Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Kasus yang berhubungan?


__ADS_3

Kantor polisi


Reno yang baru saja selesai menangani kasus, lantas terlihat memasuki ruangan kantor polisi dengan langkah kaki yang perlahan.


Reno yang baru saja masuk, melihat Jaya nampak duduk dengan termenung lantas tersenyum dengan simpul, Reno tahu pasti Jaya kini tengah memikirkan sebuah kasus yang tentu saja rumit, mengingat Jaya tidak akan berhenti sebelum menyelesaikan sebuah kasus miliknya, jadi tidak heran jika wajahnya akan selalu nampak seperti itu.


Reno yang melihat sebuah foto korban dan beberapa berkas di atas meja, lantas langsung mengerutkan keningnya ketika melihat sebuah nama Universitas yang tidak asing baginya.


"Kau sedang menangani kasus ini? ini kasus di salah satu Universitas ternama di Indonesia bukan?" ucap Reno rekan satu divisi dengannya, membuat Jaya yang sedari tadi duduk termenung, lantas langsung mendongak ke arah Reno karena cukup terkejut bahwa Reno mengetahui tentang kasus ini.


"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Reno dengan raut wajah yang penasaran.


Reno yang mendapat pertanyaan seperti itu, lantas langsung menyodorkan sebuah berkas tepat di hadapan Jaya, membuat Jaya langsung menatap dengan bingung ke arah Reno.


"Minggu lalu aku mendapat sebuah telpon dari nomor asing yang mengaku bahwa ia tahu tentang dalang di balik percobaan bunuh diri di Universitas yang sama dengan kasus yang kau tangani sekarang, memang tidak ada yang janggal dari laporan tersebut, hanya saja... bukankah menurut mu akan sedikit terasa aneh? karena kami tidak pernah menemukan bukti apapun atas kasus bunuh diri ini, ketika aku selidiki benar benar layaknya seperti kasus bunuh diri pada umumnya dan tidak ada yang aneh sama sekali sampai si penelpon itu memberikan sebuah bukti dan juga pelaku yang benar benar cocok dan memang terindentifikasi sesuai dengan laporan si penelpon tersebut." ucap Reno mulai bercerita.


"Bukankah itu hal yang wajar? ada pelaku, korban dan saksi kunci... lalu apa yang membuatnya aneh?" tanya Jaya yang masih tidak mengerti.


"Memang benar, hanya saja setelah di lakukan tanya jawab dan sebagainya, kau tahu apa yang gila? si penelpon itu sama sekali tidak berada di tempat kejadian ketika hal tersebut terjadi, dia hanya menjelaskan seseorang telah memberitahunya tanpa mau mengatakan kepada kami siapa orang tersebut." ucap Reno dengan raut wajah yang serius, membuat Jaya langsung terdiam seketika di saat mendengarkan ucapan dari Reno barusan.


"Boleh aku tahu siapa saksi tersebut?" tanya Jaya kemudian.

__ADS_1


Mendengar permintaan dari Jaya, Reno lantas langsung menyodorkan sebuah formulir yang berisi data diri lengkap dengan foto ukuran 3 x 4 di sana. Jaya yang menerima kertas tersebut tentu saja terkejut bukan main, bagaimana tidak? ketika saksi yang di bicarakan oleh Reno sedari tadi adalah Edrea yaitu gadis yang ia temui di lorong kamus kemarin.


"Mengapa harus dia? apakah ada hubungannya antara kasus kematian yang di tangani Reno dengan kasus kematian yang sedang aku pegang saat ini? anehnya mengapa aku merasa seperti tidak asing dengan gadis itu?" ucap Jaya dalam hati bertanya tanya apakah semua kasus ini berhubungan?


Reno yang melihat Jaya hanya diam termenung, lantas langsung menggerak gerakkan jari tangannya di depan mata Jaya secara berulang.


