
Edrea berteleportasi langsung ke kamarnya, Edrea bahkan tidak lagi memikirkan pendapat Sita jika nanti ia menemukan Edrea sudah ada di kamar tanpa melewati pintu depan seperti biasanya.
Tangis Edrea kini bahkan sudah pecah, satu persatu air mata mulai turun dan membasahi pipinya. Edrea benar benar tidak menyangka bahwa Barra akan menjawab pertanyaannya dengan kata kata seperti itu. Tidak bisakah Barra menyangkal ucapannya? atau mengatakan bahwa semua tuduhan Edrea kepadanya tidaklah benar?
"Mengapa baru sekarang semuanya terungkap? jika sudah begini pasti akan sangat sulit hiks hiks hiks." ucap Edrea dengan nada yang tersendat karena tangisnya yang tidak kunjung berhenti.
Hanya saja tanpa Edrea sadari, ketika ia sedang sibuk menumpahkan segala kekecewaannya dari sudut kamarnya sesosok hantu wanita terlihat tengah mengintipnya sedari tadi dan berusaha untuk berkomunikasi dengannya.
Perasaan kacau dan juga sedih yang melanda Edrea membuat aroma energinya tercium kuat oleh beberapa arwah penasaran yang masih berkeliaran di dunia ini untuk mendekat.
Para arwah itu selalu ingin memanfaatkan seseorang yang tengah berada dalam titik keputusasaan untuk mencapai tujuan mereka, apalagi mengingat energi milik Edrea sedikit berbeda karena sudah tercampur akan milik Edrea, Barra dan juga sosok ular akibat gigitan dari Fano tadi tanpa sepengetahuan dirinya.
Beberapa sosok nampak mulai bermunculan memenuhi ruangan kamar Edrea, membuat hawa sesak mulai terasa memenuhi area kamarnya walau ruangan tersebut full AC.
Edrea yang mulai merasa tidak enak, lantas perlahan bangkit dari posisi rebahannya sambil mengusap ingusnya yang terus keluar sedari tadi.
"Kalian semua pergilah dan jangan mengganggu ku... aku sedang tidak mood meladeni kalian saat ini!" ucap Edrea dengan lirih tanpa menoleh sedikitpun ke arah beberapa sosok yang sudah berkumpul di kamarnya saat itu.
Mendengar jawaban ketus dari Edrea, membuat beberapa sosok hantu dalam tingkatan ringan mulai berhamburan pergi seakan takut kepada Edrea. Hanya tersisa satu sosok perempuan dengan rambut panjang, yang terlihat tidak beranjak sama sekali dari tempatnya walau Edrea sudah mengatakan tidak ingin di ganggu saat ini.
Edrea memutar kepalanya dan menatap ke arah sosok tersebut sambil kembali mengusap air matanya yang jatuh walau ia sudah berhenti menangisi nasibnya.
"Kenapa kau tidak pergi?" tanya Edrea kepada sosok hantu tersebut.
Tolong aku....
"Aku sedang tidak mood saat ini, tidak perlu meminta tolong aku yakin tidak lama lagi petugas di Stasiun Pemberhentian pasti akan menjemput mu... jadi tenanglah di tempat asal mu dan tunggu mereka, jangan mengganggu ku." ucap Edrea dengan nada yang datar seakan ia sedang berbicara dengan sosok manusia biasa.
Tolong aku....
__ADS_1
"Sudah pergi sana jangan mengganggu ku!" usir Edrea kembali yang lantas membuat sosok tersebut perlahan lahan menghilang dan tidak lagi terlihat di kamar Edrea.
****
Sementara itu di ruangan Barra
Barra terlihat tengah duduk dengan termenung memikirkan segalanya, bayangan tentang kemarahan Edrea tadi begitu membekas di ingatannya. Entah mengapa kini Barra merasa seperti menjadi orang paling jahat di dunia ini.
"Seharusnya dulu aku tidak meneruskan perjanjian tersebut, jika aku tahu Edrea adalah reinkarnasi dari nyimas sudah sedari awal pasti aku akan menolaknya dengan keras. Jika sudah seperti ini apa yang harus aku lakukan?" ucap Barra pada diri sendiri.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu dari arah luar ruangan lantas membuyarkan lamunan Barra.
"Masuk" ucap Barra mempersilahkan masuk.
