Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Perasaan iri


__ADS_3

Di sebuah gang perumahan yang kumuh terlihat Mira dan juga dua orang ajudannya, tengah melangkahkan kaki dengan anggun menyusuri gang gang sempit pemukiman tersebut lengkap dengan atribut pakaian serba hitamnya. Entah mengapa wanita itu sangat suka sekali dengan sesuatu yang berwarna hitam, membuat dirinya selalu mengenakan otfit warna hitam baik ketika bekerja maupun di saat santai.


Seorang pria yang sedari tadi melangkah di belakang Mira lantas memberikan sebuah iPad kepada Mira.


"Huft selalu saja pelaku pembunuhan." ucap Mira sambil menarik nafasnya perlahan.


Sambil berjalan Mira lantas mempelajari satu persatu data yang di berikan oleh asistennya itu.


Nama : Roki Hermawan


TTL : Jakarta, 11 Mei 1985


Sebab kematian : Meninggal karena terkena gergaji mesin hingga tubuhnya menjadi beberapa bagian.


Kode : Dark (pelaku pembunuhan)


Mira lantas menghela nafasnya panjang ketika membaca rincian identitas arwah yang akan ia jemput, sekedar info dalam dunia arwah Mira bertugas sebagai penjemput bagi para arwah menuju ke pemeberhentian terakhir yaitu stasiun kereta. Hanya saja bedanya arwah yang ia jemput kebanyakan dalam kategori kelas berat seperti pembunuh, psikopat, pencuri maupun arwah lainnya yang semasa hidupnya melakukan kejahatan, mungkin itu adalah salah satu alasan yang mendasari Mira menyukai warna hitam, karena bagi dirinya warna hitam mempunyai sisi lain yang kelam dan sangat cocok baginya.


Hanya saja ketika Mira sudah hampir setengah jalan menuju ke arah lokasi kematian arwah yang akan ia jemput, tiba tiba saja Mira seperti merasakan energi yang tak asing baginya dan sangat tajam tepat di area sekitarannya. Cuaca mendadak menjadi mendung di sertai dengan angin dan juga hujan yang deras melanda dengan tiba tiba di daerah pemukiman tersebut. Mira yang tahu betul ini ulah siapa, lantas tersenyum dengan sinis sambil bersendekap dada.


"Sepertinya akan ada sesuatu yang seru." ucap Mira dengan lirih di tengah guyuran air hujan yang deras malam itu.


"Apa kita akan menunggu sampai tuan Barra mengeksekusi arwah yang akan kita jemput Madam?" tanya Wili ketika melihat Mira menghentikan langkah kakinya.

__ADS_1


Oh ya jangan tanyakan mengapa sebagian dari penghuni stasiun mengenali aroma energi milik Barra, karena energi Barra memiliki sebuah aroma yang khas dan tidak di miliki oleh makhluk lain. Itulah mengapa banyak orang yang akan memilih menghindar jika mencium aroma khas energi milik Barra.


"Iya, bukankah kita bisa sekalian menonton sebuah pertunjukkan nantinya?" ucap Mira dengan tersenyum yang di balas Willi dengan anggukan kepala tanda mengerti.


Mira yang penasaran dengan apa yang akan di lakukan oleh Barra lantas menjentikkan tangannya ke udara dan berteleportasi ke sebuah tempat penggergajian, di mana di sana terlihat Barra dan juga Edrea tengah berdiri menyaksikan sesuatu.


Mira yang melihat interaksi keduanya lantas mengepalkan tangannya dengan tatapan yang tidak suka ke arah Barra dan juga Edrea yang tengah berada di area penggergajian tersebut. Perasaan iri melihat Barra yang begitu akrab dengan Edrea membuat hati Mira terbakar api cemburu. Mira kemudian lantas mendengus kesal ketika lagi lagi melihat Barra begitu perhatian kepada Edrea dan berusaha menenangkannya.


"Benar benar mengesalkan, kenapa Barra sampai bersikap sebegitunya kepada dia? bukankah ini bukanlah kali pertama Barra mendapat seorang pelayan? lalu mengapa kali ini sungguh berbeda?" ucap Mira dengan tatapan yang tidak suka.


