
Kali ini Yoga nampak terdiam, membuat Edrea lantas mengira seakan berhasil membujuk Yoga. Hingga ketika jarak keduanya sudah tinggal dua langkah lagi tanpa di duga duga Yoga tiba tiba marah dan melempar sebuah balok kayu ke arah Edrea. Edrea yang juga terkejut dan tidak tahu harus berbuat apa, lantas tidak bisa bergerak kecuali meneriakkan satu nama di mulutnya.
"BARA!" teriak Edrea sambil memejamkan matanya.
Tepat ketika Edrea meneriakkan nama Barra dari mulutnya secara ajaibnya Barra tiba tiba muncul dan langsung memeluk tubuh Edrea dan berteleportasi sedikit menjauh dari posisi di mana Edrea berada.
Edrea membuka matanya perlahan ketika merasakan ada seseorang yang memeluk tubuhnya.
"Barra..." panggilnya lirih sambil mendongak menatap ke arah Barra dengan lekat.
Klontang...
Suara bongkahan kayu yang jatuh tepat ketika Barra berteleportasi dari sana.
"Tuan..." ucap Wili dan juga Arya secara bersamaan ketika melihat adegan barusan.
Yoga yang melihat ia seperti telah di kepung lantas hendak melarikan diri namun gagal karena Barra langsung menjentikkan jari tangannya, Yoga yang semula berlari tubuhnya mendadak menjadi kaku dengan beberapa tali yang melingkar di tubuhnya sehingga membuatnya tidak bisa bergerak sedikitpun.
"Bawa dia ke stasiun dan untuk mu Wili, temui aku setelah mengurus arwah itu." ucap Barra memberikan perintah.
Mendengar perintah dari Barra baik Wili dan juga Arya lantas membawa arwah Yoga dan langsung berteleportasi pergi dari sana.
Setelah kepergian Wili dan juga Arya dari sana, Barra lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea yang masih diam dan termenung menatap ke arahnya.
"Apa kau itu sudah gila? meski kau tidak terlihat tapi bukan berarti kau menjadi kebal dan tidak bisa mati. Kau itu masih manusia biasa, jadi berpikirlah sedikit." ucap Barra dengan kesal karena Edrea selalu saja menempatkan dirinya pada sebuah masalah.
Edrea yang tadinya termenung lantas langsung terkejut ketika mendengar sentakan dari Barra barusan.
"Bisakah kamu tidak marah marah seperti itu? memangnya aku suka di tempatkan dalam masalah? tentu saja tidak!" ucap Edrea dengan kesal.
Barra menghela nafasnya panjang, berbicara panjang lebar dengan Edrea pasti akan berakhir dengan percuma.
"Sudahlah sekarang kita kembali saja ke stasiun." ucap Barra kemudian.
".."
Setelah mengatakan hal tersebut Barra kemudian berteleportasi dan langsung berpindah tempat ke ruangan kerjanya.
__ADS_1
**
Ruang kerja Barra
"Sekarang pergi dan temui Max, belajarlah pada dia agar kau tidak lagi membuat masalah." ucap Barra kemudian yang lantas membuat Edrea cemberut ketika mendengarnya.
Barra yang sudah kesal lantas malah semakin kesal karena Edrea tidak kunjung berangkat juga dan hanya diam di posisinya.
"Apa lagi yang kau tunggu?" sentak Barra ketika melihat Edrea tetap pada tempatnya.
"Anu... ruangan Max di mana ya? soalnya aku takut kesasar." ucap Edrea sambil menunduk.
"Astaga..." ucap Barra dalam hati dengan panjang karena saking kesalnya. "Max!" teriaknya kemudian.
Tak lama setelah itu terlihat Max muncul dari arah pintu dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam mendekat ke arah Edrea dan juga Barra.
"Bawa dan ajari dia segalanya hingga ia tidak lagi membuat kesalahan!" ucap Barra dengan nada yang dingin.
"Baik tuan" ucap Max kemudian setelah itu langsung mengarahkan Edrea agar mengikuti langkah kakinya dan keluar dari ruangan Barra sebelum nantinya Barra kembali mengamuk.
