Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Bertindak gegabah


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit melewati jalan pintas, Edrea dan juga Ardi sampai di sebuah rumah yang tak terlalu besar namun juga tidak terlalu kecil, Ditatapnya wajah arwah Ardi yang sayu dengan tatapan yang bingung akan tujuan Ardi membawanya kemari.


"Lalu sekarang apa?" tanya Edrea kemudian sambil melirik sekilas ke arah arwah Ardi yang masih diam termenung sedari tadi.


"Bisakah kamu mengetuk pintu untuk ku? ini adalah rumah Putri calon istri ku." ucap Ardi dengan nada suara yang sendu sambil menatap ke arah pintu rumah Putri.


"Ah calon istrimu rupanya.... lalu kau meminta ku untuk melakukan apa setelah Putri membuka pintu untukku?" tanya Edrea dengan raut wajah yang penasaran.


"Sampaikan padanya permintaan maaf ku karena tidak bisa menepati janji bersamanya hingga hari tua, walau aku tidak bersamanya lagi aku harap Putri akan tetap menyayangi ibu ku seperti aku menyayanginya sewaktu kita bersama." ucap Ardi dengan nada yang sendu di setiap kata katanya.


"Mengapa jadi aku yang mellow ketika mendengarnya?" batin Edrea dalam hati ketika mendengar permintaan dari Ardi barusan.


"Baiklah..." ucap Edrea kemudian sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam teras rumah Putri dan bersiap untuk mengetuk pintu.


Tok tok tok


Ketukan pertama tidak ada jawaban apapun dari dalam rumah, membuat Edrea lantas menatap ke arah Ardi sekilas kemudian berusaha mengetuk pintu kembali.


Tok tok tok


Coba Edrea sekali lagi berharap kali ini Putri bisa mendengarnya, namun sayangnya setelah berkali kali Putri tetap saja tidak muncul dan membukakan pintu.


"Apa menurut mu Putri sudah pergi dan mengurus jasad ku?" tanya Ardi kemudian pada Edrea ketika tak kunjung mendapat jawaban dari dalam.


"Aku rasa tidak, mengingat kecelakaan tersebut ikut menyeret beberapa mobil dan termasuk dalam skala besar, aku yakin pihak kepolisian pasti akan membutuhkan waktu lama untuk mengevakuasi dan mengenali satu persatu korban."ucap Edrea sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


"Lalu mengapa Putri tidak kunjung keluar?" tanya Ardi dengan nada yang bingung.


"Mungkin dia sedang keluar, jangan terlalu memikirkan yang macam macam." ucap Edrea untuk menenangkan Ardi yang terdengar sangat gelisah mengingat waktu yang keduanya miliki tidaklah tersisa banyak.

__ADS_1


Di saat keduanya sedang bingung memikirkan kepergian dari Putri, dari arah dalam rumah samar samar keduanya seperti tengah mendengar suara benda jatuh dan juga tawa seseorang dari dalam, membuat Edrea dan juga Ardi lantas saling pandang satu sama lainnya.


"Dia ada di dalam... aku akan mengeceknya di dalam." ucap arwah Ardi kemudian langsung berlarian menembus tembok dan masuk ke dalam rumah begitu saja meninggalkan Edrea di sana seorang diri.


"Lalu aku bagaimana? dasar arwah tidak tahu diri!" ucap Edrea dengan kesal ketika ia langsung di tinggal begitu saja oleh Ardi.


Edrea yang tidak ingin hanya berdiam diri saja di sana, lantas mulai berusaha menjentikkan tangannya hendak berteleportasi namun gagal karena Edrea sama sekali tidak berpindah dan tetap di tempat yang sama seperti sebelumnya.


"Loh kok gak berhasil? bukannya tadi aku sukses?" ucap Edrea bertanya tanya karena gagal berteleportasi.


Edrea yang tidak pantang menyerah lantas mulai kembali menjentikkan tangannya namun lagi lagi kembali gagal.


"Lalu bagaimana aku masuk? aku ingin ke dalam dan menyusul Ardi." ucap Edrea dalam hati.


