
"Sebenarnya tujuan ku ke sini untuk meminta tolong, jemput nenek untukku aku percayakan semuanya padamu." ucap Barra yang lantas membuat Edrea langsung menoleh seketika ke arah Barra.
"Apa maksud ucapan mu?" tanya Edrea dengan nada yang terkejut.
"Tepat tengah malam nanti nenek itu akan meninggal dunia karena penyakit yang di deritanya sejak lama dan aku ingin kamu yang menjemput nenek itu nanti malam." ucap Barra kembali menjelaskan.
"Ta... tapi bagaimana mungkin? nenek bahkan terlihat masih segar bugar seperti itu." ucap Edrea yang tidak percaya akan ucapan dari Barra barusan.
"Umur seseorang tidak akan pernah ada yang tahu, itu sudah menjadi rahasia alam." ucap Barra.
Ketika Edrea tengah kebingungan akan ucapan dari Barra barusan, tidak lama kemudian nenek nenek tersebut nampak datang dan membawa nampan berisi pesanan Barra, membuat Edrea lantas langsung menghentikan ucapannya walau sebenarnya masih banyak pertanyaan yang ingin ia katakan kepada Barra.
"Ini pesanan kalian, selamat menikmati." ucapnya dengan senyum yang mengembang.
"Terima kasih banyak nek." ucap Edrea kemudian.
Setelah menyajikan hidangan pesanan dari Barra, nenek nenek tersebut lantas berlalu pergi meninggalkan keduanya dan melanjutkan aktivitasnya yang tertunda.
Baik Edrea dan juga Barra kemudian lantas melanjutkan dengan menyantap pesanan mereka dalam suasana yang hening tanpa sepatah kata apapun.
**
Edrea benar benar tidak bisa fokus akan makanannya dan hanya menatap ke arah nenek nenek tersebut, seakan tidak percaya bahwa hari ini adalah hari terakhir nenek itu.
Edrea kemudian mempercepat makannya agar ia bisa segera berbicara dengan nenek tersebut, entah mengapa mengetahui hari ini adalah hari terakhir nenek tersebut membuat Edrea sedikit tersentuh karena ia mengingat tentang Omanya.
"Mau kemana kamu?" tanya Barra ketika melihat Edrea bangkit setelah menghabiskan makanannya.
"Ingin membantu nenek." ucap Edrea sambil berlalu pergi meninggalkan Barra yang masih belum menyentuh makanannya sama sekali.
Barra menatap sekilas ke arah Edrea yang menghampiri nenek tersebut dengan raut wajah yang ceria.
"Ini lah yang membuat ku meminta tolong kepadanya, setidaknya Edrea akan memberikan nenek tersebut kebahagian kecil sebelum ajalnya tiba nanti." ucap Barra dengan nada yang lirih sambil tersenyum menatap ke arah Edrea dan juga nenek itu.
__ADS_1
**
Satu jam kemudian
Nenek nenek itu nampak datang membawakan Edrea dan juga Barra dua gelas minuman dingin untuk mengobati rasa haus mereka karena sudah membantunya membereskan kedai sedari tadi kedatangan mereka berdua di kedainya.
"Istirahatlah dulu sebentar nak, kemarilah nenek membuatkan mu minuman yang segar." ucap nenek tersebut sambil mengambil duduk di salah satu kursi panjang di kedai tersebut.
"Sungguh nek? wah pasti enak sekali rasanya." ucap Edrea sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah nenek tersebut begitu juga dengan Barra.
"Kalian berdua pasti lelah bukan? nenek minta maaf ya hanya bisa menyuguhi kalian dengan ini. Sudah lama sekali kedai nenek tidak ada pelanggan sehingga nenek tidak pernah membuka kedai sampai full." ucap nenek tersebut yang lantas membuat Edrea sedikit penasaran akan kisah dari nenek itu.
"Lalu apa yang nenek lakukan setelah menutup kedai?" tanya Edrea kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
Nenek tersebut lantas tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari Edrea barusan.
"Nenek biasanya akan mencari barang barang bekas untuk nenek jual dan sebagai penyambung hidup." jawabnya dengan nada yang santai.
