
Di saat Mira dan juga Edrea tengah sibuk memikirkan sebuah cara, sosok arwah tersebut malah melesat dengan cepat menuju ke arah kedua perampok tersebut yang sudah kabur dari posisinya semula.
Baron dan juga Pras yang melihat ada kesempatan di depan mata mereka berdua, tentu saja langsung berlari sekencang mungkin dan berusaha mencari tempat teraman dari para makhluk makhluk aneh yang mendatangi ketiganya.
"Lari yang kencang Pras... lari..." teriak Baron sambil mengusahakan agar langkah kakinya berlari dengan kencang pergi dari tempat tersebut.
Sosok makhluk itu yang melihat kepergian Baron dan juga Pras tentu saja langsung marah dan juga kesal. Sosok itu kemudian melayang dengan cepat menghampiri Baron dan juga Pras tanpa menggubris Mira maupun Edrea yang sedari tadi berusaha untuk meredam amarahnya agar tidak terlalu memuncak dan membentuk gumpalan asap hitam yang semakin pekat.
Dengan sekali hentakan sosok itu melempar Baron dan juga Pras cukup jauh, hingga tubuh keduanya melayang dan menabrak pohon jati kemudian jatuh dan berguling di tanah.
Uhuk uhuk
"Am...puni kami..." ucap Pras sambil menangkupkan kedua tangannya merayap mendekat ke arah sosok tersebut dan memohon ampun.
Kalian manusia tidak tahu diri yang hanya bisa mengambil hak milik orang lain, tidak akan ku biarkan kalian melihat matahari terbit esok hari.
Ucap sosok arwah tersebut dengan mata merah menyala sambil melayang mendekat ke arah keduanya, membuat Baron dan juga Pras menjadi ketar ketir akan sosok makhluk tersebut yang kian mendekat ke arah keduanya.
"Berhenti!" pekik Edrea kemudian setelah berhasil menyusul sosok makhluk tersebut, membuat makhluk itu langsung dengan spontan menoleh ke arah belakang.
__ADS_1
Jangan coba coba mengganggu kesenangan ku... pergi!
Teriak sosok tersebut dengan lantang, hingga menimbulkan angin yang berhembus dengan kencang karena amarahnya yang kian menjadi jadi. Edrea yang melihat asap itu kian pekat bukannya takut malah mendekat ke arah sosok tersebut, sedangkan Mira yang juga ada di sana hanya menatap ke arah gerak gerik Edrea tanpa mencegah atau berusaha membujuk Edrea agar tidak mendekat ke arah sosok tersebut.
"Aku punya ide yang lebih bagus dari pada hanya sekedar kamu membunuh mereka dan menambah dosamu di dunia." ucap Edrea kemudian yang lantas membuat sosok itu nampak menatap ke arah Edrea dengan tatapan yang bertanya tanya sekaligus penasaran akan ide yang di berikan oleh Edrea.
"Apa kau benar benar punya sebuah ide? jika sampai kau membohonginya warna asap di sekeliling arwah itu akan kian menebal dan satu satunya cara untuk menyelamatkannya adalah memusnahkannya dengan resiko ia tidak bisa bereinkarnasi di kehidupan selanjutnya." ucap Mira dengan nada yang berbisik.
Mendengar ucapan Mira barusan tentu saja membuat Edrea sedikit goyah tentang cara yang ia miliki, apakah benar benar bisa mengembalikan arwah itu atau hanya sekedar memperburuk masalah saja. Di saat rasa kebingungan mulai datang dan menghampirinya sebuah kata kata Barra yang mengatakan bahwa kunci dari segalanya adalah mencoba dan lakukan, lantas membuat Edrea sedikit merasa lebih yakin walau tidak sepenuhnya, lagi pula apa salahnya mencoba bukan?
"Tenang saja, aku yakin cara ini akan berhasil." ucap Edrea dengan nada yang yakin.
