Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Tertangkap basah


__ADS_3

Di area dalam kamar


Secercah pancaran sinar yang begitu terang terasa menusuk retina Edrea yang kini tengah memejamkan matanya. Dengan perlahan-lahan Edrea mulai membuka kelopak matanya dan menatap ke arah sekitaran mencoba untuk menyadarkan dirinya sepenuhnya.


Rasa nyeri di area dadanya masih terasa sedikit sakit, namun Edrea mencoba untuk bangkit secara perlahan sambil terus mengedarkan pandangannya ke sekitar. Sebuah suara dari seseorang yang Edrea kenal langsung menyambutnya tepat ketika Edrea mulai bangkit perlahan dari posisi tiduran.


"Apa lukamu sudah mendingan?" tanya sebuah suara yang berasal dari Barra, dimana Barra kini tengah terlihat bersandar di tembok dan menatap ke arah Edrea.


Edrea yang mendengar pertanyaan tersebut lantas terlihat mengangguk, sambil mengusap area dadanya yang terluka dengan pelan Edrea mulai menatap ke arah Barra dengan tatapan yang menelisik.


"Apakah kamu tidak merasa berhutang penjelasan kepadaku Bar?" tanya Edrea pada akhirnya.


Sedangkan Barra yang mendengar pertanyaan dari Edrea bukannya menjawab malah melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea dan mengulurkan tangannya kepada Edrea, membuat Edrea yang sama sekali tidak mengerti akan maksud dari tingkah laku Barra kepadanya, lantas menatap Barra dengan tatapan yang bingung dan penuh tanda tanya.


"Genggam lah tangan ku dan kita rubah akhir kisah kita bersama-sama." ucap Barra sambil mengulurkan tangannya ke arah Edrea dengan tatapan yang penuh harap.


"Ada apa ini Bar? Mengapa tiba-tiba kamu membahas akhir yang bahkan aku saja belum pernah merasa memulainya?" ucap Edrea dengan raut wajah yang bingung.


"Semuanya sudah ditakdirkan ke jalannya masing-masing dan takdir mu ada bersama ku. Aku pernah berbuat kesalahan dengan membunuh nyimas dahulu, tapi kali ini aku berjanji akhir kisah antara aku dan kamu tidak akan lagi sama seperti yang dulu. Apakah kamu mau ikut dan berjalan bersamaku mengakhiri apa yang perlu kita akhiri?" tanya Barra kemudian masih dengan tangan yang menggantung menunggu uluran tangan Edrea yang menerima permintaannya.


Edrea yang mendengar setiap perkataan yang keluar dari mulut Barra tentu saja sedikit bimbang, Edrea jelas tahu akhir yang dibicarakan oleh Barra baru saja, namun akankah jika langkahnya berjalan beriringan dengan Barra, mungkinkah segalanya akan berubah?


Edrea yang sedikit ragu lantas terlihat menatap ke arah manik mata Barra yang terlihat penuh dengan keyakinan. Hingga membawanya begitu hanyut pada kedua manik mata tersebut dan dengan perlahan membawa tangannya menuju ke arah tangan Barra yang sedari tadi menunggu keputusannya.

__ADS_1


"Aku percaya sepenuhnya kepadamu Bar." ucap Edrea kemudian sambil menggenggam dengan erat tangan Barra.


Barra yang melihat respon dari Edrea tentu saja tersenyum, kini apapun yang akan terjadi kedepannya Barra akan sekuat tenang berjuang dan menghadapinya. Barra benar-benar yakin jika ia berusaha dengan keras, sebuah akhir yang sekalipun tidak mungkin pasti akan secara perlahan berubah sesuai dengan apa yang telah ia perjuangkan. Bukankah usaha tidak pernah mengkhianati hasil?


***


Stasiun Pemberhentian


Barra dan juga Edrea yang baru saja sampai di Stasiun Pemberhentian setelah semalaman tinggal di rumah Ibu, lantas terlihat melangkahkan kakinya sambil bergandengan tangan dengan erat diselingi beberapa senyuman yang terlihat mengembang di wajah keduanya.


"Wah bagus sekali ya... kerjaan disini menumpuk tapi kalian berdua malah pacaran.. hebat sekali..." ucap sebuah suara yang terdengar nyaring menyapa telinga keduanya.


