
Kau pikir kau siapa ha? bahkan ceritamu dan juga ceritaku sama, lalu mengapa kau malah menghalangi ku untuk menjemputnya?
"Apa maksud ucapan mu itu? jangan pernah bermain main dengan ku!" pekik Barra dengan kesal namun sosok itu malah tertawa dengan keras.
Hahahaha
Setelah puas tertawa sosok tersebut kemudian menatap dengan tajam ke arah Barra, kemudian melesat dan berhenti tepat di hadapan Barra ketika tubuhnya dan juga Barra hanya berjarak beberapa centimeter saja.
Kau bahkan lebih tahu bagaimana rasanya menunggu? pelayan mu itu.... bukankah juga reinkarnasi dari gadis pujaan mu Bar!
Mendengar ucapan sosok tersebut Barra terkejut karena tidak menyangka sosok itu tahu segalanya, sedangkan sosok tersebut yang melihat raut wajah Barra berubah lantas tersenyum dengan sinis dan kembali menatap ke arah Barra seakan hendak memulai aksinya.
Jangan ganggu jalan ku untuk membawanya, aku yakin sewaktu saat kau juga akan melakukan hal yang sama dengan ku... jadi ku harap berhenti mengacaukan segala rencana ku!
Ucap sosok tersebut lagi kemudian melayang dan meninggalkan Barra di sana, Barra yang mendengar ucapan sosok tersebut mendadak terdiam sejenak, bayangan gadis yang berwajah mirip Edrea mendadak terlintas kembali di ingatannya dan membuat hati Barra kian rapuh, namun beberapa detik berikutnya ketika bayangan bagaimana ia membunuh gadis itu terlintas kilatan amarah yang bercampur penyesalan lantas terlihat jelas di mata Barra, membuat Barra langsung menatap kepergian sosok itu dengan tajam.
"Aku dan kau adalah dua hal yang berbeda, aku tidak pernah sedikitpun menginginkannya untuk pergi bersama ku namun kau malah sebaliknya dan hal itu lah yang membuat kita berdua berbeda!" ucap Barra dengan nada penuh penekanan.
Mendengar ucapan Barra barusan membuat sosok itu lantas menghentikan gerakannya, sosok itu bahkan langsung dengan spontan berbalik badan dan menatap ke arah Barra. Namun tanpa di duga Barra sudah melesat dan berhenti tepat di hadapannya, sambil memberikan pukulan telak kepada sosok tersebut dan membuatnya kembali terhempas dan jatuh.
Sialan... uhuk uhuk...
"Kau pikir kau siapa? bisa menyamakannya sesuka hati mu dengan kekasih mu itu, dia dan kekasih mu adalah dua hal yang berbeda, ingat itu!" pekik Barra dengan kilatan mata yang penuh amarah.
Barra benar benar tersinggung akan ucapan sosok itu, dengan langkah yang santai Barra mulai melangkahkan kakinya sambil menjentikkan jarinya, yang detik itu juga membuat sosok itu melayang kemudian kembali terhempas cukup jauh sekaligus terpental. Barra yang belum puas akan apa yang di lakukannya pada sosok tersebut, lantas langsung melesat dan mencengkram kuat leher sosok itu. Sebuah kilatan cahaya keemasan keluar dari telapak tangannya dan berhenti di ambang ambang seakan sengaja untuk memberikan penekanan kepada sosok tersebut.
Sosok itu yang sudah tidak berdaya akan serangan Barra yang bertubi-tubi lantas hanya bisa meringis ketika berada di cengkraman tangan Barra.
__ADS_1
Kau nanti akan menyesal... jika melenyapkan ku saat ini...
"Aku bukanlah tipe orang yang menyesali perbuatannya..." ucap Barra dengan tersenyum sinis kemudian mengarahkan tangannya ke arah sosok tersebut.
Namun sayangnya ketika kekuatan Barra sudah berada pada puncaknya, sebuah suara yang tak asing mendadak menghentikan gerakannya dan membuat kekuatannya yang sudah memuncak perlahan lahan turun ketika suara tersebut terdengar kian mendekat.
