Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
Valentine days


__ADS_3

Hutan kini sedang dilanda kemarau panjang. Akibatnya, makanan di sana habis. Sungai pun mengering. Mau tidak mau, binatang di hutan harus keluar hutan untuk mencari makanan. Tak terkecuali Kancil. Ia kini kebingungan mencari makanan.


“Kemana aku harus mencari makanan? jika bertahan di hutan ini, bisa-bisa aku mati kelaparan, Dimana ya tempat yang penuh dengan makanan?” gumam Kancil.


Kancil pun berjalan keluar hutan. Ia berusaha mencari tempat baru, berharap di sana tersedia banyak makanan. Saat sedang berjalan, tiba-tiba ia melihat ladang Petani yang dipenuhi timun yang sangat segar.


Melihat timun segar di depan matanya, Kancil ingin sekali melahap timun-timun itu. Seketika timbulah ide Kancil untuk mencuri timun milik Petani.


“Mungkin tidak apa-apa, jika aku memakan sedikit timun milik Petani, Toh nanti dia akan menanamnya kembali” ucap Kancil dalam hati.


Tanpa pikir panjang, Kancil pun segera masuk ke dalam ladang. Di sana ia mulai memakan timun-timun tersebut, satu persatu ia lahap. Kancil sangat menyukai timun tersebut. Tanpa disadari, Kancil memakan timun-timun itu hingga perutnya kenyang. Kancil pun pulang dengan hati yang senang.


Benar saja, hari-hari berikutnya, Kancil selalu kembali mengunjungi ladang Petani. Ia memakan timun-timun milik Petani. Awalnya hanya sedikit, lama kelamaan jumlahnya pun bertambah setiap hari. Kancil selalu pulang dengan hati yang senang. 


Tanpa Kancil sadari, perbuatannya diketahui oleh Petani. Petani pun merasa geram akibat ulah Kancil yang telah mencuri timun dari ladangnya. Ia berniat membalas perbuatan si pencuri yang telah menganggu usahanya,


“Aku harus memberi pelajaran untuk si pencuri. Tapi, bagaimana caranya?” pikir Petani.


Petani terus berpikir dan mencari ide, hingga akhirnya ia menemukan sebuah ide. Petani mengambil bajunya yang sudah tak dipakai, taping, dan kelapa. Lalu ia menyatukan semua itu, membentuknya menjadi orang-orangan sawah. Kemudian, ia meletakkannya di ladang timun.


“Kau akan ketakutan begitu melihat orang-orangan sawah ini,” gumam Petani.


Suatu ketika Kancil yang merasa lapar pun kembali ke ladang Petani. Ia sudah tak sabar ingin segera makan timun sebanyak-banyaknya. Di perjalanan, Kancil membayangkan memakan timun yang enak dan segar.


“Aku akan membuat perutku kenyang, agar tidak perlu berkali-kali kembali ke ladang ini. Kalau perlu, aku akan membawa timun-timun itu pulang untuk persediaan makanan,” ucap Kancil. Ketika sampai di depan ladang, betapa terkejutnya Kancil mendapati ada orang yang menjaga ladang Petani. Kancil yang berniat mencuri pun kemudian bersembunyi. Ia mencoba menunggu sampai orang itu pergi.


Waktu demi waktu berlalu, tidak terasa sudah cukup lama ia menunggu di sana. Namun, orang itu tak juga pergi dari tempatnya.


"Wah hebat sekali Petani itu, dia terus saja menungguku sambil berdiri di sana. Kalau begini terus aku tidak bisa makan timun hari ini," pikir Kancil.


Kancil yang sudah sangat lapar, akhirnya menyerah. Ia pun kembali ke rumah tanpa membawa timun.


Ina membacakan cerita pada Shasa. Tampak Shasa sudah terlelap di kasur lantai milik Ina. Di Jepang sebagian apartemen termasuk tempat tinggal Ina tidak menyediakan ranjang. Maka itu, dikamar Ina hanya ada springbed yang di letakkan dilantai. Beda dengan kamar Rio yang memakai ranjang. Hal itu karena tidak semua orang nyaman tidur lesehan.


