
Dapur
Kiera terlihat melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur untuk mengambilkan minum Edrea. Kiera menghentikan langkah kakinya tepat di depan mini bar kemudian terdiam sejenak memikirkan beberapa hal ganjil yang sering terjadi ketika ia berada di tengah tengah Barra, Edrea maupun juga Fano. Entah mengapa Kiera merasa ada yang aneh dengan tiga orang tersebut namun ketika Kiera hendak mengutarakannya selalu saja anehnya Kiera melupakan hal tersebut, seakan akan ada yang sengaja menghapus ingatannya tapi Kiera sama sekali tidak tahu siapa yang melakukannya.
Kiera menghela nafasnya dengan panjang kemudian mengambil gelas dan langsung menuang air putih ke dalam gelas untuk Edrea.
"Sepertinya hanya perasaan ku saja... mungkin aku terlalu kecapekan saja jadi agak sedikit berhalusinasi." ucap Kiera dengan nada yang lirih sambil mengusap tengkuknya secara perlahan.
Setelah termenung cukup lama di dapur, Kiera kemudian melangkahkan kakinya keluar dari dapur dengan membawa segelas air putih untuk Edrea minum. Ketika Kiera sampai di ruangan depan, ia sudah melihat Edrea yang menarik tangan Fano keluar dari sana, sedangkan Barra hanya terdiam dengan menatap ke arah ketiganya. Kiera terdiam di tempatnya menatap setiap adegan yang tersaji di hadapannya, jika Kiera melihat dari sisi kacamatanya ketiganya pasti baru saja bertengkar, hanya saja Kiera tidak tahu apa permasalahannya yang membuat ketiganya bertengkar.
"Apa aku tunggu di sini dulu saja ya? sepertinya akan sangat aneh jika aku tiba tiba muncul di sana." ucap Kiera dalam hati.
Kiera terus memperhatikan gerak gerak Barra yang hanya terdiam di tempatnya sambil menatap ke arah kepergian Edrea dan juga Fano. Entah mengapa Kiera seperti merasa bahwa Barra bukanlah sosok manusia biasa, walau Kiera sama sekali tidak paham akan hal begituan, hanya saja aura yang ada pada diri Barra membuat Kiera seakan merasa terintimidasi dengan sosoknya, seakan akan Barra memiliki daya tarik tersendiri yang membuat siapa saja langsung tunduk kepadanya.
Kiera yang terus memperhatikan Barra, tak berapa lama menjadi terkejut ketika melihat pemandangan yang tidak biasa. Di mana setangkai mawar putih yang tergeletak di lantai, perlahan lahan berubah warna menjadi kehitaman setelah itu melebur menjadi abu dan terbang di bawa angin menyisakan hanya tangkainya saja.
"Untung aku mengetahuinya terlebih dahulu..." ucap Barra dengan tersenyum tipis menatap ke arah bunga mawar tersebut.
Cetar....
__ADS_1
Sebuah suara gelas yang pecah dan membentur lantai, lantas terdengar menggema di ruangan tersebut membuat Barra dengan spontan langsung menoleh ke arah sumber suara dan langsung terkejut ketika melihat Kiera tengah menatapnya dengan tatapan yang seperti baru melihat hantu.
"Bagaimana bisa?" ucap Kiera dengan tergagap.
"Kau!" ucap Barra menggantung bingung hendak mengatakan apa. "Ah sial..." imbuh Barra lagi ketika mengetahui dengan pasti bahwa Kiera telah melihat semuanya.
Barra yang yakin Kiera melihat sesuatu, lantas langsung bangkit dari posisinya dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah Kiera, sedangkan Kiera yang melihat langkah kaki Barra terus berjalan ke arahnya, membuat dirinya ketakutan dan mulai mengambil langkah mundur secara perlahan berniat untuk kabur dari Barra. Sayangnya, tidak akan ada seorang pun yang bisa kabur dari sosok setengah manusia itu, Kiera yang tadinya berpikir bisa kabur dari Barra mendadak menghentikan langkah kakinya begitu ia berbalik badan karena Barra yang tiba tiba berteleportasi di hadapannya dan membuat Kiera terkejut hingga jatuh dalam posisi yang terduduk di lantai.
