Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
21. Pulang


__ADS_3

Tangan mungil itu ternyata mampu membuat sang ayah buyar dari lamunannya. Tawa kecil yang membuat seisi rumah bahagia.


Ina menggendong Shasa dengan kegemesannya.


"Maaaa...aaaamaaaaa..." pekik Shasa saat Ina menowel pipi tembem bayi cantik tersebut.


"Yayayayah..." Panggil bayi cantik berusia 8 bulan tersebut.


Alam menyungging senyum saat putri kecilnya sedang menyowel pipinya. Lalu mengambil sang putri dari genggaman Ina.


"Uuuhhmm ... anak ayah makin cantik saja..." Alam menggelitik perut putrinya.


"Udah, Kalian berangkat ntar telat." Mama Yulia mengambil Shasa dari gendongan Alam.


"Sudah siap, na?"


Sebuah suara bariton memanggil gadis. Ina mengikuti Alam dari belakang. Matanya menatap bayi mungil yang masih dalam gendongan. Ina menatap punggung lelaki didepannya, entah kenapa seperti bukan orang asing.


"Kok bengong? Ayo cepat, aku masih harus kekantor ada rapat sore."


Lah, dia ngomel kalau memang sibuk ngapain mau nganterin aku.


"Iya, aku mau pamit sama Shasa dulu, kak."


"Hey, anak saya lagi istirahat. Dia lagi kurang sehat."


Ya, ampun nih orang bawel banget. Mulutnya melebihi emak-emak.


"Dimana alamatnya?"


"Jalan keramat sentiong no 9 jakarta pusat."


"Sentiong???? Jauhnya ...."


"Kakak mau nganter apa enggak? Kalau nggak mau aku pesan taksi nih. Ini udah mau sore nih."


"Iya, bawel banget nih cewek."


"Hellowww, gue cewek wajar bawel. Nah situ laki mulut lemes kayak cewek."


Ina kesal dengan sikap laki-laki disampingnya. Seumur-umur dia belum pernah bertemu lelaki secerewet Alam.


"Kalian belum berangkat juga?" Yulia mendekati dua anak muda beda generasi terdengar sedang berdebat.


"Tante,Ina naik taksi aja atau naik Grab. Kak Alam kayaknya nggak ikhlas nganterin saya." Adunya membuat mata duda itu membulat.


Dasar tukang ngadu. Wajah doang mirip Gita tapi sifatnya no...


"Lam, Jangan gitulah. Ini anak gadis, lo. Nggak bagus bepergian sendirian. Dimana alamat kamu, na?"


"Jalan keramat sentiong, tante."


"Nah, jauh tuh. Udah mama nggak mau tahu kamu antar Ina." Mama mendorong punggung Alam supaya menantunya bergerak.

__ADS_1


Mereka memasuki mobil. Alam dan Ina hanya terdiam. Tadinya Alam meminta Ina dikursi belakang, ternyata mama Yulia meminta Ina duduk di samping sopir.


Sepanjang perjalanan mereka saling terdiam. Ina sibuk menatap kaca disertai derasnya hujan. Tanpa disadari Alam sedikit melirik ke arah gadis disampingnya. Namun saat Ina mulai bergerak Alam kembali fokus dengan setirnya.


"Kak."


"Iya"


"Aku lapar. Kita ke KFC yuk."


"Oke. Daripada kamu kenapa-kenapa aku yang didamprat sama mama Yulia."


"Ikhlas nggak nih."


"Ikhlas" Jawab Alam setengah malas.


Mereka berhenti disebuah pusat perbelanjaan. Ina pertama turun disusul dengan Alam. Kaki mereka melangkah ke KFC yang letaknya di dekat pintu masuk mall.


Ina memilih duduk dipinggir kaca, matanya mengarah ke luar melihat orang lalu lalang berpayung.


TEK!


Ina memutar bola matanya ketika mendengar suara dimeja. Matanya membulat melihat seorang lelaki yang dikenalnya duduk dihadapannya. Lelaki itu bukan Alam.


"Kemana selama ini?"


"Nggak kemana-mana, nenangin diri aja." Jawab Ina kembali menatap kaca tanpa memperdulikan lelaki didepannya.


"Lagi malas liat, kakak."


"Kenapa? salahku apa?" suara bariton itu terus mencerca dirinya.


Mata Ina berputar mencari Alam. Tampak disudut Alam menikmati makannya. Sementara menu milik Ina terjejer didepan menu Alam. Dengan cepat Ina berpindah ke meja Alam.


