
Titttttt
Suara alat pendeteksi detak jantung yang berbunyi dengan panjang mulai terdengar menggema memenuhi ruangan tersebut menandakan bahwa pasien telah meninggal dunia. Mengetahui hal itu seseorang yang mengenakan jubah dokter tersebut, lantas langsung melangkahkan kakinya keluar begitu saja setelah mengetahui bahwa pasien tersebut sudah meninggal dunia.
Dari arah yang berlawanan beberapa dokter dan juga perawat nampak tengah berlarian menuju ruangan tersebut, ketika alarm kode blue pada pasien di kamar itu mulai terdengar di ruang jaga. Pria itu tersenyum di balik maskernya ketika melihat beberapa dokter dan juga perawat nampak berlarian memasuki ruangan kamar inap tersebut, kemudian berteleportasi ke sebuah tempat dan langsung membuang masker yang ia gunakan begitu saja tepat ketika ia berhasil melakukan teleportasi barusan.
"Aku bisa membayangkan bagaimana reaksi gadis itu jika mengetahui bahwa orang itu telah tiada karena ulahnya.... Sssss... bukankah akan sangat menyenangkan?" ucap pria tersebut yang ternyata adalah Fano.
Setelah puas akan tindakannya, Fano kemudian kembali melesat dan berteleportasi ke suatu tempat gelap dan juga lembap kesukaannya, sama halnya seperti ular pada umumnya, meski Fano memiliki tempat tinggal namun ia lebih memilih tinggal di sebuah gua yang gelap di dalam hutan jauh dari peradaban dan juga manusia.
***
Keesokan harinya di Mansion milik Sita
Terlihat Edrea tengah melangkahkan kakinya menuruni satu persatu anak tangga menuju ke arah dapur untuk mencari keberadaan Sita di sana. Hanya saja langkah kaki Edrea lantas terhenti, ketika Edrea melihat segelas jus strawberry terletak di meja makan, Edrea yang tahu pasti bahwa Sita pasti yang telah menyiapkannya untuknya, lantas langsung mengambil dan meminumnya sambil berjalan menuju ke ruang keluarga.
Bukan tanpa alasan, Edrea jelas tahu jika pagi hari seperti ini pasti Sita akan selalu berada di ruang keluarga dan menonton siaran berita kesukaannya.
Sambil membawa jus strawberry di tangannya, Edrea terus melangkahkan kakinya menuju ke arah ruang keluarga dan langsung memeluk omanya yang tengah duduk dengan santai di depan televisi asyik menonton siaran berita kesukaannya.
"Pagi Oma" ucap Edrea sambil memeluk Sita dari arah belakang dan mengecup pipinya sekilas, yang lantas di balas Sita dengan senyuman yang lebar ketika melihat tingkah manja dari cucunya itu.
__ADS_1
Edrea mengecup pipi Sita secara berkali kali, hingga pada akhirnya sebuah siaran berita yang tak sengaja ia dengar kala itu, lantas langsung menghentikan gerakan Edrea dengan seketika.
Sebuah kabar kematian mengejutkan datang dari seorang pedagang asongan yang meninggal setelah terkena sebuah keadaan yang masih misterius hingga kini, terakhir kali pedagang asongan tersebut di temukan tergeletak di lobi Rumah sakit dalam keadaan yang mengenaskan. Hingga saat ini bahkan pihak Rumah Sakit memilih untuk bungkam dan menutup rapat penyebab kematian aneh ini...
Edrea yang mendengar berita tersebut tentu saja terkejut bukan main, ia tentu dengan jelas mengingat bahwa pedagang asongan yang ada di berita adalah pedagang asongan yang sama yang ia temui semalam sebelum akhirnya ia tidak lagi mengingat apapun dan keesokan harinya terbangun di tempat Ibu.
Cetar....