"Woi... apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Reno kemudian dengan raut wajah yang penasaran, sedangkan Jaya yang mendapat pertanyaan tersebut, lantas langsung bangkit berdiri mengambil jaket miliknya dan juga kertas berisi data diri Edrea.


"Tidak ada, aku pergi dulu ya... terima kasih atas informasinya..." ucap Jaya kemudian berlalu pergi meninggalkan Reno dengan tatapan yang bingung akan kelakuan dari Jaya.


***


Ruangan Barra


"Mengapa malah aku yang membereskannya? bukannya dia yang membuat berantakan? mengapa malah jadi aku?" gerutu Edrea sambil mencebikkan mulutnya karena kesal.


"Jangan menggerutu dan lakukan saja, lagi pula ini juga tugas seorang pelayan bukan? jadi nikmati tugas mu dan cepat selesaikan." ucap Barra memberikan perintah, membuat Edrea langsung menatap dengan tajam ke arah Barra yang kini sedang duduk santai pada kursi kebesarannya.


"Bukankah kamu hanya tinggal menjentikkan jari mu saja, mengapa malah susah susah memanggil ku untuk datang?" ucap Edrea lagi, namun Barra yang mendengar Edrea kembali menggerutu, hanya tersenyum dengan simpul membuat Edrea semakin merasa kesal ketika melihat respon Barra barusan.


"Tidak ada yang namanya sihir, kamu adalah pelayan ku dan sekarang aku memberikan perintah padamu! anggap saja ini sebagai olahraga, bukankah keduanya adalah hal yang sama?" ucap Barra dengan santainya yang langsung di balas Edrea dengan melengos karena kesal.

__ADS_1


"Menggunakannya sedikit tidak apa kali ya? bukankah dia juga tidak akan tahu?" ucap Edrea dalam hati sambil sesekali melirik ke arah Barra yang terlihat tengah sibuk melihat beberapa dokumen di mejanya.


Edrea yang melihat kesibukan Barra sebagai kesempatan, lantas langsung memfokuskan diri dan mulai menjentikkan tangannya memindahkan satu persatu buku kembali ke dalam rak, namun baru saja satu atau dua buku masuk dan tersusun di rak, sebuah suara yang tidak ia ingin ia dengar lantas terdengar menggema di telinganya.


"Sudah ku bilang untuk tidak menggunakan kekuatan, jangan kira aku tidak tahu Rea? apa kau lupa jika kekuatan yang kau miliki adalah sebagian dari energi milik ku?" ucap Barra dengan nada yang dingin, membuat Edrea yang tengah menggunakan kekuatan untuk memindahkan satu persatu buku tersebut menjadi tidak fokus.


Bruk...


"Aw!" pekik Edrea ketika buku yang semula hendak masuk ke dalam rak langsung meluncur ke bawah dan menimpa tepat di atas kepalanya.


Barra yang mendengar suara teriakan yang berasal dari Edrea, hanya tersenyum dengan simpul tanpa berniat menolongnya sama sekali.


"Lakukan dengan benar mangkanya!" ucap Barra lagi namun kali ini dengan nada yang di buat sedikit serius padahal ia sudah ingin tertawa sedari tadi.


"Benar benar menyebalkan!" ucap Edrea dengan kesal sambil menggosok kepalanya yang sakit akibat tertimpa buku barusan.


Dengan perasaan yang kesal Edrea mengambil kembali buku itu dan hendak menaruhnya di rak paling atas. Hanya saja tiba tiba gerakan tangan Edrea terhenti ketika melihat tulisan dalam aksara jawa yang tertera di sampul buku tersebut.


"Siluman ular hitam? untuk apa kau mengoleksi buku ini Bar?" pekik Edrea sambil mengangkat buku itu tinggi tinggi hendak menunjukkannya kepada Barra.


Deg...

__ADS_1


"Mengapa buku tersebut ada di sini?" ucap Barra dalam hati ketika berbalik badan dan melihat buku apa yang di maksud oleh Edrea.


Bersambung


__ADS_2