"Nenek merantau bersama putri nenek ke kota, hanya saja nasib tragis menimpa anak nenek di mana ia harus meregang nyawa setelah anak nenek di perkosa bergilir oleh preman di kampung nenek. Nenek benar benar sendiri dan tidak tahu bagaimana cara nenek untuk bisa pulang." ucap nenek tersebut dengan nada bicara yang sendu membuat Edrea semakin tidak tega ketika mendengar cerita dari nenek tersebut.
"Jangan bersedih nek, bagaimana kalau nenek sekarang bersiap karena sebentar lagi akan ada banyak pelanggan yang datang kemari." ucap Edrea dengan nada yang yakin namun malah membuat nenek tersebut tersenyum ketika mendengar ucapan Edrea barusan.
"Jangan bercanda nak, kedai ini bahkan jarang sekali di lirik oleh orang orang sekitar, bagaimana mungkin bisa banyak pelanggan dengan tiba tiba?" ucap nenek tersebut lagi.
"Serahkan semuanya padaku nek" ucap Edrea sambil mengerlingkan matanya sebelah kemudian bangkit berdiri dan beranjak dari sana, membuat nenek dan juga Barra hanya bisa geleng geleng kepala melihat kelakuan Edrea barusan.
"Dia gadis yang baik dan juga menarik" ucap nenek nenek tersebut, yang lantas membuat Barra langsung menoleh ke arah nenek dengan spontan.
"Ya dia polos dan juga naif, rasanya membuat seseorang ingin selalu tergerak dan melindunginya." ucap Barra dengan tersenyum menanggapi ucapan nenek itu.
"Kalian berdua adalah pasangan yang cocok dan juga serasi, nenek berdoa kalian bisa hidup bersama dalam kebahagiaan." ucap nenek itu yang lantas membuat Barra kembali tersenyum ketika mendengar doa yang keluar dari mulut nenek tersebut.
"Terima kasih banyak nek" ucap Barra kemudian.
__ADS_1
**
Beberapa menit kemudian
Edrea yang sedari tadi berada di luar dan entah sedang melakukan apa, secara tiba tiba kembali dengan membawa banyak rombongan termasuk juga Kiera di antara rombongan tersebut.
"Nenek pelanggan datang..." teriak Edrea yang lantas membuat nenek tersebut terkejut dan bangkit seketika di saat melihat banyaknya orang orang yang kini tengah berhamburan masuk ke dalam kedai teh miliknya.
"Kamu sungguh sungguh membawa pelanggan kemari nak?" ucap nenek tersebut seakan tengah terkejut ketika melihat Edrea benar benar menepati janjinya.
"Tentu saja dong nek, ayo nek saatnya bekerja biar Rea yang akan bantu nenek." ucap Edrea kemudian yang lantas membuat Barra ikut tersenyum begitu mendengarnya.
Pada akhirnya baik Kiera, Edrea, Barra dan juga nenek tersebut saling bekerja sama dalam melayani banyaknya pelanggan pada hari itu. Suasana kedai yang semula nampak sepi dan menyeramkan kini berubah menjadi lebih ceria dan ramai karena banyaknya pengunjung yang di bawa oleh Edrea hari itu.
Ketika Edrea dan juga Kiera tengah sibuk menyiapkan hidangan untuk pelanggan, Barra terlihat melangkahkan kakinya keluar dari kedai tersebut.
"Tuan..." sapa Max dan juga Arya tepat ketika Barra menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa kalian datang kemari?" tanya Barra dengan nada yang datar.
"Sudah saatnya nenek Darsih untuk ikut ke Stasiun Pemberhentian tuan." ucap Arya kemudian.
Barra yang mendengar ucapan dari Arya, lantas langsung melirik ke arah dalam kedai di mana ia melihat nenek Darsih tengah melayani pelanggan dengan raut wajah bahagia.
"Bukannya waktunya masih tengah malam nanti?" tanya Barra kemudian.
"Memang benar tuan, hanya saja perasaan euforia yang terlalu berlebihan membuat kerja jantung nek Darsih bekerja lebih cepat sehingga mempercepat waktu kematiannya, tubuh nek Darsih tidak lagi bisa bertahan lama tuan." ucap Max menjelaskan, membuat Barra langsung terdiam seketika di saat mendengarkan penjelasan tersebut.
"Tunda sebentar lagi." ucap Barra kemudian memberikan perintah.
"Tapi tuan..."
Bersambung
__ADS_1