Gelas yang ada di tangan Edrea lantas terjun begitu saja dari genggaman tangannya dan jatuh ke bawah tanpa di minta, membuat Sita yang terkejut akan suara pecahan gelas tersebut, lantas langsung bangkit dari posisinya dan menghampiri Edrea yang berdiri dengan termenung menatap ke arah televisi.
"Apa yang terjadi Rea? bagaimana kamu bisa seceroboh itu... ayo pergi dari sini... biar Oma yang membereskannya." ucap Sita yang terlihat panik sambil menyuruh Edrea untuk berpindah tempat dari sana agar tidak terkena pecahan dari gelas tersebut.
Sedangkan Edrea yang masih terkejut akan fakta yang baru saja ia dapatkan, hanya diam termenung sambil menatap kosong ke arah depan tanpa menanggapi ucapan dari Sita sama sekali.
Sebuah bayangan bagaimana dirinya yang bertindak dengan brutal menyerap energi pedagang asongan tersebut di sebuah gedung tua, mendadak terlintas begitu saja di benaknya padahal semalam ia sama sekali tidak mengingat bagian itu sekaligus tidak merasa melakukannya.
"Oma aku harus pergi sekarang!" ucap Edrea kemudian sambil melangkahkan kakinya.
"Kamu tidak ke kampus?" tanya Sita ketika melihat Edrea tidak membawa tas seperti biasanya.
"Iya, tapi Edrea mau mampir dulu sebentar Oma... Rea pergi dulu ya Oma..." ucap Edrea sambil berlalu pergi membuat Sita hanya bisa geleng geleng kepala melihat tingkah laku cucunya itu.
__ADS_1
***
Ruangan Mira
Sementara itu, Mira yang baru saja menyelesaikan tugasnya lantas terlihat tengah bersantai sambil menatap lurus ke arah depan. Mira menghela nafasnya dengan panjang secara berulang kali ketika rasa kantuk mulai mendatanginya, hingga tidak berapa lama Mira langsung bangkit dari posisinya ketika mengingat tentang apel yang di berikan oleh Barra beberapa hari yang lalu.
"Wah masih segar padahal sudah beberapa hari..." ucap Mira ketika melihat kresek apel tersebut dan terkejut karena kondisi apel yang masih segar dan baik untuk di makan, padahal ini sudah hampir memasuki hari ke tujuh yang logikanya apel tersebut pasti harusnya sudah layu atau bahkan busuk karena tidak di letakkan di lemari pendingin.
Mira yang tidak sabar untuk mencicipi rasanya, lantas langsung mengusap apel tersebut secara perlahan kemudian langsung menggigitnya.
Satu kali gigitan...
Dua kali gigitan...
Hingga tepat pada gigitan ketiga, sebuah gelayar aneh nampak mulai memasuki pikirannya. Sebuah bayangan yang tidak pernah Mira bayangkan mendadak terlintas di benaknya begitu saja.
Dalam penglihatannya Mira seperti di tarik mundur jauh ke jaman kuno tempat ketika peradaban belum berkembang dengan pesat. Mira melihat dirinya waktu masih muda beranjak remaja, nampak berlarian dengan raut wajah yang bahagia berkeliling di halaman sebuah bangunan mirip pendopo dengan ukuran yang cukup besar, hingga sebuah suara gadis perempuan yang terdengar cempreng mulai memenuhi telinganya.
"Yunda... (atau yang sering kita sebut kakak di jaman sekarang)." panggil gadis itu sambil berlarian keluar dari pendopo hendak menghampiri dirinya dengan berlarian dan langsung tersungkur karena kakinya yang tersandung sesuatu.
Mira yang melihat gadis itu terjatuh, lantas langsung berlarian menghampiri gadis itu dan membantunya untuk berdiri. Mira yang semula memasang raut wajah yang khawatir, mendadak langsung terkejut ketika melihat wajah gadis itu sangat mirip persis dengan Edrea.
__ADS_1
"Edrea!" pekik Mira dalam hati ketika melihat wajah gadis itu yang mirip sekali dengan Edrea.
Bersambung