"Siapa kau sebenarnya?" ucap Kiera dengan nada yang tergagap.
Melihat raut wajah Kiera yang ketakutan, membuat Barra langsung mengambil posisi jongkok dan menatap ke arah Kiera dengan tatapan menelisik, yang langsung membuat Kiera menelan salivanya dengan kasar karena merasa terintimidasi dengan tatapan Barra kepadanya.
"Ah rupanya ingatan mu tidak hanya di hapus sekali dua kali ya... sungguh gadis yang malang!" ucap Barra yang terus menatap ke arah manik mata Kiera mencoba melihat sesuatu dari manik mata tersebut.
"Apa maksud ucapan mu?" tanya Kiera dengan ragu.
Mendengar pertanyaan tersebut Barra langsung bangkit dari posisinya dan kembali menatap ke arah Kiera namun kali ini dengan memasang senyum yang tipis, membuat Kiera kebingungan akan arti dari senyuman tersebut.
"Baiklah aku tidak akan menghapus ingatan mu tentang ku saat ini, anggap saja itu sebagai hadiah untuk ku kepadamu karena mengijinkan kau mengetahui siapa aku sebenarnya." ucap Barra dengan nada yang santai kemudian melangkahkan kakinya pergi dari hadapan Kiera.
__ADS_1
Sedangkan Kiera yang melihat Barra hendak pergi, buru buru bangkit dari posisinya dan berbalik badan kemudian berteriak kepada Barra, membuat Barra langsung dengan seketika menghentikan langkah kakinya.
"Apa yang kau mau dari Edrea sebenarnya? sosok mu yang bukan manusia biasa tentu saja memiliki suatu tujuan bukan?" ucap Kiera kemudian memberanikan diri mengatakan hal tersebut walau ia tahu konsekuensinya.
Barra yang mendengar ucapan dari Kiera barusan, lantas terdiam sejenak seakan nampak berpikir jawaban apa yang akan ia gunakan untuk pertanyaan Kiera saat ini, yang sekiranya tidak membuatnya semakin curiga dan menanyakan sesuatu yang lebih dalam lagi kepadanya.
"Anggap saja hubungan masa lalu yang belum selesai, apa kau percaya tentang reinkarnasi? mungkin itu adalah sebutan yang tepat untuk hubungan ku dan juga Edrea saat ini." ucap Barra lagi setelah itu melangkahkan kakinya kembali meninggalkan Kiera dengan langkah kaki yang perlahan.
Kiera yang mendengar jawaban dari Barra barusan hanya bisa menghela nafasnya dengan panjang dan menarik kesimpulan sendiri, karena jawaban dari pertanyaan Kiera barusan hanyalah sebuah teka teki yang harus bisa Kiera susun dan rangkai sendiri hingga membentuk suatu cerita yang utuh.
"Apa itu sungguh tidak apa? mengapa aku sedikit takut membiarkan Edrea bergaul dengan sosok pria tersebut." ucap Kiera pada diri sendiri.
***
Barra terlihat terus melangkahkan kakinya hendak keluar dari mansion dan menyusul Edrea dan juga Fano di luar. Kepergian Edrea dan juga Fano sudah cukup lama dan membuat Barra menjadi khawatir sekaligus penasaran akan apa yang tengah mereka bicarakan sedari tadi. Hingga ketika Barra hendak membuka pintu utama, sosok Mira yang tiba tiba muncul di hadapannya lantas langsung menghentikan gerakan tangan Barra yang hendak membuka pintu utama.
"Ada apa?" tanya Barra kemudian dengan raut wajah yang penasaran akan kehadiran Mira yang tiba tiba itu.
"Aku menemukannya?" ucap Mira dengan raut wajah yang serius.
__ADS_1
"Apa kamu yakin?"
Bersambung