Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Hanya menginginkan ketenangan


__ADS_3

Suara langkah kaki yang beradu dengan lantai keramik di mansion Edrea mulai terdengar menggema memenuhi keheningan di ruangan itu. Edrea, Kiera dan juga Barra nampak langsung menoleh ke arah sumber suara mencoba melihat siapa yang baru saja datang ke sini. Sosok Fano terlihat mulai melangkahkan kakinya secara perlahan mendekat ke arah Edrea dan juga Kiera, yang lantas membuat Barra mengerutkan keningnya dengan bingung ketika melihat kehadiran Fano yang sama sekali tidak di harapkan saat ini.


"Apa yang dia lakukan di sini?" ucap Barra pada diri sendiri sambil terus menatap ke arah Fano yang semakin melangkahkan kakinya mendekat ke arah Kiera dan juga Edrea.


Barra yang melihat langkah kaki Fano kian mendekat, lantas langsung melesat ke arah Fano tanpa memikirkan terlebih dahulu tentang Kiera yang nantinya akan merasa heran karena Barra yang muncul secara tiba tiba.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Barra langsung pada intinya.


Sedangkan Kiera yang melihat kehadiran Barra secara tiba tiba tepat di depan Fano, sedikit merasa heran dan juga bingung akan gerakan yang tiba tiba dan terkesan tidak masuk akal itu. Edrea yang melihat Kiera kini tengah dalam kondisi kebingungan, lantas berpura pura kehausan agar Kiera pergi ke dapur dan mengambilkan minuman untuknya. Sedangkan Kiera yang melihat Edrea ingin minum langsung bangkit dari posisinya dan melangkahkan kakinya ke arah dapur meninggalkan Edrea, Barra dan juga Fano di ruangan depan.


Setelah kepergian Kiera dari sana, Edrea bangkit secara perlahan dari posisinya dan menghampiri dua orang laki laki itu yang sedang melakukan aksi saling tatap satu sama lain.


"Sudahlah hentikan... hari ini aku sedang tidak ingin melihat kalian bertengkar..." ucap Edrea dengan lirih ketika ia berhenti tepat di antara Fano dan juga Barra saat ini.


Mendengar suara lirih dari Edrea, membuat Barra dan juga Fano langsung menoleh dengan seketika ke arah Edrea yang saat ini tengah menatap ke arahnya dengan manik mata yang sendu. Melihat hal tersebut Fano bukannya pergi ia malah tersenyum kemudian memberikan bunga mawar putih kepada Edrea, membuat Edrea dan juga Barra terlihat kebingungan akan tingkah laku Fano yang terkesan aneh.


"Aku turut berduka cita akan kematian nenek mu Edrea..." ucap Fano dengan nada yang lembut sambil menyerahkan setangkai bunga kepada Edrea.

__ADS_1


Edrea yang mendengar hal tersebut terkejut sambil menatap ke arah Fano, seakan bertanya tanya dalam benaknya apakah Fano telah kembali? tapi semua langsung di tepis oleh tatapan Barra yang terlihat menghunus tajam ketika Edrea melirik sekilas ke arah Fano yang hingga kini masih memasang senyuman ke arah Edrea. Dengan perlahan Edrea mulai mengarahkan tangannya hendak mengambil bunga tersebut dan menghargai pemberian Fano, sayangnya belum sempat tangannya mengambil bunga itu, Barra sudah lebih dulu mengambilnya dan menjatuhkannya ke lantai kemudian menginjaknya dengan seketika, membuat Edrea terkejut bukan main ketika melihat aksi Barra barusan.


Edrea yang merasa Barra sangatlah tidak sopan langsung dengan spontan mendorong bahu Barra dengan pelan, sedangkan Fano yang semula tersenyum mendadak raut wajahnya berubah ketika melihat tingkah Fano yang mendadak menginjak bunga pemberiannya itu.


"Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan Bar... sudah ku bilang aku tidak ingin melihat pertengkaran di sini, apa kamu tidak mengerti juga ha?" ucap Edrea dengan nada yang kesal.


"Kamu tidak tahu apa apa Rea... jadi cobalah untuk mengerti..." ucap Barra kemudian mencoba membuat Edrea mengerti jika apa yang ia lakukan adalah untuk kebaikannya.


Edrea yang mendengar ucapan Barra barusan hampir mirip dengan yang di ucapkan oleh Max, membuat Edrea langsung menjambak rambutnya dengan frustasi dan kesal akan tingkah atasan dan juga bawahan yang sama sama menyebalkan dan tidak pernah menjelaskan tindakannya terlebih dahulu, membuat Edrea selalu saja salah paham akan tindakan yang mereka lakukan dan pada akhirnya berakhir dengan penyesalan dari Edrea karena tidak mendengarkan ucapan Barra atau Max terlebih dahulu.


"Cukup ya Bar... cukup... aku benar benar lelah saat ini, terserah apa katamu.. terserah..." ucap Edrea pada akhirnya pasrah karena Edrea sudah benar benar lelah terus berdebat dengan Barra tanpa henti seperti ini.


Setelah mengucapkan hal tersebut Edrea kemudian menarik tangan Fano dan membawanya keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan Barra seorang diri yang menatap kepergian Edrea dan juga Fano dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Edrea memilih mengajak Fano keluar karena mungkin akan lebih enak jika di luar tanpa kehadiran Barra yang terus saja memicu pertengkaran walau Fano tidak berbuat apa apa. Bukan Edrea tidak tahu atau pura pura bodoh akan kelakuan dari Fano selama ini, hanya saja untuk hari ini Edrea hanya menginginkan ketenangan tanpa adanya pertengkaran atau semacamnya yang akan membuat suasana semakin buruk tepat di hari kematian Sita.


Edrea terus membawa Fano dan melangkahkan kakinya keluar dari mansion, hingga ketika berada di depan mansion miliknya barulah Edrea terlihat menghentikan langkah kakinya di sana dan melepaskan genggaman tangannya pada tangan Fano, kemudian menghembuskan nafasnya secara kasar sambil membenarkan rambutnya yang terlihat awut awutan dengan spontan. Sedangkan Fano yang melihat ekspresi wajah Edrea barusan, hanya terdiam dan menatap ke arah Edrea tanpa bertanya ataupun mengatakan sesuatu kepada Edrea.


"Aku minta maaf akan kelakuan Barra tadi... dan terima kasih atas bunganya, aku tidak bermaksud untuk merusaknya hanya saja... ah sudahlah, sekali lagi aku minta maaf ya.." ucap Edrea dengan nada yang menyesal ke arah Fano yang bercampur dengan perasaan kesal juga terhadap Barra yang selalu saja berbuat sesuka hatinya.

__ADS_1


"Tidak perlu terlalu di pikirkan.. aku baik baik saja akan hal itu.." ucap Fano dengan nada yang tenang membuat Edrea kembali menghela nafasnya panjang ketika mendengar ucapan dari Fano barusan.


***


Di area dalam mansion


Barra yang di tinggal sendirian di dalam, lantas mengambil posisi jongkok dan menatap ke arah bunga mawar yang tadi ia injak dengan sengaja. Bunga mawar yang berwarna putih bersih itu, perlahan lahan berubah warna menjadi kehitaman kemudian lebur dan menjadi abu, membuat Barra menghela nafasnya dengan panjang sambil terus menatap ke arah mawar tersebut yang kini hanya tersisa tangkainya saja sedangkan bunganya sudah benar benar habis dan melebur menjadi abu.


"Untung aku mengetahuinya lebih awal..." ucap Barra dengan tersenyum tipis menatap ke arah bunga mawar tersebut.


Cetar....


Sebuah suara gelas yang pecah dan membentur lantai, lantas terdengar menggema di ruangan tersebut membuat Barra dengan spontan langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Kau!"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2