"Hentikan semua ini Bar..." ucap sebuah suara yang lantas membuat gerakan Barra terkunci seketika.
Barra yang mendengar suara tak asing tersebut, lantas langsung menoleh ke arah sumber suara dan melihat Ibu tengah melangkahkan kakinya mendekat ke arahnya. Melihat Ibu datang, Barra kemudian melepas cengkraman tangannya namun mengunci tubuh sosok itu agar tidak bisa beranjak dari tempatnya.
"Apa yang Ibu lakukan di sini?" tanya Barra kemudian.
Ibu yang mendengar pertanyaan dari Barra barusan, lantas tersenyum sambil terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah Barra.
"Biarkan dia melakukan keinginannya..." ucap Ibu dengan nada yang tegas.
"Tapi bu... dia ingin mengambil nyawa seseorang, apa ibu yakin akan mengijinkannya?" ucap Barra yang tidak mengerti akan perintah dari Ibu barusan.
Ibu yang tahu dengan pasti Barra tengah emosi saat ini, lantas menepuk bahu Barra dengan pelan seakan mengatakan bahwa semua akan baik baik saja sekaligus meredam kemarahan Barra yang terlihat begitu memuncak karena tersinggung akan ucapan dari sosok tersebut.
"Biarkan dia melakukannya Bar, semua yang sudah seharunya pasti akan terjadi walau sesuatu hal berusaha untuk menggagalkannya." ucap Ibu kembali, sedangkan sosok itu yang kini terkunci lantas tersenyum begitu mendengar ucapan Ibu barusan.
"Bu..." panggil Barra hendak kembali protes namun gelengan kepala Ibu membuat Barra langsung terdiam seketika.
"Lakukan saja, maka kamu akan tahu artinya..." ucap Ibu.
Setelah mengatakan hal tersebut kepada Barra, sosok Ibu kemudian pergi dan menghilang dari sana seakan mengisyaratkan kepada Barra untuk menjalankan perintahnya barusan. Barra yang melihat kepergian Ibu dari sana hanya bisa mengusap rambutnya dengan kasar, hati kecilnya tentu saja menolak perintah dari Ibu namun Barra sama sekali tidak bisa menolak perintah itu.
__ADS_1
"Sial!" ucap Barra dengan nada yang frustasi.
Bukankah kau sudah mendapatkan perintahnya? lalu apa lagi yang kau tunggu!
Mendengar suara tersebut Barra tentu saja langsung di buat kesal dan dengan spontan menoleh ke arah sumber suara.
"Diam dan tutup mulut mu itu!" ucap Barra dengan nada penuh penekanan.
***
Rumah kontrakan Indri
Edrea dan juga Mira yang baru saja masuk ke dalam rumah kontrakan Indri di kejutkan dengan susana dalam rumah yang gelap gulita tanpa penerangan. Mira yang paham akan situasinya lantas langsung menjentikkan jari tangannya dan menyalakan lampu.
Edrea yang bisa melihat dengan jelas ketika cahaya lampu menyala, langsung di hadapkan dengan pemandangan Indri yang sudah terkapar di lantai dan terlihat tidak bergerak.
Edrea yang melihat hal tersebut, lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah Indri untuk mengecek keadaan Indri saat ini.
"Dia masih bernafas..." ucap Edrea sambil menatap ke arah Mira yang kini tengah melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea dan juga Indri.
"Baiklah kalau begitu kita bawa dia ke Rumah sakit saja." ucap Mira kemudian memberikan saran.
"Baiklah"
Edrea yang mendengar saran tersebut lantas hendak berusaha membawa Indri bangkit, namun sebuah suara lantas langsung menghentikan gerakan tangan Edrea.
"Jangan menyentuhnya..." ucap sebuah suara yang lantas membuat Mira dan Edrea dengan spontan menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1
Bersambung