
"Singkirkan tangan mu dari sana!" ucap Barra dengan nada yang tertahan.
Barra yang sudah gemas akan tingkah Andi yang seperti itu, lantas menarik tubuh Andi agar menjauh dari Edrea. Andi yang ditarik seperti itu tentu saja terkejut bukan main dan hanya bisa menatap bingung ke arah Barra yang terlihat begitu marah kepadanya. Lampu ruangan kala itu benar-benar tak terkondisikan antara mati hidup dan mati hidup lagi, membuat Edrea yang tahu semua itu adalah ulah Barra lantas langsung menatap Barra dengan tatapan yang tajam. Hanya saja Barra sama sekali tidak menggubrisnya dan tetap menatap ke arah Andi dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
Perlahan Barra mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Andi berada, membuat Andi yang melihat ekspresi Barra yang seperti itu. Dibuat semakin tidak mengerti dan hanya diam mematung di tempatnya menatap ke arah Barra yang kian mendekat ke arahnya. Edrea yang tahu Barra akan melakukan sesuatu kepada Andi, lantas berusaha untuk bangkit dari posisi tidurnya. Dengan menahan rasa sakit di area dadanya Edrea mulai mencoba untuk menggerakkan kakinya turun dari brankar pasien tersebut.
Bruk
Suara Edrea yang terjatuh dengan cukup keras ke lantai membuat kedua orang itu langsung menoleh seketika. Andi yang melihat Edrea jatuh sambil memegangi area dadanya yang terasa sakit akibat kesulitan bernapas, membuat Andi langsung berlarian mendekat ke arah Edrea untuk berusaha menolongnya.
Sedangkan Barra yang juga melihat Edrea terjatuh di sana, tadinya hendak melangkahkan kakinya berusaha untuk menolong Edrea. Hanya saja sebuah tarikan tangan yang mendadak menarik tangannya dan membawanya berteleportasi ke sebuah tempat, membuat Barra lantas mengurungkan niatnya untuk membantu Edrea.
Setelah kepergian Barra dari sana, suasana di ruangan tersebut kembali seperti semula. Andi yang melihat Edrea jatuh dengan posisi terduduk di lantai, lantas langsung menggendongnya ala Bridal style dan membawanya kembali keranjang pasiennya. Dipasangkan nya kembali selang Oksigen yang terlihat terputus dari tabungnya dan memeriksa kondisi Edrea saat ini.
"Bernapas lah secara perlahan Re... Jangan buru-buru oke." ucap Andi memberikan arahan kepada Edrea yang terlihat sedikit gelagapan.
Mendengar arahan dari Andi barusan membuat Edrea perlahan-lahan mulai mengikuti arahan dari Andi dan mengambil napas dengan lebih pelan. Andi yang melihat Edrea berangsur-angsur sudah kembali normal lantas tersenyum. Di usapnya perlahan rambut Edrea dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Gadis pintar" ucap Andi sambil mengusap rambut Edrea dengan lembut.
__ADS_1
Edrea yang mendapat perlakuan tersebut dari Andi tentu saja terkejut, entah mengapa rasanya terasa sedikit aneh dan juga berbeda. Antara Barra dan juga Andi sama-sama membelai rambutnya. Hanya saja mengapa Edrea merasakan perasaan yang berbeda walau perlakuan keduanya sama?
Edrea yang mendapat perlakuan tersebut dari Andi lantas sedikit menggeser posisi tubuhnya, membuat tangan Andi yang semula mengusap rambut Edrea berhenti di awang-awang. Andi terdiam beberapa detik seakan sedikit tersentak akan gerakan Edrea barusan, membuat Andi langsung bangkit dari posisinya dan menghela napasnya dengan panjang.
"Aku minta maaf Re, aku lupa jika hubungan kita sudah berakhir cukup lama." ucap Andi yang baru menyadari segalanya.