"Benar benar selalu saja membuat repot!" ucap Barra dengan kesal setelah kepergian Max dan juga Edrea dari ruangannya.
Di ruangan Mira
Terlihat Wili tengah melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Mira dan langsung mendekat ke arah Mira yang kini tengah bersantai sambil memotong beberapa tangkai bunga dan menaruhnya di vas favoritnya. Mira benar benar terlihat bahagia saat ini, raut wajahnya bahkan tidak bisa berbohong sama sekali.
"Madam..." panggil Wili pada Mira yang tengah asyik merangkai bunga saat ini.
"Bagaimana? apa kau berhasil melakukan tugas dari ku?" tanya Mira sambil tersenyum dengan cerah.
"Sudah Madam dan karena hal itu sepertinya pelayan tuan Barra di marahi habis habisan, hanya saja..." ucap Wili menggantung membuat Mira yang semula senang lantas menatap dengan bingung ke arah Wili ketika mendengar ucapannya.
"Hanya apa?" tanya Mira dengan nada yang penasaran.
"Tuan sepertinya tahu jika saya sengaja melakukan hal itu agar arwah tersebut kabur dan menyulitkan pelayannya." ucap Wili sambil terus menunduk seakan tak berani menatap ke arah Mira.
Tak
__ADS_1
Tangkai bunga yang seharusnya di potong dengan ukuran yang sama, malah terpotong dengan pendek dan langsung jatuh ke lantai tepat ketika Mira mendengar ucapan dari Wili barusan.
"Apa kau melakukan hal yang ceroboh sehingga Barra curiga padamu?" tanya Mira dengan wajah yang bingung.
"Saya rasa tidak Madam, saya sudah berusaha melakukannya dengan cantik agar tidak ada yang curiga." ucap Wili mengingat ingat.
Mendengar ucapan dari Wili barusan Mira lantas langsung memejamkan matanya dan menghela nafas panjang kemudian baru menatap ke arah di mana Wili tengah berdiri saat ini.
"Temui Barra sekarang, usahakan untuk tenang dan jangan membuatnya curiga, apa kau mengerti?" ucap Mira memperingati Wili.
"Baik Madam" ucap Wili sambil sedikit menunduk kemudian berlalu pergi dari sana meninggalkan Mira di ruangannya dengan perasaan yang khawatir.
"Aku harap Barra tidak melakukan apapun pada Wili." ucap Mira setelah kepergian Wili dari ruangannya.
Mira tidak tahu apakah Barra akan kembali marah atau tidak, mengingat beberapa waktu lalu bahkan Barra sampai menyegel kekuatannya hanya karena ia menempatkan Edrea dalam sebuah masalah. Mira menghela nafasnya panjang sambil melanjutkan kembali kegiatannya yang tertunda barusan.
"Semoga saja tidak!" ucap Mira lagi.
**
Ruangan Barra
Tok tok tok
"Masuk" ucap sebuah suara dari arah dalam ruangan.
Mendengar suara tersebut Wili lantas mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Barra. Sedangkan Barra yang melihat kedatangan Wili di ruangannya, ia lantas langsung bangkit dan memutari mejanya kemudian bersandar di sana.
"Apa kau tahu alasan aku memanggil mu ke mari?" tanya Barra membuka obrolan.
"Tidak tuan" jawab Wili pura pura tidak tahu.
"Baiklah kalau kau memang tidak mau mengakuinya sekarang, maka aku akan langsung membuat keputusan." ucap Barra sambil bersendekap dada menatap ke arah Wili.
Wili yang mendengar ucapan Barra lantas menelan salivanya dengan kasar, ia kini bahkan sudah bisa merasakan bahwa sebentar lagi akan terjadi hal buruk padanya.
"Aku memindah tugaskan mu menjadi masinis di gerbong dark dengan waktu yang tidak terbatas!" ucap Barra kemudian yang langsung membuat Wili terkejut bukan main ketika mendengarnya.
__ADS_1
"Apa tuan?" ucap Wili dengan terkejut ketika mendengar perintah tersebut.
Bersambung