"Itu siapa, na?" Tanya Alam.


"Kakakku." Jawab Ina sambil melahap ayam cryspinya.


"Kalau memang dia kakakmu, kenapa sikapmu seperti itu."


Ina menjelit kearah Alam. Seakan tidak suka dengan pertanyaan lelaki itu. Netranya berputar ke arah kursinya tadi. Sosok Rangga sudah tak ada.


Ingatannya berputar beberapa bulan yang lalu tante Raya mendatanginya. Tante Raya adalah mamanya Rangga.


"Tante minta tolong sama kamu, Na. Jangan suruh rangga menemui kamu lagi. Tante tahu kalau kamu adalah gadis yang baik. Tapi kamu harus ingatkan dia agar tidak sering menemuimu lagi.


Sejak ada kamu, Rangga tidak pernah memikirkan untuk dirinya sendiri, umurnya sudah matang dan harusnya sudah menikah. Tante mohon sama kamu,na." Ucap tante Raya sambil bersujud dikaki Ina.


"Ina janji, tante." ucap Ina memeluk Tante Raya.


Maafkan aku, kak.


Aku sudah janji tidak akan mengganggu hidupmu lagi.

__ADS_1


Aku setuju kata tante Raya, kalau kakak selama ini terlalu banyak mengurusi aku.


Aku berterimakasih atas kasih sayang yang kakak berikan selama ini.


Klik


Saat dalam perjalanan pulang keduanya hanya terdiam. Ina menikmati dingin udara AC, Alam menghidupkan lagu favoritnya melalui CD playernya. Terdengar alunan lagu dari Last child "Seluruh Nafas ini" lagu kesayangannya dengan Gita. Tak lama Ina tertidur, matanya tidak bisa diajak kompromi lagi.


"Na, sudah sam.."


Alam memberhentikan mobilnya guna menanyakan yang mana rumah Ina. Dilihatnya Ina sangat pulas, rasa tak ingin mengganggu, Alam menerobos hujan hanya untuk bertanya dimana rumah no 9. Ternyata Rumah Ina diseberang parkiran mobilnya. Alam menggendong Ina untuk masuk ke rumahnya. Tubuh Ina ditutupi jas hujan agar tidak kebasahan. Tak lama Ina terbangunan saat merasa tetesan hujan jatuh ke wajahnya.


"Kamu sudah bangun. Ini rumah kamu, kan" Ina mengangguk.


Assalamualaikum


Suara lantunan salam terdengar dari pintu masuk kediaman Kania. Sayup terdengar decitan pintu bergerak menyamping. Sosok wanita paruh baya memakai daster kencana ungu berdiri didepan pintu.


"Bi Narsih" Sapa Ina saat gadis saat melihat sosok yang merawatnya sejak kecil.


"Masya Allah, non Ina. Ini beneran non kan. Ya Allah terimakasih engkau kembalikan non Ina dalam keadaan sehat wal afiat." Bi Narsih bersyukur melihat Ina sudah pulang.


Ina dan Alam masuk ke rumah. Sembari menunggu Ina mengganti bajunya, Alam berjalan melihat-lihat photo yang terpajang di meja hias. Matanya menatap photo muda Ina.


Benar - Benar mirip


"Ehmmm..."


Alam menoleh kearah samping. Seorang wanita sekitar usia 40-an muncul disamping Alam.


"Hai, anak muda. Apa gerangan membawamu kesini. Apakah kamu mau servis dariku. Tangan itu menjalar ke tubuh Alam. Sekuat tenaga dia menahan rangsangan dari wanita itu.


"Mama!" Pekik Ina


Ya Allah terimakasih sudah menyelematkanku.


"Na, aku pamit dulu, ya. Sudah malam kasihan Mama dan Shasa. Papa dul sedang dinas luar kota." pamit Alam yang sudah ketakutan melihat Kania.


"Iya, kak terimakasih sudah antarkan aku. Hati-hati kak." Alam hanya melambaikan tangan menerobos hujan. Tak lama sosoknya hilang bersama mobilnya.


Ina kembali memasuki rumah. Kania langsung memeluk putrinya yang sudah dua bulan hilang tanpa kabar. Sayangnya Ina langsung melepas pelukan Kania, lalu masuk ke kamar dan membanting pintu dengan keras.


Tetap terus pantengin cerita ini.


Teimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2