
Edrea yang bingung akan perlakuan dari Barra hanya bisa menatap ke arah Barra dengan tatapan yang bingung dan tidak mengerti, hingga kemudian Barra mendekatkan tubuhnya ke arah telinga sebelah kanan Edrea dan membisikkannya sesuatu.
"Atasi ketakutan terbesar mu itu, tugas mu kali ini adalah mencari tahu di mana potongan demi potongan tubuh sosok makhluk itu di kuburkan!" ucap Barra dengan pelan namun mampu membuat seluruh tubuh Edrea merinding karena kengeriannya.
"Apa maksud dari ucapan Barra barusan?" ucap Edrea dalam hati setelah mendengar ucapan Barra barusan yang terkesan ambigu namun juga mengerikan bagi dirinya. "Mengapa aku merasa akan ada sesuatu yang terjadi sebentar lagi?" imbuhnya lagi dalam hati.
Setelah Barra mengatakan hal barusan, lampu di ruangan mendadak menjadi gelap gulita membuat Edrea yang terkejut sekaligus takut lantas meraba raba bagian sekitarnya mencoba mencari keberadaan Barra di sebelahnya namun tidak ketemu.
Sampai pada akhirnya lampu ruangan tersebut kembali menyala, awalnya Edrea sedikit lega ketika melihat lampu ruangan tersebut menyala, namun kelegaan yang semula Edrea rasakan perlahan menghilang dan berganti dengan keringat dingin yang mulai membanjiri tubuhnya ketika ia melihat sekelilingnya hanya tersisa dirinya dan sosok makhluk tersebut.
"Ap.. apa apaan ini?" ucap Edrea dengan nada yang bergetar.
Edrea yang melihat makhluk itu mulai melayang ke arahnya lantas semakin ketakutan, makhluk tersebut terus melayang ke arah Edrea sambil tersenyum menyeringai, sesekali tubuhnya tampak berjatuhan pada bagian bagian yang terdapat bekas kampak di sana. Tubuh Edrea kini bahkan benar benar membeku dan tidak bisa bergerak sama sekali, membuat Edrea hanya terdiam di sana tanpa bisa melakukan apa apa bahkan hanya untuk sekedar menghindar dari sosok tersebut.
"Oma..." panggil Edrea yang tidak tahu lagi harus bagaimana.
Hingga ketika jarak keduanya sudah semakin dekat, Edrea yang sedari tadi hanya bisa menutup matanya samar samar seperti mendengar suara seseorang yang meminta tolong dengan sangat lirih, membuat Edrea yang terpejam lantas langsung membuka matanya begitu saja.
"Makhluk itu..." ucap Edrea ketika melihat sosok di hadapannya berubah wujud menjadi seperti manusia biasa, namun sepersekian detik langsung menembus tubuhnya membuat pandangan Edrea menggelap begitu saja.
Dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar Edrea seperti mendapat sebuah penglihatan yang cukup asing baginya. Edrea tiba tiba berada di tengah tengah perkebunan yang gelap gulita tanpa adanya penyinaran sama sekali di sana. Di antara perasaan bingung yang melanda Edrea, ia lantas melihat secercah cahaya tak jauh dari tempatnya berada. Edrea yang merasa itu adalah sebuah pertolongan lantas dengan bergegas berlari menuju ke arahnya.
Hanya saja ketika ia sampai di sana, bukan sebuah pertolongan yang ia dapat. Edrea malah melihat sesuatu yang sangat mengerikan di hadapannya.
__ADS_1
Awalnya Edrea hanya melihat seorang laki laki tengah bertengkar dengan wanita jika Edrea tebak keduanya adalah sepasang kekasih, hanya saja semakin kesini perlakuan laki laki tetsebut berubah menjadi brutal, laki laki tersebut menjambak lalu menarik tubuh wanita itu ke tengah perkebungan, sedangkan wanita berusaha sekuat mungkin untuk kabur dari cengkraman laki laki itu.
Entah ada angin atau dendam apa sang pria tega memukul wanita tersebut dengan gagang kampak kemudian mengampak bagian lehernya. Kengerian tidak hanya sampai di situ setelah si wanita matj pria tersebut dengan sadisnya langsung memutilasinya menjadi beberapa bagian malam itu juga.
"Jika aku tidak bisa mendapatkan mu maka tidak akan ada seorang pun yang akan bersanding dengan mu." ucap pria itu dengan kesetanan sambil terus memotong motong tubuh wanita itu.
Edrea yang mengetahui fakta itu lantas langsung menutupi mulutnya agar tidak bersuara karena terkejut akan pemandangan yang ia temukan malam itu.
