Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Kedai teh


__ADS_3

"Aku seperti tidak asing dengannya? tapi siapa ya?" ucap Edrea dalam hati bertanya tanya di mana dia pernah bertemu dengan seseorang yang kini tengah bersembunyi di balik pepohonan tersebut menatap lurus ke arah kediaman rumah Sila.


Edrea mencoba memutar otaknya mengingat ingat kembali di mana dia pernah bertemu dengan pria tersebut, hingga beberapa detik berikutnya Edrea yang sudah ingat dengan jelas siapa pria tersebut, lantas langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang di sana.


"Halo dengan kantor polisi?" ucap Edrea ketika panggilan telponnya terhubung.


"Iya ada yang bisa saya bantu?" ucap sebuah suara di seberang sana.


"Saya ingin melaporkan tentang tindak kejahatan seseorang atas kematian seorang mahasiswa kedokteran di salah satu Universitas yang sempat viral kemarin, saya akan share lock lokasinya... saya harap bapak bisa segera datang kemari sebelum pelaku melarikan diri." ucap Edrea memberikan laporan.


"Baik, kamu tidak perlu khawatir kami akan sampai di sana secepatnya." ucap sebuah suara di seberang sana.


***


Kembali pada Edrea dan juga Firmansyah


"Kau jangan berbicara seenaknya, melompat dari atap gedung kampus adalah pilihannya sendiri, aku hanya memintanya untuk melakukan aborsi secara baik baik tapi dia malah memutuskan untuk bunuh diri." ucap pria itu keceplosan seakan merasa tidak terima akan tuduhan yang di berikan oleh Edrea barusan.


"Kena kau!" ucap Edrea dalam hati sambil tersenyum dengan tipis tepat ketika pria tersebut tanpa sengaja mengungkapkan kebenarannya.


"Saudara Firmansyah anda di tangkap atas tuduhan kasus percobaan pembunuhan dan tindakan aborsi ilegal." ucap sebuah suara dengan tiba tiba yang lantas membuat pria itu terkejut bukan main ketika mendengarnya.


Dua orang polisi nampak langsung menyergap Firmansyah dan meringkusnya dengan paksa, sedangkan Firmansyah yang tidak menyadari kehadiran dua orang polisi tersebut hanya bisa menatap dengan kebingungan ke arah kedua polisi tersebut.


"Sial... apa apaan ini pak? saya tidak bersalah... lepaskan saya pak, lepaskan saya!" teriak Firmansyah sambil terus memberontak meminta untuk di lepaskan padahal kedua tangannya sudah di borgol.


"Kamu bisa menjelaskan semuanya di kantor polisi, ayo jalan cepat!" ucap salah seorang petugas polisi tersebut sambil mendorong tubuh Firmansyah agar mengikuti langkah kaki polisi tersebut.


Salah seorang rekan polisi tersebut nampak mendatangi Edrea setelah rekannya menggelandang Firmansyah masuk ke dalam mobil.


"Apakah kamu yang memberikan laporan kepada kami?" tanya polisi tersebut.

__ADS_1


"Benar, itu saya pak." jawab Edrea.


"Jika memang seperti itu saya meminta anda untuk datang ke kantor polisi dan ikut memberikan keterangan di sana." ucap polisi tersebut.


"Baik pak, saya akan menyempatkan datang ke kantor polisi setelah bertakziah nanti." ucap Edrea yang lantas di balas polisi tersebut dengan anggukan kepala.


"Jika begitu saya permisi dulu." ucap polisi tersebut berpamitan.


"Silahkan pak" jawab Edrea sambil tersenyum ke arah polisi tersebut, baru setelah itu polisi itu melangkahkan kakinya berlalu pergi meninggalkan Edrea di sana.


Edrea yang melihat kepergian polisi tersebut lantas langsung mengulum senyum, Edrea benar benar bahagia bisa memberikan ketenangan kepada arwah Sila walau Sila mungkin tidak akan bisa melihat usahanya sekalipun.


"Aku rasa kali ini kamu berhasil melakukannya dengan lancar dan tanpa membuat onar." ucap sebuah suara yang lantas membuat Edrea langsung menoleh dengan spontan ke arah sumber suara.


