"Saya mau tanya sama kak Lia. Sebenci itukah anda pada anak saya. Ada tentu tidak lupa kan, bagaimana anak saya menyelamatkan putri anda yang kabur dari rumah. Anak saya koma berbulan-bulan, kakak saya sakit-sakitan hingga meninggal dunia karena fokus merawat Alam yang koma. Sementara putri anda hanya pingsan tanpa lecet sedikitpun.
Alam mengganti namanya menjadi Ronal karena ingin mengorek kebenaran kasus yang menimpa dirinya dan putri anda. Sebagai konsekuensinya dia menerima dengan terpaksa perjodohan dengan mantan kekasihnya. Tapi anda malah menimpakan semua kesalahan ke anak saya. Itu yang membuat saya tidak merestui hubungan Alam dan Gita."
"Iya, itu sudah berlalu, Lam. Tapi itu membekas dihati Ibu. Kamu tahu, Lam? Saat ibu di usir dari rumah ini karena ketahuan punya hubungan dengan ayah kandung kamu. Dia lam, dia orang yang membuang bajuku keluar. Dia ... dia pun menyiramkan dengan cipratan air di aspal saat berpapasan di jalan.
Kamu tahu, Lam, kenapa ibu memilih kembali ke keluarga ini. Karena ibu mau memperjuangkan hak kamu sebagai cucu pertama mereka. Ibu mengenyampingkan rasa malu demi kamu, nak." Tangis marni pecah saat mengenang perjuangannya.
Alam menenangkan ibunya. Pelukan seorang anak sebagai penumpu harapan. Marni sadar kalau ucapannya akan menyinggung perasaan suaminya sebagai ayah sambung Alam.
Yulia hanya menyunggingkan senyum. Tampak guratan angkuh dari wajahnya. Ada rasa sesal kedatangannya malah menjadi penonton drama keluarga itu.
"Lia." Sahut Dul yang datang bersama Shasa.
"Oma ais? ( Oma nangis?)" Tanya Shasa melihat Marni sembab.
"Iyang ma ca capa ang kin oma ais. Bial ca iju oangnya ( Bilang sama Shasa siapa yang bikin oma nangis. Biar Shasa tinju orangnya)
Suasana ruang tamu yang tegang seketika mendadak rame. Apalagi kalau dengan ocehan Shasa yang menggemaskan. Diah menggendong Shasa supaya tidak melihat konflik keluarganya. Gadis kecil tersebut memilih memeluk omanya (Oma Marni).
"Oma ngan ais yah, Nanti ca aih ue eyak." Bujuk Shasa.
__ADS_1
"Oma nggak nangis kok sayang. Oma kelilipan angin, makanya berair. Shasa main sama mbak Diah, ya. Oma mau ngobrol sama Oma Lia." Seakan mengerti ucapan neneknya, gadis kecil itu menarik tangan Diah. Mereka masuk kamar.
Semua keluarga duduk di meja ruang tamu. Bobby pun memilih duduk disamping istrinya. Ucapan Marni membuka masalalu mereka tak membuat dirinya tersinggung ataupun marah. Sebab apa yang di ucapkan istrinya memang benar adanya.
"Kak Lia" Sebuah suara masuk ke ruang tamu.
"Ina? Kenapa kamu kesini? Kamu kan lagi masa tenang." Sahut Yulia dengan lantang karena tahu ada yang akan mendengar disana.
"Tadi aku dapat kabar kak Lia berantem sama tante Marni." Sahut Ina yang duduk bersebelahan dengan Alam.
"Nggak ada sayang. Kakak kesini mau jemput suami kakak. Sekaligus mengundang mereka untuk datang ke pertunangan kamu dan Gilang. Kamu sudah kabari Rangga dan keluarganya kan?" Ina hanya menganggjad
Yulia bersujud dikaki suaminya "Maafkan mama, pa. Mama sadar sikap mama keterlaluan. Mama sadar setelah papa pergi ada yang hilang dalam hidup mama. Maafkan mama, Pa. Maafkan mama."
Dul menghela nafas. Sejujurnya dia sudah memaafkan istrinya. Dul paham istrinya memang punya sindrom panic traumatik. Makanya dia tidak marah saat istrinya mengusirnya. Supaya bisa intropeksi diri buat Yulia. Tangan itu mengangkat tubuh istrinya yang masih bersujud di kakinya.
"Papa juga minta maaf sama mama. Papa belum jadi suami yang baik buat mama dan Gita. Papa harap mama juga akan mendengar permintaan papa. Papa ingin mama minta maaf pada Alam." Pinta Dul.
Yulia pun menyanggupi permintaan suaminya. Masih mode diam. Yulia hanya menunduk masih malu berhadapan dengan menantunya maupun besannya.
Alam pun berinisiatif mendekati mertuanya. Lelaki itu berjalan mendekati ibu dari mendiang istrinya.
"Maafkan, Mama, Lam. Mama banyak salah sama kamu, sikap mama sama kamu karena mama tidak mau apa yang dialami Gita kembali menimpa pada Ina. Mama terlalu sayang pada Ina. Mama juga tidak ingin hubungan keluarga kita hancur karena percintaan kalian. Mama menyesal karena sudah mengekang Ina."
"Ma" Alam mengangkat tubuh Yulia. Tampak gurat wajahnya tenang seakan tadi dendam dalam dirinya.
"Alam sudah memaafkan mama. Alam juga minta maaf sama mama selama menjadi menantu belum bisa membahagiakan mama. Alam juga minta maaf pada Ina, karena sudah mengejar cinta yang terlarang Ini. Alam sadar, semua yang terjadi belakangan ini sebagai teguran dari yang diatas." Menurutnya yang dilakukan mama mertuanya sebagai bentuk rasa sayang pada dirinya. Seharusnya dia yang minta maaf pada Yulia karena berpacaran dengan Ina.
"Kan enak kalau akur kayak gini." Sahut Dul.
"Marni aku juga minta maaf atas sikapku selama ini. Aku tak menyangka kamu sedendam itu. Padahal sudah lama berlalu. Kamu mau kan maafin saya, Marni." Yulia memeluk besan wanitanya. Marni menatap orang-orang disekitarnya. Semua meminta Marni memaafkan Yulia.
"Ya, aku memaafkan kak Lia." Ucapnya Pelan.
"Alhamdulillah." Sahut mereka bersamaan.
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
__ADS_1
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
Bersambung