Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Akan ku rubah takdir ku!


__ADS_3

"Akan ku bunuh kalian semua!" teriak Barra sambil berlarian membelah kerumunan prajurit yang bersiap untuk menghadangnya agar tidak masuk ke dalam istana utama.


Barra yang melihat ratusan prajurit yang menghadangnya sama sekali tidak gentar, dengan gerakan yang membabi buta Barra mulai mengayunkan pedangnya dan membantai ratusan prajurit. Butuh waktu beberapa jam bagi Barra untuk menumpas semua prajurit di kerajaan itu.


Bajunya kini bahkan sudah berlumur darah dan tidak lagi berbentuk ketika ia memasuki istana utama dengan langkah kaki yang besar.


"Berhenti di tempat mu!" teriak seorang pengawal yang hendak menghadap Barra.


Namun Barra yang sama sekali tidak ingin menghentikan langkah kakinya lantas langsung mengayunkan pedangnya tepat ke arah leher pengawal itu, hingga pengawal itu langsung meregang nyawa tanpa sempat melakukan penyerangan terhadap Barra sama sekali.


Bruk...


Barra menendang dengan keras pintu ruang utama, di mana di sana terlihat Raja tengah duduk di singgah sana sambil menatap gelisah ke arahnya.


"Hahaha rupanya ramalan itu benar adanya, apakah hari ini waktu ajal ku tiba?" ucap Raja dengan tawa yang sumbang.


Yah sebelum kelahiran Barra, seorang peramal mengatakan bahwa akan ada bayi laki laki yang lahir dari rahim permaisuri yang sekaligus akan mengakhiri hidup Raja. Raja yang takut akan kematian di tangan putranya sendiri, lantas mengasingkan sang putra ke pedalaman dan tidak mengijinkan siapapun untuk mengakses jalan dan menemui putra mahkota.


Hanya saja ketakutan yang terlalu menghantui Raja, membuat Raja gelap mata dan melupakan bahwa takdir ada karena perbuatannya sendiri. Kita tidak pernah tahu takdir mana yang akan tetap terjadi walau kita berusaha untuk merubahnya, hingga terkadang apa yang kita perbuat malah itulah yang menuntun kita untuk menemui takdir kita.


Malam itu juga Barra menghabisi seluruh penghuni istana dengan tangannya sendiri, setelah menyelesaikan pembalasannya Barra melangkahkan kakinya ke arah hutan dengan langkah kaki yang gontai.


Hingga beberapa langkah, tangis yang semula sudah surut kembali menetes dan membuat langkah kakinya melemah, hingga pada akhirnya Barra luruh dan jatuh bersimpuh di tanah.


Aaaaaaaaaa


Teriak Barra dengan nada yang frustasi menggema memenuhi hutan malam itu. Sebanyak apapun Barra membunuh orang, tapi tak ada sedikitpun perasaan lega di hatinya. Hingga kemudian cuaca yang semula tenang mendadak berangin disertai dengan petir yang menyambar nyambar terdengar jelas di hutan kala itu.

__ADS_1


Terkutuk lah kau wahai anak manusia! perbuatan mu adalah dosa yang besar... jalani hukum mu seumur hidup mu hingga kau bahkan menginginkan untuk mati dan mengakhiri hidup mu sendiri!


Suara itu begitu jelas terdengar di pendengaran Barra, hingga kemudian sebuah petir menyambar tubuhnya dan dengan seketika Barra pingsan tepat setelah petir menyambar tubuhnya.


**


Hhhhhhhhhhh


Barra terbangun dari tidurnya dengan nafas yang terengah engah, peluh keringat membasahi baju dan juga tubuhnya membuat Barra lantas kebingungan dan menatap ke arah sekitaran.


"Aku sudah mengingat semuanya... aku sudah mengingatnya." ucap Barra kemudian langsung bangkit dan mencari keberadaan Ibu.


Barra melangkahkan kakinya dengan bergegas menyusuri mansion dan mencari keberadaan Ibu, hingga kemudian langkah kakinya lantas terhenti ketika melihat Ibu tengah duduk di meja makan seakan seperti menanti kedatangan Barra di meja makan.


"Selamat pagi" ucap Ibu sambil tersenyum ke arah Barra.


