
Malam harinya di kamar Edrea
Terlihat Edrea tengah melangkahkan kakinya ke arah kanan dan kiri secara berulang kali sampai seperti setrikaan. Perkataan Mira yang mengatakan bahwa Lidia akan meninggal malam ini, membuat Edrea lantas terlihat begitu gusar karena memikirkan hal tersebut. Dipijatnya pelipis Edrea dengan perlahan karena bingung harus mengambil keputusan apa. Hingga sebuah panggilan telpon yang terdengar berdering dari ponselnya, membuat Edrea langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah nakas dimana ia meletakkan ponselnya di sana.
Edrea yang melihat nama Lidia tertera pada layar ponsel miliknya lantas langsung bergegas menggeser icon berwarna hijau dan mendekatkan ponsel tersebut ke telinganya, seakan bersiap untuk mengatakan sesuatu kepada Lidia atau hanya sekedar memastikan bahwa saat ini Lidia masih baik-baik saja. Dengan harap-harap cemas Edrea mulai mengeluarkan suaranya dan terus mencoba menyebut nama Lidia ketika panggilan keduanya terhubung, beberapa detik kemudian barulah Edrea sedikit merasa lebih lega ketika ia mendengar suara Lidia di seberang sana, setidaknya untuk saat ini Lidia masih benar-benar aman dan perkataan Mira tentang kematian Lidia belum terjadi atau mungkin tidak akan pernah terjadi dan Edrea sedang berharap akan hal itu.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Edrea kemudian kepada Lidia membuat Lidia lantas langsung mengernyit dengan bingung ketika mendengar pertanyaan dari Edrea barusan.
"Aku baik, ada apa ini kenapa kamu aneh sekali?" tanya Lidia kemudian.
Mendengar pertanyaan tersebut membuat Edrea hanya bisa tersenyum dengan kecut kemudian mencari alasan tentang mengapa ia menanyakan kabar kepada Lidia, setidaknya agar Lidia tidak merasa aneh sekaligus curiga akan pertanyaannya barusan. Obrolan demi obrolan yang terjadi di antara keduanya terus berlanjut dan semakin seru, keduanya lantas terhanyut dan terus menceritakan segala hal kenangan di masa lalu sekaligus bersenda gurau dan juga bercanda akan hal-hal yang sedikit sepele namun bagi mereka sangat menyenangkan ketika dibahas, hingga membuat Edrea lupa akan kekhawatiran yang sedari tadi menyeruak memenuhi hatinya.
"Kamu masih saja sama rupanya... Senang sekali menggoda seseorang." ucap Edrea sambil tertawa kecil.
"Ayolah Re sifat itu bahkan sudah mendarah daging, bukankah begitu? Hahaha..." jawab Lidia dengan tawa cukup keras.
Ketika keduanya tengah asyik bercerita tentang banyak hal, Edrea yang masih tertawa karena perkataan konyol dari Lidia lantas langsung terdiam seketika disaat ia mendengar sebuah suara aneh yang berasal dari Lidia. Entah mengapa perasaan khawatir dan juga takut mendadak kembali menyapa Edrea ketika ia mendengar bahwa ada yang mengikutinya sedari tadi di belakang, membuat Lidia mulai melangkahkan kakinya dengan bergegas hendak kabur dari kejaran pria misterius tersebut.
"Jangan panik tenanglah, sekarang katakan padaku dimana posisimu biar aku kesana sekarang juga." ucap Edrea mencoba untuk menenangkan Lidia agar tidak terlalu panik.
__ADS_1
"Aku... Aku berada di Barbershop yang terletak... Aaaaaa" ucap Lidia terpotong begitu saja dengan teriakan Lidia yang menggema memenuhi telinga Edrea.
"Halo... Halo Lid... Barbershop mana? Jangan membuat ku takut Lid... Halo.." ucap Edrea berulang kali.
Sayangnya meski Edrea terus memanggil nama Lidia secara berulang kali, tidak ada jawaban apapun diseberang sana membuat Edrea kian merasa khawatir akan keadaan dari Lidia saat ini. Edrea yang hanya mendapat kunci Barbershop saja lantas langsung men searching di google tentang beberapa Barbershop yang terletak di Ibukota. Betapa terkejutnya Edrea ketika ia mengetahui bahwa total Barbershop yang ada di Ibukota terdapat puluhan dengan lokasi yang berbeda-beda.
