Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Jawaban dari sebuah penantian


__ADS_3

Ruangan Barra


Di atas sofa yang terletak di ruangan Barra terlihat Edrea tengah duduk termenung sambil terus menatap ke arah kursi kebesaran milik Barra yang saat ini terlihat kosong tanpa ada Barra yang duduk di atasnya. Setelah kejadian pingsannya Edrea ketika ia dan Barra tengah sibuk berciuman, Barra tidak lagi muncul dan kelihatan olehnya. Membuat Edrea semakin merutuki kebodohannya yang malah pingsan disaat-saat yang penting seperti itu. Helaan napas terdengar dengan jelas dari mulut Edrea, bagaimana pun juga Edrea benar-benar merasa menjadi orang terbodoh yang pernah ada.


Sambil mulai mengusap rambutnya dengan kasar Edrea terus merutuki kebodohannya kala itu. Hingga sebuah suara pintu di ketuk dari luar lantas membuat Edrea bangkit dari posisinya karena mengira bahwa itu adalah Barra yang baru saja kembali. Namun jika dipikirkan ulang, bukankah tidak mungkin jika Barra masuk ke dalam ruangannya sendiri dengan mengetuk pintu? Mungkin Edrea saking terlalu berharapnya hingga mengira bahwa itu adalah Barra.


"Max!" pekik Edrea yang sekan kecewa karena ternyata bukanlah Barra melainkan malah Max.


Sedangkan Max yang mendengar teriakan dari Edrea barusan yang menyebut namanya tentu saja langsung terkejut dengan seketika dan menghentikan langkah kakinya tepat setelah Max mendengar suara dari Edrea yang memanggil namanya dengan nada meninggi. Keduanya kemudian saling berpandangan sepersekian detik sebelum pada akhirnya Edrea melengos dan memutus pandangan keduanya, membuat Max yang tidak mengerti di mana letak kesalahannya lantas hanya bisa menghela napasnya dengan panjang kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Edrea berada.


"Apa lagi kali ini?" tanya Max kemudian dengan nada suara yang datar seakan tahu dan paham akan bahasa tubuh Edrea.


"Bukan apa-apa!" ucap Edrea dengan nada ketus.


"Baiklah kalau begitu aku tidak akan bertanya lagi." ucap Max kemudian sambil melangkahkan kakinya berlalu dari Edrea menuju ke arah dimana meja Barra berada.


Sedangkan Edrea yang melihat kepergian Max hanya bisa menatapnya dengan tidak percaya, bukankah barusan Max menanyainya seakan ia benar-benar tengah peduli padanya? Mengapa kini tiba-tiba Max berjalan begitu saja meninggalkannya?


"Apa hanya begitu saja Max? Tidakkah kamu harusnya lebih peka lagi?" ucap Edrea dengan nada yang kesal membuat Max langsung berbalik badan ketika mendengar Edrea yang protes barusan.


"Mengapa harus aku? Lagi pula kita tidak sedekat itu juga kali." ucap Max dengan nada yang santai membuat mulut Edrea lantas terdiam seketika.

__ADS_1


"Tapi... Tapi setidaknya katakanlah dimana tuan mu berada saat ini, tidakkah kau kasihan kepada ku Max?" ucap Edrea mencoba untuk mencari alasan.


"Mengapa harus?" ucap Max kemudian.


"Max..." panggil Edrea dengan nada memanjang.


Mendengar nada panggilan Edrea yang begitu panjang membuat Max pada akhirnya menghela napasnya dengan panjang begitu mendengar panggilan tersebut. Ditatapnya Edrea dengan tatapan yang menelisik, Max kemudian kembali melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea setelah meletakkan sebuah map di meja kerja Barra.


"Jangan mencarinya untuk beberapa waktu karena tuan sedang singgah di rumah Ibu." ucap Max dengan nada yang datar kemudian berlalu pergi meninggalkan Edrea yang terlihat terdiam karena perkataan dari Max barusan.


"Untuk apa Barra kesana? Apa ada masalah?" tanya Edrea kemudian yang lantas menghentikan langkah kaki Max dengan seketika begitu mendengarnya.