"Tak apa aku mengerti, bukankah kita sudah berjanji akan berpisah dengan baik-baik dan tetap berteman. Jadi aku harap kita bisa berteman dengan baik tapi ku mohon jaga batasan mu." ucap Edrea kemudian mencoba untuk membuat Andi mengerti.
Andi yang mendengar perkataan Edrea barusan raut wajahnya lantas berubah seketika. Andi yang terlalu senang ketika bertemu dengan Edrea membuatnya lupa bahwa romansa yang terjadi diantara keduanya telah berakhir beberapa tahun yang lalu. Kenangan manis semasa SMA membuat Andi sulit melupakan hubungan keduanya, mengingat Edrea adalah cinta pertamanya waktu di sekolah dulu.
Helaan napas kembali terdengar dari mulut Andi ketika ia lagi-lagi tertampar oleh kenyataan bahwa semuanya telah usai. Andi tersenyum menatap ke arah Edrea membuat Edrea sedikit bingung akan arti dari senyuman Andi barusan.
Sedangkan Edrea yang menadapat pertanyaan tersebut tentu saja langsung mengikuti arah tunjuk Andi, namun detik berikutnya langsung mengernyit karena di belakang Andi sama sekali tidak ada siapapun. Edrea terdiam sejenak mencoba berpikir siapa yang dimaksud oleh Andi, hingga kemudian ia teringat akan sosok Barra yang saat ini sudah tidak terlihat berada di ruang perawatannya.
"Apa yang kau maksud adalah Barra?" tanya Edrea kemudian yang lantas membuat Andi langsung dengan spontan menatap ke arah belakang.
Andi yang tidak melihat siapapun di sana tentu saja terkejut bukan main. Ia bahkan baru menyadari bahwa Barra sudah tidak lagi ada di sana, padahal jelas-jelas ia tadi hampir bertengkar dengan Barra sebelum pada akhirnya Edrea jatuh dan membuat Andi lupa akan kehadiran Barra yang sudah tidak lagi ada di ruangan tersebut.
"Ah sudahlah, kita lupakan saja segalanya. Aku minta maaf jika sudah melewati batasan ku, aku akan meminta ruangan mu untuk dipindahkan. Sepertinya ruangan ini sudah lama tidak dikontrol ulang." ucap Andi kemudian mencoba untuk mengalihkan pembicaraan keduanya.
__ADS_1
"Terima kasih banyak sudah mengerti Andi." ucap Edrea sambil tersenyum tipis ke arah Andi.
Sedangkan Andi yang melihat senyuman Edrea lantas membalas dengan tersenyum pula. Sebuah kisah di masa lalu yang berkaitan dengan cinta pertama. Ternyata benar apa yang dikatakan orang-orang bahwa cinta pertama tidak akan pernah berhasil dan hal itulah yang saat ini dirasakan oleh Andi.
Setelah menyelesaikan pemeriksaan terhadap Edrea dan juga urusan beberapa tahun yang lalu, Andi kemudian lantas berpamitan keluar dari ruang perawatan Edrea.
Edrea menatap kepergian Andi dengan tatapan yang tidak bisa diartikan kemudian setelah itu mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Barra di ruangannya.
"Apa Barra marah padaku?" ucap Edrea pada diri sendiri.
***
Sementara itu di sebuah Gedung tua yang terbengkalai.
Barra yang sadar ia dibawa berteleportasi tanpa seijinnya, lantas langsung menghempaskan genggaman tangan seseorang tersebut dengan kasar. Barra yang sedari awal sudah kesal terhadap Andi, kekesalannya lantas bertambah berkali-kali lipat kita seseorang yang entah datangnya dari mana dan kapan begitu seenaknya membawa Barra berteleportasi hingga ke Gedung tua ini.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan ha?" pekik Barra dengan nada yang kesal sambil menatap ke arah seseorang yang kini tengah berdiri tepat dihadapannya.
"Kendalikan emosi Bar! Cobalah untuk berpikir lebih jernih saat ini!" ucapnya tak mau kalah meski ia sudah mendapat teriakan dari Barra.
__ADS_1
Bersambung