Di tengah rasa putus asa akan kegagalan, tepat setelah Edrea berucap dalam hati tubuhnya tiba tiba berpindah tempat di dalam ruang kamar yang kala itu dalam kondisi gelap gulita.


Edrea yang tadinya bingung ia berpindah ke mana, lantas di kejutkan dengan pemandangan yang ada di hadapannya di mana samar sama Edrea malah melihat dua pasang manusia sedang asyik bercumbu dan menikmati kenikmatan yang berbalut hubungan yang terlarang.


Edrea menutup mulutnya dengan rapat agar tidak terdengar oleh kedua insan yang tengah bercumbu itu, lalu melangkahkan kakinya mendekat ke arah Ardi yang tengah diam mematung menyaksikan calon istrinya tengah bercinta dengan laki laki lain.


"Aku bahkan tidak pernah menyentuhnya dan selalu menjaga kesuciannya, namun nyatanya kesucian yang selalu aku jaga malah ia berikan dengan percuma untuk laki laki lain." ucap Ardi dengan nada yang sendu tepat ketika Edrea melangkahkan kakinya secara perlahan mendekat ke arahnya.


"Tenangkan lah hati mu... kita ambil sisi positifnya paling gak, kamu tidak jadi menikah dengan perempuan murahan seperti dia." ucap Edrea mencoba menenangkan dengan nada yang setengah berbisik takut kedua insan yang sedang bercinta tersebut mendengar suaranya.


**


Suara d**ahan tak lagi bisa terkontrol dan menggema memenuhi ruangan kamar tersebut, membuat emosi Ardi yang tadinya hanya sebatas terkejut mendadak menjadi penuh amarah ketika mendengar suara d**ahan yang keluar dari mulut kecil milik Putri.


"Dasar brengsek!" teriak Ardi dengan tiba tiba sambil berlarian hendak menuju ke arah Putri.

__ADS_1


"Jangan!" teriak Edrea dengan spontan bermaksud menghentikan arwah Ardi untuk tidak bertindak gegabah, namun malah membuat Putri dan juga laki laki yang tengah bercinta dengannya terkejut bukan main ketika mendengar teriakan yang berasal dari Edrea.


"Siapa di sana?" teriak pria yang kini tengah berada di atas ranjang bersama dengan Putri.


"Ah sial!" ucap Edrea dengan nada yang kesal karena mulutnya tiba tiba lepas kendali begitu saja.


***


Ruangan Barra


Setelah kepergian Edrea, Barra langsung berteleportasi ke ruang kerjanya. Tepat setelah tubuhnya muncul di sana Barra lantas langsung memegang meja dengan erat karena tiba tiba tubuhnya terasa lemas sekali, sedangkan dadanya begitu nyeri seperti tengah di tusuk oleh sesuatu yang tajam di area dadanya.


"Apa yang sebenarnya terjadi padaku?" ucap Barra dengan nada yang kebingungan sambil memegang dadanya dengan kuat sedangkan tangan bagian kirinya menyanggah tubuhnya yang tidak bertenaga.


Tubuh Barra luruh ke lantai begitu saja dengan posisi bersimpuh sambil terus berpegangan pada pinggiran meja.


Uhuk uhuk


Darah segar nampak keluar dari mulut Barra tepat setelah ia terbatuk, membuat Barra lantas dengan spontan langsung mengusapnya dengan kasar.


"Apa yang sebenarnya terjadi? mungkinkah karena aku yang membagi sedikit kekuatan ku pada gadis itu?" ucap Barra pada diri sendiri bertanya tanya.


**


Sementara itu di sebuah gua yang terletak di tengah tengah hutan, seekor ular besar nan panjang terlihat melata mendekati bibir gua sambil terus mendesis menjulurkan lidahnya.


Ular itu berhenti tepat di bibir gua kemudian mendongakkan kepalanya dan menatap langit langit malam.


"Sudah hampir tiba waktunya aku keluar, aku sungguh tidak sabar untuk kembali bertemu dengan pangeran yang terbuang... ssssss..." ucap ular tersebut sambil terus mendesis menatap rembulan malam.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2