"Aku sudah mengingatnya bu... bisakah aku mengubah takdir agar tidak terulang kembali?" ucap Barra kemudian dengan nafas yang terengah engah setelah berlarian ke sana ke mari.


"Aku hanya lah penyelaras kehidupan di dunia, tidak ada yang bisa mengubah takdir kecuali dirimu dan atas ijin Sang Pencipta." ucap Ibu sambil tersenyum ke arah Barra dengan tutur kata yang lembut dan mengayomi sambil mengusap punggung Barra secara perlahan.


Barra yang mendengar penuturan Ibu, walau masih belum sepenuhnya terjawab namun Barra sudah bisa bernafas lega karena telah mendapat kembali ingatannya.


"Terima kasih atas nasihatnya bu, saya pamit untuk pulang" ucap Barra kemudian berpamitan untuk kembali ke Stasiun pemberhentian.


"Pergilah, aku yakin kamu masih bisa mengubahnya... jangan bertindak gegabah dan tetaplah tenang aku yakin kamu akan menemukan jalan keluarnya." ucap Ibu yang lantas di balas anggukan kepala oleh Barra.


Setelah mendapat jawaban atas pertanyaannya, Barra lantas melangkahkan kakinya secara perlahan pergi meninggalkan mansion Ibu. Barra kini sudah mendapatkan kembali semua ingatannya yang berarti bahwa ia harus segera bertindak untuk mencegah kejadian naas kali itu terulang kembali.

__ADS_1


"Aku pasti bisa merubahnya..." ucap Barra dengan nada yang yakin sambil berlalu pergi meninggalkan mansion.


**


Ruangan Barra


Jika Barra sudah pergi selama dua hari di dunia manusia, itu artinya sudah 48 hari berlalu di dunia arwah saat ini. Edrea yang merindukan kehadiran Barra lantas terlihat duduk termenung di sofa ruangan Barra sambil menatap kosong ke arah depan.


Terdengar helaan nafas berulang kali yang berasal dari Edrea.


"Mengapa rasanya sepi sekali jika dia tidak ada? rasanya seperti ada yang kurang." ucap Edrea dengan nada yang sendu.


Baru saja Edrea mengatakan hal tersebut, mendadak Barra tiba tiba muncul dan sudah duduk di kursi kebesarannya menatap dengan lurus ke arah di mana Edrea berada.


"Apa kau sungguh sungguh mengatakan hal itu?" ucap Barra dengan tiba tiba, yang lantas membuat Edrea terkejut bukan main akan kehadiran Barra yang tiba tiba di sana.


Edrea yang masih terkejut lantas hanya diam dan menatap ke arah Barra dengan tatapan yang tidak bisa di artikan, hingga beberapa menit kemudian barulah ia berteriak kegirangan karena melihat Barra benar benar telah kembali.


"Aaaaaaa Barra..." teriak Edrea sambil berlarian mendekat ke arah di mana Barra berada kemudian memeluknya dengan semangat, sedangkan Barra yang melihat hal tersebut hanya menatap kedatangan Edrea dengan tatapan yang tidak bisa di jelaskan.


Sejak ingatannya kembali pandangan Barra terhadap Edrea benar benar berubah, Barra yang dulu selalu menatap sinis kepada Edrea perlahan berubah menjadi tatapan yang sendu, seakan akan merasa bersalah akan kematian gadis yang berwajah mirip dengan Edrea.


"Aku yakin dia adalah reinkarnasi dari nyimas, jika memang takdir sudah mulai terjadi dan memutar kisahnya kembali, akan aku pastikan bahwa kejadian beberapa ratus tahun silam tidak akan kembali dan berakhir dengan cerita yang sama." ucap Barra dalam hati sambil terus menatap ke arah kedatangan Edrea yang terlihat mendekat ke arahnya.


"Kau tahu Bar? aku berhasil menyelesaikan misi penting... arwah Ardi tidak jadi masuk ke gerbong Dark, bukankah itu hebat?" ucap Edrea dengan penuh semangat menceritakan keberhasilannya sambil melepaskan pelukannya secara perlahan.


"Sudah saatnya kau kembali ke dunia mu!" ucap Barra kemudian yang langsung merubah raut wajah Edrea dengan seketika.

__ADS_1


"Apa?"


Bersambung


__ADS_2