Mendengar suara tersebut baik Edrea maupun Barra lantas dengan spontan melepas genggaman tangan keduanya dan bersikap dengan gugup seakan tengah tertangkap basah, membuat seseorang tersebut yang ternyata adalah Mira langsung menahan tawanya ketika melihat tingkah keduanya yang seperti itu.


Mira yang berusaha untuk tidak tersenyum lantas terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Barra dan juga Edrea berada kemudian mulai bersendekap dada menatap ke arah keduanya.


"Iya ya ya... terserah apa kata anda tuan Barra, yang jelas ah sudahlah aku tidak akan ikut campur masalah kalian berdua..." ucap Mira sambil melangkahkan kakinya melewati Barra dan juga Edrea.


Melihat tingkah Mira yang aneh itu, baik Barra dan juga Edrea lantas saling pandang satu sama lain kemudian menatap ke arah kepergian Mira dengan tatapan yang bertanya-tanya. Entah mengapa setelah mendengar perkataan Mira barusan membuat Edrea menjadi malu seakan-akan seperti ia dan juga Barra tengah tertangkap sedang berkencan padahal kenyataannya tidak lah seperti ini melainkan malah sebaliknya, sebuah kejadian yang sama sekali tidak ingin Edrea maupun Barra lewati di kehidupan mereka berdua.


"Apakah tidak apa dengan Mira yang menganggap..." ucap Edrea namun terhenti karena bingung harus mengatakannya bagaimana kepada Barra.


"Menganggap apa?" tanya Barra dengan tatapan yang bingung.

__ADS_1


"Menganggap... itu... itu loh...emm... ah iya aku lupa kalau aku masih ada urusan dengan Mira dan juga Arya, aku pergi dulu ya... nanti aku akan ke ruangan mu." ucap Edrea pada akhirnya sambil langsung melarikan diri karena ia benar-benar malu mengatakannya kepada Barra.


Barra yang melihat kepergian Edrea dengan tergesa-gesa lantas terlihat mengulum senyumnya dengan tipis. Tanpa Edrea jelaskan sekalipun sebenarnya Barra sudah tahu apa yang tengah di maksud oleh gadis itu.


"Dasar" ucap Barra dengan tersenyum simpul kemudian melangkahkan kakinya menuju ke arah ruangannya.


**


Ruangan Barra


Max yang mendengar kedatangan Barra hari ini, lantas terlihat melangkahkan kakinya dengan bergegas memasuki ruangan Barra untuk mendiskusikan sesuatu hal yang penting dengan Barra.


"Tuan" panggil Max dengan nada yang rendah namun berhasil membuat Barra langsung menghentikan kegiatannya yang tengah memeriksa beberapa dokumen yang ia tinggal selama beberapa hari ini.


Barra yang tahu ada sesuatu yang penting jika melihat dari raut wajah yang ditunjukkan oleh Max, lantas langsung meletakkan dokumen ditangannya kemudian menatap ke arah Max dengan tatapan yang menelisik dan juga penasaran.


"Apakah terjadi sesuatu?" tanya Barra dengan raut wajah yang penasaran ke arah Max.


"Selama kepergian anda, beberapa kali kami menerima penjemputan arwah dengan kasus yang sama. Kematian mereka disebabkan oleh energi mereka yang diserap hingga tak tersisa oleh suatu makhluk yang sama sekali kami tidak mengerti. Apakah menurut anda ini adalah hal yang wajar tuan? Mengingat jarak kematian yang terjadi terlalu berdekatan dan cukup menghebohkan dunia manusia." ucap Max kemudian mulai menjelaskan maksud kedatangannya ke ruangan Barra.


Barra yang mendengar ucapan dari Max tentu saja langsung terdiam, apa yang dibicarakan oleh Max barusan Bahkan Barra sudah menduganya akan terjadi, hanya saja Barra tidak menyangka bahwa akan terjadi secepat ini.


"Ternyata dia sudah mulai bergerak!" ucap Barra dengan nada yang singkat namun berhasil membuat Max kebingungan.

__ADS_1


"Maksud anda tuan?" tanya Max tidak mengerti.


Bersambung


__ADS_2