Pukul delapan malam terlihat langit mulai menampakkan terangnya. Beda dengan hari-hari biasanya. Malam ini kota Tokyo terlihat terang, menyambut musim semi yang sebentar lagi akan masuk. Namun sang pendingin tidak meninggalkan jejaknya. Udara yang dingin meskipun terasa hembusan dari utara ke selatan.


Ina berdiri di depan balkon menghirup udara malam. Kebetulan kamarnya menghadap jalan raya. Ina tidak akan menyianyiakan kesempatan untuk melihat lampu kelap kelap di jalan raya.


"Kok belum tidur?" Sapa Yulia melihat sang adik masih berdiri di balkon.


"Belum ngantuk, kak. Tadi Shasa minta di ceritain dongeng. Emang kakak sering bacain dia dongeng ya?" Yulia menggeleng.


Ketika dia tinggal bersama besannya, Yulia melihat cucunya sangat dekat dengan ayahnya. Sebelum tidur Shasa sering diceritakan tentang cinderella dan pangeran tampan. Terkadang cucu nya protes karena bosan dengan cerita yang dibawakan dengan ayahnya.


Duh, Alam itu ngedongeng apa ngehalu sih.

__ADS_1


Yulia akhirnya paham. Kenapa Alam sangat ingin memperjuangkan Shasa, karena cinta pertama seorang anak adalah ayahnya. Seperti itu juga dengan Gita, sedari kecil Gita sangat dekat dengan papanya ketimbang dengan mamanya. Yulia melihat Dul lebih sabar membimbing Gita, memperlakukan Gita layaknya teman akrab. Beda dengan dirinya yang mendidik Gita menjadi wanita kuat dan tidak manja.


Kembali ke masa sekarang.


"Hah... Alam suka mendongeng cinderella dan pangeran tampan. Huh! Padahal kisah kancil atau temannya lebih mendidik daripada cerita seperti itu. Gimana sih!" Omel Ina mendengar cerita kakaknya.


"Udah, nggak usah protes. Alam emang gitu orangnya, dia kalau udah bucin anaknya diajak bucin juga. Ya, meskipun begitu kakak melihat dia sangat sayang banget sama Shasa.


Jujur, kakak pertamakali masuk kamar Alam karena Shasa satu kamar dengannya. Kakak melihat dia belum menyimpan photo Gita."


"Kak!"


"Iya, Na"


"Kabar Alam gimana? Kenapa dia tidak ikut bersama kalian?"


"Kabarnya baik, Na. Dia banyak kerjaan, makanya kakak cuma bisa bawa Shasa saja."


Langit malam semakin menampakkan eksistensinya. Terdengar rintikan hujan mulai membasahi negeri sakura. Rintik hujan akhirnya turun lagi, anggun menyentuh tanah bergantian. 


Ina kembali ke kamarnya untuk melepas lelah. Banyak kejutan yang didapatkan dua hari ini membuatnya bertanya-tanya. Apa maksud semua ini? Matanya mulai terpejam lalu terlelap dalam dunia mimpi.


Keesokan harinya


Pukul 17.00 di apartemen milik Ina.


"Masyaallah, kamu cantik sekali, Na. Benar-benar mirip dengan Gita. Pantas suaminya Gita tergila-gila padamu."


Maudy bukan hanya basa basi. Sejak dia tahu kalau Yulia punya adik selain Jody, Maudy awalnya berusaha ramah basa basi. Dia pun pernah meragukan keaslian status Ina sebagai anak dari Gunawan.


Namun, setelah bertemu Maudy melihat kemiripan wajah Ina dengan Gita. Dia akhirnya percaya gen Om nya sangat kuat.


"Terimakasih,kak. Lagian Rio ada ada aja, deh ngajak aku dinner berdua. Apa dia nggak mikir kalau aku ini ..."


"Na, nggak boleh ngomel. Nanti make up nya luntur. Sudah kasihan Rio menunggu di bawah." Sahut Yulia yang masuk ke kamar.


Ina turun dari lift apartemen. Layaknya seorang pengantin matanya di tutup. Di dampingi oleh Yulia dan Maudy, Ina berjalan ke lantai dasar pintu utama apartemen. Matanya sudah ditutup, gelapnya penglihatan tak menyurutnya dirinya untuk mengikuti undangan Rio.