"Aku tidak tahu!" jawab Max dengan santai.


Max yang tanpa sengaja mendengar perkataan Edrea dalam hati lantas langsung berbalik badan menatap ke arah Edrea yang saat ini terlihat tengah berpikir dengan keras seperti mengingat-ingat sesuatu hal. Hingga kemudian batin Edrea yang terus mengatakan hal-hal yang absurd dengan begitu transparannya. Membuat Max mengernyit sambil bergidik ngeri.


"Sudah ku bilang untuk tidak selalu membatin karena itu mengusik ku, apa kamu sekarang sedang ingin pamer karena sudah berciuman dengan tuan?" ucap Max kemudian dengan nada yang menyindir membuat Edrea langsung menutup mulutnya dengan seketika karena lupa jika Max bisa mendengar suara hati seseorang.


"Apa saja yang sudah kamu dengar? Jangan bilang..." ucap Edrea kemudian dengan nada yang kesal.


Mendengar hal tersebut membuat Max langsung memutar bola matanya dengan jengah, membuat Edrea yang melihat ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh Max lantas terkejut seketika karena Edrea tahu bahwa Max telah mendengar segalanya tadi.

__ADS_1


"Ah benar-benar sial!" batin Edrea dalam hati yang semakin membuat Max menatap dengan tajam ketika mendengar suara hati Edrea kembali.


***


Sementara itu di mansion Ibu, terlihat Barra tengah mondar-mandir dengan langkah kaki gelisah, membuat Ibu yang baru meyelesaikan masakannya lantas langsung menghentikan langkah kakinya setelah menata semuanya pada meja makan. Ibu yang merasa semuanya sudah siap, terlihat menatap ke arah Barra yang terlihat begitu gusar bergerak kesana kemari tanpa bisa diam sedari radi, padahal ia di dalam dapur sudah cukup lama namun Barra tetap saja bergerak mondar-mandir seperti setrikaan tanpa henti sedikitpun, membuat seulas senyum lantas terlihat terbit dari wajah Ibu saat ini.


"Apa kamu tidak lelah terus-terusan seperti itu Bar? Berhenti dan kemari lah..." ucap Ibu kemudian.


Mendengar perkataan dari Ibu barusan membuat langkah kaki Barra terhenti seketika. Sambil menghela napasnya dengan panjang kemudian melangkahkan kakinya ke arah meja makan mendekat ke arah dimana Ibu berada saat ini. Barra menatap ke arah meja makan dimana di sana sudah tersaji begitu banyak lauk tertata rapi di sana, membuat Barra baru menyadari jika ia sudah terlalu lama mondar-mandir tanpa kejelasan sedari tadi.


"Apa kamu sudah menunggu lama sedari tadi?" tanya Ibu kemudian yang lantas membuat Barra langsung mengernyit seketika disaat mendengar pertanyaan dari Ibu barusan.


Dipikirkan sebagaimana pun Barra tetap tidak mengerti akan pertanyaan tersebut. Bukankah Ibu sudah mengetahui dari awal jika Barra menunggunya? Lalu mengapa Ibu masih menanyakan hal itu lagi kepada Barra? Sedangkan Ibu yang melihat raut wajah Barra barusan lantas tersenyum seketika.


"Apa maksud Ibu barusan?" tanya Barra kemudian dengan raut wajah yang penasaran.


"Jawablah saja dahulu pertanyaan Ibu..." ucap Ibu lagi membuat Barra lantas menghela napasnya dengan panjang.


"Aku rasa sudah cukup lama aku menanti Ibu melihat begitu banyaknya makanan yang tersaji di sini." jawab Barra kemudian ala kadarnya karena memang itulah kenyataannya.


"Ini adalah jawaban dari penantian panjang mu itu Bar..." ucap Ibu kemudian kembali memberikan teka-teki kepada Barra membuat Barra langsung menatapnya dengan tatapan yang mengernyit seketika.

__ADS_1


"Maksud Ibu?"


Bersambung


__ADS_2