Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Aku hanya menjalankan perintah


__ADS_3

Max yang mendapat perintah dari Barra agar menyusulnya ke dunia manusia lewat Arya, kemudian langsung melangkahkan kakinya bergegas keluar dari ruangannya dan melakukan teleportasi ke suatu tempat di mana Barra berada.


Setelah berteleportasi, Max yang sampai di sebuah ruangan hampa mirip bangunan terbengkalai, lantas terlihat menatap ke arah sekeliling dan mencari tahu di mana keberadaan Barra saat ini. Disaat Max mencoba mencari keberadaan Barra, langkah kakinya kemudian terhenti kepada dua sosok makhluk di mana salah satunya adalah sosok yang tak asing bagi Max yaitu Barra.


Melihat hal tersebut Max kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah Barra, membuat Barra dengan spontan menoleh ke arah suara langkah kaki yang terdengar kian mendekat ke arahnya.


"Mengapa lama sekali?" ucap Barra dengan kesal ketika baru melihat Max datang menghampirinya.


"Maafkan saya tuan." ucap Max kemudian.


Setelah melihat kedatangan Max di sana, Barra kemudian memberikan perintah kepada Max untuk menjemput arwah Indri selagi Barra dan juga sosok makhluk tersebut menunggu di Stasiun Pemberhentian. Max yang mendengar perintah tersebut tentu saja sedikit bingung, mengingat tujuan Barra kemari untuk menghentikan perbuatan sosok makhluk tersebut, namun mengapa berakhir dengan Barra yang memerintahkannya untuk menjemput arwah Indri? bukankah ini sangat aneh?


Max yang mendapat perintah tersebut pada akhirnya mau tidak mau bergerak melaksanakan perintah dari Barra tanpa bisa bertanya lebih lanjut, walau mungkin di dalam hati Max terselip rasa penasaran akan perubahan perintah yang di berikan Barra kepadanya.


**


Rumah kontrakan Indri


"Jangan menyentuhnya... biarkan saya dia begitu." ucap sebuah suara yang lantas membuat Mira dan Edrea dengan spontan menoleh ke arah sumber suara.


Max yang baru saja datang di rumah kontrakan Indri, terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah ketiganya kemudian mengeluarkan iPad dan mulai menggeser layar iPad tersebut secara perlahan, membuat Mira dan juga Edrea saling pandang satu sama lain ketika melihat tingkah Max yang seperti itu.

__ADS_1


"Apakah kau datang untuk menjemputnya?" tanya Mira kemudian dengan raut wajah yang penasaran akan maksud dari kedatangan Max di sini.


Mendengar pertanyaan tersebut, Max hanya mendongak sebentar ke arah Mira dan mengangguk kemudian kembali fokus menatap ke arah layar iPadnya tanpa menjelaskan lebih lanjut duduk perkaranya, yang membuat Mira dan Edrea semakin bingung karena Max sama sekali tak menjelaskan apapun juga.


"Bukankah dia masih hidup? Apa kau yakin... kau tidak salah menjemput arwah?" tanya Edrea kemudian yang masih menatap ke arah Max dengan raut wajah yang penasaran.


Max yang kembali mendengar pertanyaan dari keduanya, lantas menghela nafasnya dengan panjang kemudian mematikan iPad tersebut dan menatap ke arah Mira dan juga Edrea secara bergantian.


"Aku tidak tahu dan hanya menjalankan perintah dari tuan, apa itu sudah menjawab rasa penasaran kalian?" ucap Max kemudian dengan nada penuh penekanan karena kesal akan keduanya yang terus bertanya sedari tadi.


Baik Mira maupun Edrea yang mendengar ucapan Max barusan bukannya mengerti malah semakin bingung dan dengan spontan menggeleng secara pelan, membuat Max semakin di buat kesal akan tingkah keduanya yang mirip tersebut.