"Baik, jika memang Barra melakukan hal itu, maka jangan salahkan aku jika aku juga ingin mengetes kemampuan gadis itu juga." imbuhnya lagi kemudian dengan senyum yang menyeringai.


"Apa kita akan terus berada di sini saja madam?" tanya Riko yang penasaran karena Mira tidak kunjung bergerak juga, sedangkan Wili yang mendengar ucapan dari Riko lantas langsung menyikut lengan Riko agar diam dan tidak bersuara kembali.


Mira yang mendengar ucapan Riko barusan tentu saja tersinggung dan langsung menatap tajam ke arah Riko yang tengah berdiri di belakangnya.


"Bu... bukan begitu Madam maaf..." ucap Riko langsung menunduk karena takut akan ucapan dari Mira barusan.


Dengan perasaan yang kesal Mira lantas melangkahkan kakinya mendekat menuju ke arah Barra dan juga Edrea, ketika Mira sampai di sana terlihat dari raut wajah gadis itu, ia nampak sangat shock melihat pemandangan di hadapannya.


Baik Riko dan juga Wili dengan spontan langsung menunduk memberi hormat kepada Barra ketika jarak mereka sudah dekat.


"Apa kalian sudah selesai?" tanya Mira dengan ketus menatap ke arah Barra dan juga Edrea.

__ADS_1


"Tentu, jemputlah arwah tidak berguna itu... aku yakin kau selalu punya tempat untuk mereka." ucap Barra dengan nada yang menyindir membuat Mira lantas memutar bola matanya jengah ketika mendengar sindiran dari Barra barusan.


"Wil... Rik... antar arwah bedebah itu menuju ke rumah singgah." perintah Mira kemudian kepada kedua ajudannya.


"Baik Madam" ucap Wili dan juga Riko secara bersamaan.


Baik Riko maupun Wili lantas bergerak dengan cepat membereskan arwah seorang pria yang ternyata adalah pembunuh dari sosok hantu wanita berlumur darah di mana Barra dan juga Edrea tengah berusaha menyelesaikannya.


Setelah kepergian Wili dan juga Riko dari sana, Barra lantas mengajak Edrea untuk meninggalkan tempat itu hanya saja genggaman tangan Mira yang melingkar di lengan milik Barra lantas menghentikan langkah kaki Barra dan juga Edrea.


"Aku menginginkan gadis itu!" ucap Mira dengan tiba tiba yang lantas membuat Barra langsung menoleh menatap tajam ke arah Mira.


Mira yang di tatap dengan tajam tak gentar sedikit pun, padahal ia baru kembali bekerja hari ini dan kekuatannya pun baru ia dapatkan kembali. Dengan mengganggu Barra seperti ini, bukankah namanya Mira sedang cari mati saat ini?


"Lepaskan tangan mu Mir dan jangan ganggu aku!" ucap Barra dengan nada yang dingin seakan tak suka dengan permintaan dari Mira barusan.


"Aku tidak akan melepaskannya jika kamu tidak menuruti permintaan ku!" ucap Mira dengan nada yang kekeh.


Barra yang melihat sifat keras kepala Mira lantas tersenyum sinis, dengan gerakan yang cepat Barra dan juga Mira lantas langsung berteleportasi menjauh dari Edrea, membuat Edrea lantas kebingungan akan apa yang baru saja terjadi.


"Apa mereka akan bertengkar hanya karena aku?" ucap Edrea dengan tatapan yang khawatir ke arah keduanya.


Sedangkan Barra yang barusan sudah berteleportasi, lantas langsung menghempaskan tangan Mira begitu saja hingga Mira mundur cukup jauh dari posisinya semula. Bara yang lagi lagi di buat kesal akan kelakuan dari Mira lantas langsung kembali berteleportasi dan muncul di hadapan Mira, membuat Mira lantas terkejut akan kehadiran Barra yang tiba tiba dan langsung mencengkram lehernya dengan erat.

__ADS_1


"Bukankah sudah ku bilang jangan ikut campur dalam urusan ku? kau benar benar ingin ku lenyapkan rupanya..." ucap Barra dengan senyum menyeringai menatap tajam ke arah Mira yang tengah kesakitan karena cengkraman Barra yang begitu kuat di lehernya.


Bersambung


__ADS_2