"Ah sial!" pekik Edrea dengan nada yang kesal ketika mengetahui jumlah Barbershop yang terletak di Ibukota.
Edrea nampak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sekaligus berpikir ia harus bagaimana saat ini. Hingga kemudian Edrea yang tidak ingin lagi membuang-buang waktu untuk menyelamatkan Lidia, pada akhirnya lantas memilih untuk mendatangi satu-persatu Barbershop yang ada di list google dengan cara berteleportasi, setidaknya itu lebih mempersingkat waktu dari pada mengendarai mobil saat ini. Sambil membayangkan tempat pertama Edrea mulai menutup matanya dan fokus ke tempat tersebut kemudian mulai berteleportasi detik itu juga.
**
Barbershop pertama
Karena kekuatan yang dimiliki Edrea bukanlah murni miliknya, sehingga Edrea tidak bisa berteleportasi begitu saja menghampiri seseorang yang baru saja dikenalnya karena memang selain jarak tempuh posisi letak seseorang tersebut, aura yang dimiliki oleh orang yang akan ia cari belum berbaur sepenuhnya dengan aura miliknya. Sehingga membuat Edrea kadang kebingungan mencari arah atau bahkan menemukan lokasi yang tepat jika sedang mencari seseorang yang baru ia temui.
Edrea berdecak dengan kesal ketika ia sudah mencoba berputar-putar gang namun tak kunjung menemukan keberadaan Lidia di manapun juga. Sampai kemudian Edrea menghentikan langkah kakinya sebentar dan mengambil napas dalam-dalam, Edrea mencoba sebisa mungkin untuk membuat hatinya tenang dan berpikir jernih. Mungkin perasaan yang begitu khawatir dan juga takut membuat ia kesulitan untuk berkonsentrasi dan memusatkan pikirannya.
Sambil menarik napasnya dalam-dalam Edrea mulai mencoba untuk berpikir jernih dan bersiap berteleportasi ke Barbershop selanjutnya. Edrea berharap kali ini ia akan menemukan keberadaan Lidia di sana.
__ADS_1
"Semoga saja kali ini aku berhasil menemukannya." ucap Edrea dalam hati sambil bersiap melakukan teleportasi ke tempat selanjutnya.
***
Stasiun pemberhentian
Mira yang baru saja mendapat pemberitahuan dari sistem, lantas langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah ruangan Barra tepat setelah Mira mengetahui dan mengenal dengan pasti sosok arwah yang akan ia jemput saat ini juga.
Mira terlihat menghentikan langkah kakinya begitu ia berhasil sampai di depan ruangan Barra. Sambil mengetuk pintu ruangan Barra sebentar, baru setelah Barra memberikannya ijin masuk Mira lantas langsung membuka handel pintu dan masuk ke dalam ruangan Barra untuk melaporkan sekaligus meminta ijin penjemputan.
Derap langkah kaki Mira yang berasal dari hells yang beradu dengan lantai keramik ruangan Barra, membuat Barra lantas langsung menatap ke arah Mira ketika melihat Mira melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang terburu-buru.
"Apa ada sesuatu yang membuat mu begitu gelisah?" tanya Barra kemudian ketika melihat langkah kaki Mira mendekat ke arahnya.
"Aku ingin meminta ijin untuk proses penjemputan, hanya saja aku rasa akan ada sedikit masalah." ucap Mira mulai memberikan laporan.
"Masalah apa?" tanya Barra dengan raut wajah yang penasaran.
"Sosok arwah yang akan aku jemput adalah kenalan Edrea, aku yakin saat ini Edrea pasti sudah sibuk mencari keberadaannya untuk menyelamatkan sosok arwah ini karena aku tanpa sengaja mengatakan kepada Edrea bahwa temannya akan meninggal hari ini." ucap Mira dengan raut wajah yang merasa bersalah.
__ADS_1
"Apa? Bagaimana bisa?"
Bersambung