Melihat hal tersebut Max kemudian lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah tubuh Indri dan melewati Edrea serta Mira begitu saja tanpa berniat menjelaskannya terlebih dahulu, yang lantas membuat Mira dan juga Edrea dengan spontan berbalik badan dan menatap ke arah kepergian Max.


"Indri Septiani, waktu mu di dunia ini sudah berakhir. Walau aku yakin ini tidaklah adil bagi mu namun takdir selalu datang tanpa bisa kita pilih bagaimana akhirnya. Ikutlah dengan ku dan tebus lah segala perbuatan baik dan juga buruk mu selama hidup di dunia ini." ucap Max dengan tiba tiba.


Sosok arwah Indri yang mendengar ucapan Max barusan tentu saja terkejut bukan main, ditatapnya raganya yang tidak lagi bergerak itu dengan pandangan yang sendu kemudian menatap ke arah Max, Mira dan terakhir Edrea. Pandangan mata Indri kemudian terhenti pada sosok Edrea yang seakan tidak asing di ingatannya.


"Kamu..." ucap Indri sambil menatap ke arah Edrea saat ini.


Edrea yang tahu Indri pasti terkejut melihatnya di lingkaran ini, hanya bisa tersenyum dengan kecut sambil memberikan isyarat kepada Indri untuk diam lewat jari telunjuk yang Edrea tempelkan kepada bibirnya.

__ADS_1


"Ayo ikut dengan ku!" ucap Max kemudian sambil menuntun indri agar mengikuti langkah kakinya.


Pada akhirnya Indri mau tidak mau lantas mulai melangkahkan kakinya mengikuti arah di mana Max menuntunnya, sosok Indri dan juga Max perlahan lahan terlihat mulai menghilang dari ruangan tersebut dan menuju ke Stasiun Pemberhentian sesuai perintah dari Barra sebelumnya.


Dan kini hanya tersisa Mira dan juga Edrea di rumah kontrakan Indri dengan segala kebingungan dan juga tanda tanya yang terus berputar di kepalanya tanpa ada yang memberi tahu mereka berdua apa yang telah terjadi sebenarnya.


Setelah kepergian Max dan juga Indri dari sana, Edrea kemudian mulai menatap ke arah Mira dengan tatapan tanda tanya, begitu juga Mira yang saat ini melakukan hal yang sama kepada Edrea. Dengan langkah yang perlahan Edrea lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah Mira sambil menghela nafasnya panjang.


"Sepertinya kita ketinggalan terlalu jauh, aku bahkan tidak tahu apa apa tapi gadis itu malah sudah meninggal dan roh nya di bawa Max ke Stasiun Pemberhentian, bagaimana dengan mu?" ucap Edrea kemudian dengan raut wajah yang masam, membuat Mira ikut menghela nafasnya dengan panjang ketika mendengar keluh kesah yang keluar dari mulut Edrea barusan.


"Kau kira aku tahu? Aku juga sama, kedatangan ku ke sini bahkan karena mengikuti mu... mana tahu aku apa yang tengah terjadi saat ini!" ucap Mira dengan nada yang juga bingung.


Edrea yang mendapat jawaban tersebut lantas langsung terdiam seketika, tidak ada yang bisa menjawab segala pertanyaan mereka saat ini. Sekarang yang ada hanyalah sebuah kekosongan dan juga tanda tanya besar mengisi isi kepala mereka berdua.


Mira yang mendengar helaan nafas Edrea yang secara terus menerus, membuatnya sedikit jengah dan dengan spontan langsung menarik tangan Edrea dan membawanya pergi ke suatu tempat yang tentu saja bisa menjawab segala kegelisahan keduanya akan beberapa hal yang sedang terjadi saat ini. Sedangkan Edrea yang di tarik tiba tiba oleh Mira, hanya bisa menatap ke arah Mira dengan tatapan yang kebingungan akan maksud dari tarikan tersebut.


"Mau kemana kita?" tanya Edrea dengan raut wajah yang penasaran.


"Mau ke tempat seseorang yang bisa menjawab segala pertanyaan kita!" ucap Mira dengan nada yang santai.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2