Tampak seorang lelaki berdiri di depan mobil. Tapi lelaki itu bukan Rio. Lelaki itu menggunakan kemeja jas hitam dengan kemeja putih. Senyumnya mengembang ketika meraih tangan Ina. Tangan itu menuntun Ina masuk ke mobil.


Dalam perjalanan hanya sunyi terasa. Rio fokus dengan setirannya. Tak ada obrolan untuk mencairkan suasana. Pandangan Ina masih dibalut kegelapan, tangannya menggenggam jantung seperti merasakan seseorang didekatnya. Namun, lagi-lagi dia merasa terkunci, seenak enggan meluapkan rasa penasarannya.


Mobil pun berhenti, sekejap Ina dituntun turun oleh sebuah tangan. Tali yang membelit matanya pun terbuka dengan pelan. Ina memulihkan penglihatannya, memandang takjub dimana dia berdiri sekarang.


__ADS_1


Sebuah sungai kecil yang ditutup puluhan pohon sakura membuat indahnya suasana malam. Lampu penerang terlihat cantik menyinari sungai tersebut. Ina tak hentinya berdecak kagum pada pemandangan di depan.


"Ah, andai ada Alam. Ya kali aku malam valentine malah sama Rio."


Tampak sebuah perahu kecil berdiri dibawah tempat dirinya berdiri. Seorang petugas menuntun Ina menaiki perahu. Dengan hati-hati Ina naik ke atas perahu, Ina menaikan alisnya ketika Rio tidak mengikutinya.


"Rio, kok kamu nggak ikut?" Sahutnya.


"Oma Ina duluan saja. Nanti aku nyusul." Seru Rio.


Ina duduk di perahu memandang jernihnya sungai. Tampak guguran kelopak mengambang di permukaan air.


"Nona sepertinya sudah sampai." Sahut petugas perahu tersebut.


Ina pun turun dari kapal. Tampak lilin berjejer menemani langkahnya, Ina terus mengikuti urutan lilin tersebut hingga. Kakinya terhenti di sebuah pohon sakura yang di hiasi lampu.


"Rio, please kamu dimana?"


Ina memandang disekelilingnya, ada rasa bergidik ngeri karena sendirian di tengah pepohonan. Meskipun terlihat cantik, yang namanya sendirian di tempat sepi tetap saja terasa horor.


Ina membalikkan tubuhnya karena dia merasa ingin pulang saja. Langkahnya terasa tertahan ketikan pinggangnya ada yang membelit dari belakang.


Ina memutar tubuhnya, sosok yang ada di depannya, sosok yang dinantinya selama LDR. Tangan itu mengepung kedua pipi Ina.


"Karina Permata Gunawan, aku datang membawa segudang rindu yang sudah lama bertumpuk disini." Alam menepuk dadanya. "Aku datang membawa cinta di malam Valentine ini." Ucapnya ketika Ina sudah berdiri didepannya.


"Lam."


"Na, aku datang cuma buat kamu. Buat kita, dan buat pernikahan kita."


"Pernikahan? Maksudnya apa, Lam?"


"Nanti juga kamu tahu."


Tak lama datang rombongan keluarga besar baik dari keluarga Gunawan dan keluarga Spencer. Tampak mereka sangat akrab sekali. Ina terharu saat sang kakak Yulia mengobrol lepas dengan Marni. Tak ada permusuhan seperti yang selama ini dilihat.


Yulia menggandeng Alam mendekati Ina. Tangan Ina dan Alam disatukan oleh Yulia. Seakan mereka sudah mendapat sinyal penuh dari sang kakak.


"Na, kakak ingin kamu bahagia bersama orang yang kamu cintai. Maafkan kakak yang selama ini terbelenggu dendam dari masa lalu. Kakak sadar bahwa apa yang kakak lakukan pada kalian hanya akan menyiksamu."


"Na"


Ina beralih ke arah Marni yang ikut bergabung.


"Tante Marni...."

__ADS_1


"Mulai sekarang panggil aku dengan sebutan mama Marni. Karena mulai sekarang kamu adalah calon menantuku"


__ADS_2