"Laki laki itu... bukankah yang aku lihat di Kasino ketika aku bersama dengan Barra tadi?" ucap Edrea dalam hati sambil bersembunyi di balik sebuah pohon besar.
***
Sementara itu ketika Edrea sedang mendapat sebuah penglihatan tentang rekaman hidup sosok makhluk tersebut. Barra yang sebenarnya ada di sudut ruangan tersebut lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea. Di pegangnya area leher Edrea dengan dua jarinya untuk memeriksa denyut nadi Edrea.
Selama roh Edrea mengembara di alam lain, Barra hanya duduk diam dan memperhatikan segala pergerakan Edrea sedari tadi tanpa berniat melakukan apapun atau menyadarkan Edrea, sebenarnya tanpa Edrea melakukan hal ini pun Barra sudah mengetahui dengan detail setiap lokasi di mana tubuh wanita itu di kuburkan.
Hanya saja Barra ingin mengetes dan melatih Edrea tentang cara bertahan hidup di dunianya, jika Edrea sudah menyanggupi untuk menjadi pelayannya itu artinya Edrea harus siap dan juga berhasil berbaur dengan para makhluk tak kasat mata yang berada di sekeliling Barra.
"Kita lihat saja, apakah gadis ini mampu atau tidak melakukannya?" ucap Barra lagi sambil sesekali melirik ke arah Edrea yang kini tengah memejamkan matanya layaknya tengah tertidur dengan pulas di atas sofa tersebut.
***
Kembali pada roh Edrea yang kini sedang menjelajah di alam lain.
__ADS_1
Kepala Edrea kini benar benar terasa sangat berat sekali, tubuhnya terus di seret ke sana kemari untuk melihat setiap adegan pembunuhan yang di lakukan oleh pria tersebut. Melihat pria tersebut memutilasi tubuh gadis itu saja sudah membuat Edrea mual. Malah di tambah dengan adegan di mana pria tersebut mengubur bagian bagian potongan tubuh gadis itu secara acak dan tidak layak, membuat Edrea semakin pusing akan penglihatan yang datang secara acak dan dalam waktu yang singkat.
"Aku benar benar mual..." ucapnya pada diri sendiri sambil memijat pelipisnya yang terasa berdenyut sedari tadi.
Edrea benar benar merasa seakan di paksa berteleportasi dengan waktu yang singkat, Edrea bahkan sudah berpindah tempat lebih dari 3 kali.
Tempat pertama yaitu di sebuah ladang gersang yang sudah tidak lagi di tanami, di sana pria tersebut mengubur bagian tangan wanita itu, tempat yang kedua adalah rumah kosong di mana pria tersebut mengubur bagian kaki, tempat ketiga yaitu makam lama yang tak terurus di mana pria tersebut mengubur bagian dada sampai pinggang, dan tempat keempat yaitu tengah hutan di mana pria tersebut mengubur bagian pinggang hingga paha wanita tersebut. Hingga kemudian tepat setelah laki laki itu mengubur bagian terakhir tubuh wanita itu yaitu bagian kepala di sebuah perkebunan yang jauh dari pemukiman.
Tubuh Edrea tiba tiba terasa lemas dengan kepala yang terus berputar. Dalam keadaan yang berputar putar Edrea mencoba untuk terus melanjutkan langkahnya sekaligus mencari cara agar bisa keluar dari sini.
"Oma tolong Rea..." ucapnya dengan lirih sambil terus melangkahkan kakinya dengan tertatih hingga kemudian terjatuh dan pandangannya kembali menggelap.
***
Sementara itu di tempat lain, Barra yang sedari tadi menunggu dengan setia di samping tubuh Edrea, lantas di buat terkejut ketika dengan tiba tiba Edrea terlihat kejang. Tubuh wanita itu memucat disertai dengan gerakan kejang yang cukup cepat.
"Apa yang sebenarnya gadis itu lakukan?" ucap Barra ketika melihat Edrea yang kejang kejang.
Melihat tubuh Edrea yang terus kejang sedari tadi, membuat Barra kemudian lantas memegang tangan Edrea untuk memastikan denyut nadi wanita itu. Barra yang memegang pergelangan tangan Edrea sama sekali tidak merasakan denyut nadinya.
Barra yang mengetahui dengan pasti kondisi yang di alami Edrea lantas langsung memegang kedua tangan Edrea lalu mengusapnya dengan pelan secara berulang kali.
"Benar benar menyusahkan!" gerutu Barra dalam hati sambil terus mengusap pergelangan tangan Edrea dan memanggil namanya berulang kali seakan tengah mencoba untuk memanggil roh Edrea yang tengah mengembara mencari tahu tentang sosok hantu tersebut.
__ADS_1
Bersambung