"Kamu... bisa tidak kalau muncul itu jangan mendadak seperti itu kaget tahu!" pekik Edrea yang terkejut akan kehadiran Barra yang lagi lagi tanpa pemberitahuan sebelumnya.


"Bukankah aku sudah sering melakukannya, jadi harusnya kamu sudah beradaptasi bukan?" ucap Barra dengan nada yang santai membuat Edrea langsung memutar bola matanya dengan jengah.


"Baiklah, karena kamu sudah berhasil menyelesaikan tugas dengan tenang dan tanpa membuat masalah, maka sebagai hadiahnya aku akan mentraktir mu sesuatu." ucap Barra dengan senyum yang mengembang namun berhasil membuat Edrea terkejut ketika mendengarnya.


"Kamu... mentraktir ku? apa kamu yakin?" tanya Edrea yang tidak terlalu yakin akan ucapan Barra karena jujur saja selama ia bersama dengan Barra, Edrea sama sekali tidak pernah melihat Barra makan barang sedikitpun.


"Tentu saja, ayo kita jalan sekarang." ucap Barra lagi.


"Ini benar benar sungguhan? aku kira kamu akan menipuku." ucap Edrea lagi mencoba untuk memastikan.


"Sudah jalan saja kamu nanti juga akan tahu." ucap Barra lagi sambil mulai melangkahkan kakinya begitu pula dengan Edrea.


****


Di sebuah kedai teh

__ADS_1


Edrea terlihat langsung menatap dengan tatapan yang menelisik ke arah sebuah kedai teh tua dengan suasana yang sepi ketika Barra dan juga dirinya baru saja tiba di sana.


"Ayo masuk" ajak Barra yang melihat Edrea hanya diam mematung menatap keadaan kedai tersebut.


"Kamu yakin akan mentraktir ku di sini? sepertinya tempatnya kurang bersih, apa tidak sebaiknya..." ucap Edrea namun langsung di potong oleh Barra ketika tahu apa pemikiran gadis di hadapannya ini.


"Sudahlah, jangan mengkritik sesuatu terlebih dahulu... masuk dan cicipilah maka kamu akan tahu sensasinya." ucap Barra yang langsung menarik tangan Edrea agar mengikutinya masuk ke dalam kedai tersebut.


Sedangkan Edrea yang langsung di tarik, hanya bisa mengikuti langkah kaki Barra sambil cemberut walau sebenarnya ia sama sekali tidak ingin masuk ke dalam.


**


Ketika keduanya masuk ke dalam, seorang nenek nenek kisaran umur 70 sampai 75 an terlihat tengah mengelap meja pelanggan dengan wajah yang ceria, membuat Edrea yang tadinya cemberut langsung perlahan lahan merubah mimik wajahnya ketika melihat semangat nenek tersebut dalam berjualan.


"Selamat datang di kedai teh kami." ucap nenek nenek tersebut dengan senyum yang mengembang mempersilahkan Barra dan juga Edrea untuk masuk dan duduk di manapun mereka suka.


"Berikan kami teh dan juga makanan terenak di sini nek." ucap Barra yang lantas di balas nenek tersebut dengan senyuman.


"Tentu saja anak muda" ucap nenek tersebut kemudian berlalu pergi meninggalkan Barra dan juga Edrea di sana untuk memulai membuat pesanan.


Edrea menatap kepergian nenek nenek tersebut dengan tatapan yang iba, di usianya yang sudah senja nenek tersebut masih semangat untuk berjualan walau tanpa ada pelanggan sedikitpun yang datang ke kedai teh miliknya.


"Apa yang tengah kamu pikirkan?" tanya Barra ketika melihat Edrea tengah melamun.


"Aku tengah menatap dengan iba ke arah nenek itu? Bukankah beliau terlihat sangat kesepian Bar? aku yakin sekali di balik senyuman yang selalu ia perlihatkan menyimpan duka yang mendalam di hatinya." ucap Edrea sambil terus menatap ke arah nenek tersebut yang kini tengah meracik teh pesanan Barra.


"Sebenarnya tujuan ku ke sini untuk meminta tolong, jemput nenek untukku aku percayakan semuanya padamu." ucap Barra kemudian yang lantas membuat Edrea langsung menoleh seketika ke arah Barra.


"Apa maksud mu?" tanya Edrea dengan nada yang terkejut.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2