Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Tidak akan mengulangi kesalahan yang sama


__ADS_3

"Tidak mungkin kan?" pekik Barra ketika teringat tentang kejadian di masa lalu.


"Apa yang tidak mungkin menurut mu?" ucap sebuah suara yang lantas membuat Barra dengan spontan menoleh ke arah sumber suara.


"Ibu" pekik Barra yang terkejut akan kehadiran Ibu yang tiba tiba di ruangannya.


"Kenapa kau nampak sangat terkejut? apa aku tidak boleh singgah di sini?" tanya Ibu sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Barra berada, kemudian mendudukkan dirinya di sofa yang terletak tidak jauh dari meja kerja Barra.


"Bukan begitu Bu, aku hanya terkejut karena kedatangan Ibu yang tiba tiba seperti ini?" ucap Barra kemudian yang lantas di balas Ibu dengan senyuman.


"Apa ada sesuatu yang terjadi Bu?" tanya Barra lagi karena merasa ada yang aneh dengan kedatangan Ibu yang tiba tiba.


Mendengar pertanyaan dari Barra barusan membuat Ibu lantas terdiam seketika dan langsung memasang wajah yang serius menatap ke arah Barra.


"Mengapa kau membuat pembatas antara dirimu dan juga gadis itu Bar?" tanya Ibu kemudian yang lantas membuat Barra terdiam bingung, hendak menjawab apa pertanyaan Ibu barusan.


"Aku hanya... bukankah jika aku menjaga jarak itu akan lebih baik Bu?" ucap Barra pada akhirnya, membuat Ibu lantas menghela nafasnya dengan panjang.


"Kau salah besar, jika hal itu sudah ditakdirkan akan terjadi... walau kamu berusaha menghindar sekalipun takdir itu tetap akan kembali terjadi jika memang sudah waktunya." ucap Ibu memberikan pengertian kepada Barra.


"Lalu apa yang harus aku lakukan Bu? aku benar benar tidak menginginkan kejadian di masa lalu kembali terulang lagi." ucap Barra dengan nada bicara yang sendu.


"Jika kamu ingin merubahnya, lakukan secara bersama sama dan lihat hasil akhir yang akan kalian capai nantinya." ucap Ibu kembali memberikan teka teki kepada Barra.


"Apa maksud ibu barusan?" tanya Barra dengan raut wajah penasaran namun Ibu bukannya menjawab malah hanya menanggapinya dengan tersenyum simpul ke arah Barra.


***


Kantin


Baik Edrea dan juga Kiera terlihat tengah asyik menikmati sarapan mereka sebelum mengikuti kelas mereka pagi itu.


"Apakah sotonya enak Ki?" tanya Edrea ketika melihat Kiera terlihat sangat menikmati sarapannya.

__ADS_1


"Ini enak banget Rea serius, kapan kapan kamu harus cobain deh..." ucap Kiera dengan nada yang antusias.


"Dasar lebai hahaha..." balas Edrea dengan tawa yang di ikuti Kiera juga.


Ketika keduanya sedang asyik menikmati makanan mereka, beberapa mahasiswa terlihat tengah berlarian di lorong, membuat Edrea dan juga Kiera lantas saling pandang satu sama lain.


"Ada apa?" tanya Edrea dengan tatapan yang bingung.


"Entah, aku juga tidak tahu..." ucap Kiera sambil melihat ke sekitar.


Beberapa mahasiswa yang tengah asyik makan nampak ikut bangkit dan langsung berlarian, membuat Edrea dan juga Kiera semakin di buat bingung akan apa yang sebenarnya tengah terjadi.


"Hei tunggu, ada apa sih? kok semua pada lari lari?" tanya Edrea kemudian ketika mencoba menanyai salah seorang mahasiswa yang kebetulan juga ikut bangkit dan hendak berlalu dari sana.


"Ada yang bunuh diri loncat dari Rooftop gedung fakultas kedokteran, gue ke sana dulu ya..." ucap mahasiswa tersebut kemudian berlalu pergi meninggalkan Kiera dan juga Edrea di kantin.


"Bunuh diri?" ucap Kiera dan juga Edrea hampir secara bersamaan ketika mendengar ucapan mahasiswa tersebut.