"Sun matek ajiku puter giling sukma, tak jaluk guru kuasamu jabang bayine, sukmamu linglung koyo peksi muter, muliho sangkan paran asalmu yoiku jabang bayine Sumi, soko kersaning gusti, putergiling-gumiling pitung bumi pitung langit, agulung-gulung padang terawangan, katon teka lenging Qodrat Sang Maha Kuasa." ucap Edrea tiba tiba sambil menatap serius ke arah Baron dan juga Pras.
Edrea mengucapkan mantra itu dengan lirih sebanyak tiga kali, sedangkan Baron dan juga Pras yang mendengarkan Edrea mengucap mantra itu, lantas hanya terdiam sambil termenung menatap ke arah Edrea dengan tatapan yang kosong. Perlahan lahan Baron dan juga Pras mulai bangkit kemudian melangkahkan kakinya seperti orang yang linglung menjauh dari keduanya. Sosok tersebut yang melihat Baron dan juga Pras kembali pergi lantas kembali menjadi kesal dan menatap ke arah Edrea, namun Edrea yang di tatap malah tersenyum dengan santainya seakan tidak terjadi apa apa.
Apa kau sedang menipu ku ha?
"Diam lah dan jangan emosi terlebih dahulu, sebaiknya kita kembali ke rumah mu karena sebentar lagi akan di mulai." ucap Edrea dengan nada yang santainya, membuat Mira dan sosok makhluk itu menatap Edrea dengan raut wajah yang bingung.
__ADS_1
Tak ingin memberikan penjelas kepada Mira ataupun sosok arwah tersebut, Edrea dengan santainya malah bergerak berlalu pergi dari Perkebunan Jati tersebut hendak menuju kembali ke rumah Sumi untuk melihat apakah mantra yang ia ucapkan berhasil atau tidaknya.
***
Keesokan harinya
Rumah Sumi ramai di datangi warga karena kabar perampokan sekaligus pembunuhan terdengar dari mulut ke mulut yang pada akhirnya mengundang satu persatu warga untuk berkumpul dan melihat kejadian tersebut walau dengan jarak yang jauh. Garis polisi terpasang jelas sebagai pembatas agar para warga tidak ada yang masuk ke dalam rumah tersebut kecuali petugas kepolisian.
Ada satu hal yang menarik perhatian warga untuk berkumpul, di mana perampok sekaligus pembunuh sepasang suami istri tersebut yang harusnya sudah melarikan diri atau bersenang senang dengan harta curiannya, saat ini malah berada di dalam kamar Sumi dengan tatapan mata yang kosong dan masih menggunakan pakaian mencuri mereka dengan lengkap.
Ketika sampai di sana bahkan pihak kepolisian maupun warga setempat, sempat di buat terkejut karena kedua perampok tersebut malah diam di tempatnya tanpa berniat lari sedikitpun dari sana, yang lantas membuat semua orang menjadi kebingungan akan kelakuan dua orang perampok tersebut. Karena keduanya sama sekali tidak melakukan perlawanan dan hanya diam dengan pandangan yang kosong seperti orang linglung, pada akhirnya membuat polisi langsung dengan cekatan menggelandang kedua perampok tersebut menuju ke kantor polisi untuk di mintai pertanggung jawabannya.
**
Sementara itu, tepat di area perkebunan Jati yang tidak jauh dari rumah Sumi terlihat Karna sudah tidak lagi diselimuti gumpalan asap berwarna hitam pekat yang menutupi tubuhnya. Sepertinya ide Edrea kali ini benar benar tidak buruk, semua barang yang di ambil oleh Baron dan juga Pras kembali kepada tempatnya, sedangkan untuk Baron dan juga Pras langsung di gelandang ke kantor polisi untuk di mintai pertanggung jawaban dari perbuatannya, benar benar akhir yang indah walau Sumi dan Karna tidak lagi bisa hidup di dunia setidaknya mereka berdua bisa pergi dengan tenang tanpa dendam ataupun perasaan amarah akan sebab kematian mereka.
"Sebenarnya mantra apa yang kau rapalkan untuk mereka? mengapa mereka jadi seperti itu?" ucap Mira dengan raut wajah yang penasaran.
"Sebenarnya...."
__ADS_1
Bersambung