Mendengar perintah tersebut, pintu ruangan Barra perlahan lahan mulai terbuka dan menampilkan sosok Mira yang terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Barra berada.
Barra menerima dokumen tersebut dan mulai membukanya satu persatu.
"Ternyata cukup banyak daftar arwah yang hilang dan juga melarikan diri." ucap Barra dengan lirih ketika melihat daftar tersebut sebelum pada akhirnya membubuhkan tanda tangannya.
"Tentu saja, tim kami pasti akan sibuk mengurus tentang hal ini. Jika boleh aku meminta... ijinkan aku untuk meminjam pelayan mu..." ucap Mira kemudian yang lantas membuat Barra terdiam seketika di saat mendengar permintaan tersebut.
"Jangan libatkan dia!" ucap Barra dengan nada yang singkat membuat Mira lantas menjadi kebingungan ketika mendengarnya.
"Jangan salah paham padaku, aku tidak bermaksud untuk mengerjainya. Kali ini aku benar benar membutuhkannya untuk membujuk beberapa arwah yang kesulitan ketika kami jemput. Lagi pula..." ucap Mira hendak menjelaskan maksud dan tujuannya mengajak Edrea namun gagal karena Barra tiba tiba berteriak.
"Jika ku bilang tidak ya tidak! mengapa kau tidak mengerti juga?" ucap Barra dengan nada yang meninggi, membuat Mira lantas terdiam seketika karena terkejut ketika mendengar teriakan dari Barra.
__ADS_1
"Jika kau tidak mau ya sudah, tidak perlu berteriak seperti itu... aku permisi..." ucap Mira kemudian dengan raut wajah yang masam sambil mengambil dokumen di hadapan Barra kemudian berlalu pergi begitu saja meninggalkan ruangan Barra.
Sedangkan Barra yang melihat kepergian Mira, terlihat memijat pelipisnya yang terasa mulai berdenyut, Barra benar benar lepas kontrol ia sendiri juga tidak tahu mengapa ia sampai membentak Mira barusan.
"Sepertinya aku sudah mulai tidak waras." ucap Barra dengan nada yang lirih.
****
Keesokan harinya
Terlihat Edrea tengah melangkahkan kakinya menyusuri lorong kampus dengan tatapan yang lesu, pikirannya saat ini benar benar masih terbagi dan tidak fokus, namun Edrea tidak bisa berbuat apa apa selain hanya menghela nafasnya dengan panjang secara berulang kali.
Sebuah tangan tiba tiba saja menghentikan langkah kakinya, ketika Edrea melangkahkan kakinya dengan pandangan yang kosong menyusuri lorong kampus.
"Silahkan buahnya nak" ucap seorang nenek nenek penjual buah.
"Nenek mengejutkan ku saja... mengapa nenek bisa ada di sini? ayo ikut Rea nek..." ajak Edrea ketika melihat nenek nek penjual buah tersebut.
Rea kemudian lantas menatap ke arah sekitar, mencoba memastikan situasinya aman karena jika sampai nenek nenek penjual buah ini ketahuan oleh satpam pasti akan langsung di usir keluar oleh satpam tersebut.
"Nenek jangan jualan di sini nanti kalau ketemu satpam nenek akan di usir." ucap Edrea ketika ia merasa posisinya sudah aman saat ini.
"Nenek hanya ingin menawarkan buah nak, hanya tinggal dua biji saja apa kamu ingin membelinya?" tanya nenek tersebut.
"Ya sudah biar Rea yang beli nek...ini uangnya nek, kembaliannya nenek ambil saja." ucap Edrea sambil menyodorkan uang pecahan seratus ribuan.
"Terima kasih banyak nak, ingatlah ini nak terkadang kenyataan di masa lalu sangatlah menyakitkan... tapi bukankah tujuan dari reinkarnasi adalah untuk memperbaiki kehidupan di masa lalu? masa sekarang ada karena masa lalu. Jadi jika kamu di beri kesempatan ada di masa sekarang maka itu adalah satu kesempatan untuk mu merubah kehidupan mu di masa yang lalu. Jangan hanya terjebak akan kenangan pahit di masa lalu nak." ucap nenek nenek tersebut yang lantas membuat raut wajah Edrea berubah seketika.
"Bagaimana nenek bisa tahu?"
__ADS_1
Bersambung