Edrea dan juga Kiera yang penasaran akan kejadian tersebut, lantas langsung berlarian dan mengikuti langkah kaki beberapa mahasiswa ke tempat kejadian.


***


Beberapa mahasiswa terlihat sudah berkumpul tidak jauh dari korban yang baru saja terjun dan tergeletak di tanah dengan bersimbah darah. Mahasiswa yang lain nampak saling berbisik antara satu sama lain membahas tentang mahasiswa yang bunuh diri tersebut.


"Permisi... permisi.. permisi..." ucap Edrea yang melangkahkan kakinya membelah kerumunan mahasiswa yang terlihat berkumpul di sana.


Deg


Langkah kaki Edrea mendadak terhenti dan kaku ketika ia sampai di depan dan melihat Sila sudah tergeletak dengan bersimbah darah, bagian kepalanya hancur sebelah namun Edrea masih mengenali bajunya karena sebelumnya Edrea sempat berpapasan dan mengobrol bersama Sila tadi di lorong.


"Si...la" ucap Edrea dengan lirih, membuat Kiera yang baru saja sampai di belakang Edrea lantas menghentikan langkah kakinya karena terkejut akan ucapan dari Edrea barusan.


"Dia benar benar Sila... bukankah tadi kita masih berbicara bersama dengannya di lorong Rea?" ucap Kiera yang ikut terkejut melihat pemandangan di hadapannya.

__ADS_1


Tidak lama, ambulans datang dan langsung mengevakuasi korban, terlihat satpam nampak mulai bergerak dan membubarkan kerumunan mahasiswa agar menjauh dari lokasi kejadian.


Edrea yang samar samar melihat sekelebat bayangan petugas Stasiun Pemberhentian, lantas perlahan lahan mundur dan melipir hendak mengejar untuk mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Semoga saja Kiera tidak menyadari kepergian ku." ucap Edrea dalam hati sambil melangkahkan kakinya pergi dari sana.


Edrea bergerak dengan langkah yang cepat menyusul petugas Stasiun Pemberhentian yang menjemput Sila kala itu.


"Tunggu sebentar berhenti... hei... ku bilang berhenti..." ucap Edrea dengan nada sedikit meninggi berharap petugas tersebut mendengar suaranya, namun setelah ia cukup lama berteriak dan terus memanggil manggil mereka, baik petugas maupun sosok arwah tersebut sama sekali tidak memperdulikan Edrea.


"Hei..." panggil Edrea lagi.


Hingga kemudian langkah kakinya lantas terhenti ketika seseorang muncul dengan tiba tiba di hadapannya, membuat Edrea langsung mengerem mendadak karena takut akan menabrak orang tersebut.


"Arya! bisakah kau tidak muncul secara tiba tiba?" pekik Edrea sambil mengusap dadanya secara perlahan karena terkejut.


"Harusnya aku yang kesal karena kau selalu saja muncul ketika kami menjalankan tugas." ucap Arya dengan nada yang kesal.


"Ye biasa aja kali, gitu aja marah." ucap Edrea sambil memutar bola matanya jengah.


"Katakan, ada apa lagi saat ini?" tanya Arya dengan malas.


"Bawa aku bersama mu, Sila adalah teman masa kecil ku dan aku ingin..." ucap Edrea hendak berbicara namun keburu di potong oleh Arya.


"Tidak akan!" ucap Arya dengan nada yang tegas.


"Kenapa kamu pelit sekali sih? aku bahkan belum menjelaskan alasan ku, tapi kau sudah memotongnya." ucap Edrea dengan nada yang kesal.


"Aku sama sekali tidak perduli, asal kau tahu... gara gara aku membantu mu kemarin aku mendapat hukuman dari tuan Barra dan aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi, apa kau sudah mengerti?" ucap Arya menjelaskan segalanya.


"Tapi.."


"Sudahlah, aku harus pergi karena masih banyak tugas yang harus aku selesaikan." ucap Arya berpamitan namun langsung di tahan oleh Edrea.

__ADS_1


"Baiklah jika kamu tidak ingin membawa ku.. tapi setidaknya beri tahu aku cara untuk masuk ke dalam Stasiun Pemberhentian." pinta Edrea yang lantas membuat Arya langsung terdiam seketika.


Bersambung


__ADS_2