
Sebuah penglihatan yang tidak pernah Angkara bayangkan sama sekali akan terjadi di hidupnya, lantas mendadak terlintas begitu saja di kepalanya ketika energi yang Barra pusatkan di telapak tangannya mendarat tepat di kepala Edrea saat ini. Angkara yang semula menatap tajam ke arah Barra begitu mendapat penglihatan tersebut lantas langsung terdiam seketika seakan terkejut akan satu persatu gambaran kilas kehidupan yang ia dapat dari penglihatan tersebut.
Dalam penglihatannya Angkara kembali dilihatkan tentang masa hidupnya ketika ia berada di zaman beratus-ratus tahun silam. Di saat rasa cintanya kepada sang Putri raja begitu menggebu-gebu, Angkara terlihat sangat menyayangi sang Putri ketika itu. Namun beberapa detik kemudian berganti dengan raut wajah sendu sang Putri yang terlihat menangis seperti tengah menangisi sesuatu sambil mengusap perutnya seakan ada jabang bayi di dalam perut itu. Angkara yang mendapat penglihatan tersebut tentu saja langsung terkejut seketika, awalnya ia benar-benar tidak mengerti akan maksud dari penglihatan yang baru saja ia dapatkan. Namun seiring dengan berjalannya waktu dimana penglihatan itu kian menjadi jelas bagi Angkara membuat Angkara terkejut berkali-kali.
"Buang bayi itu di tengah hutan, aku sungguh tidak sudi menampung bayi haram seperti dia. Apalagi matanya yang seperti ular itu membuat ku begitu membencinya!" pekik Raja tepat ketika kelahiran Barra kecil saat itu.
"Apa-apaan ini!" pekiknya dengan nada yang keras.
Semua kilas kehidupan Angkara benar-benar terlihat dengan jelas di sana, apalagi ketika Angkara mengetahui bahwa bayi yang selama ini ia buru dan juga ia ingin habisi ternyata adalah putranya sendiri. Angkara yang semula begitu membabi buta ingin menyerang sekaligus membunuh Barra, perlahan-lahan kekuatannya lantas mulai menurun ketika mengetahui orang yang berada di hadapannya saat ini adalah putra kandungnya sendiri.
"Barra..." panggilnya dengan lirih namun berhasil membuat Barra terkejut ketika mendengarnya.
Barra yang mengira yang memanggilnya barusan berasal dari jiwa Edrea, lantas tersenyum sambil terus memusatkan energinya tepat di ubun-ubun Edrea.
__ADS_1
"Bersabarlah Re... Sebentar lagi semuanya akan selesai!" ucap Barra dengan senyuman.
Tepat setelah Barra mengatakan hal tersebut, Barra yang sudah memberikan segala energinya kepada Edrea lantas dengan spontan langsung ******* bibir Edrea dengan membabi buta seakan seperti ingin mendapatkan sesuatu yang berasal dari tubuh Edrea. Barra yang sudah berhasil mencampur antara energinya, Edrea dan juga milik Angkara kemudian mencoba untuk terus masuk ke dalam ciuman tersebut dan berusaha untuk menyerap segalanya setelah energi yang sudah bercampur dengan kuat ia letakkan di tubuh Edrea.
Seperti mengulang sesuatu yang pernah terjadi sebelumnya, Barra terus ******* dan terus ******* bibir Edrea dengan kasar. Barra saat ini bahkan sudah tidak bisa berpikir apa-apa lagi selain hanya memfokuskan dirinya untuk menyerap segala energi yang saat ini tengah berada di dalam tubuh Edrea. Sampai kemudian ketika satu persatu kilauan cahaya nampak keluar dari dalam tubuh Edrea dan berganti secara perlahan berpindah ke dalam tubuh Barra. Membuat Barra yang mengetahui hal tersebut lantas tersenyum dengan tipis namun tanpa melepaskan mulut Edrea sama sekali.
"Sudah saatnya!" ucap Barra kemudian dalam hati.
Sampai kemudian ketika Barra sudah mulai merasakan berada tepat pada puncaknya perlahan-lahan Barra mulai membuka matanya, terlihat manik mata Barra yang saat ini sudah berganti dengan manik mata berwarna hijau layaknya seperti seekor ular. Tak lama setelah pergantian manik mata milik Barra sebuah kilauan cahaya keemasan nampak muncul dari telapak tangan Edrea saat ini, dimana tiba-tiba pada telapak tangan Edrea terdapat sebuah pisau belati yang entah dari mana datangnya.
"Aku bahagia sudah berhasil merubah segala cerita yang sedari dulu ingin aku rubah. Jaga dirimu baik-baik Edrea aku mencintaimu." ucap Bara kemudian yang lantas membuat Edrea kebingungan dan tidak mengerti akan arah pembicaraan dari Barra barusan.
Di saat perasaan kebingungan menghampiri dalam diri Edrea, tangan Barra yang menggenggam dengan erat tangan Edrea yang memegang pisau belati. Lantas langsung mengarahkannya tepat ke sebelah jantung Barra dengan seketika, membuat Edrea yang sama sekali tidak menyadari akan gerakan tangan Barra yang mengarahkan pisau tersebut tepat ke area dadanya sendiri lantas membuat Edrea terkejut dengan seketika.
__ADS_1
Cras....
Sebuah darah segar yang bercampur dengan warna keunguan nampak bermuncratan dan mengenai raut wajah Edrea dengan seketika. Membuat Edrea yang mengetahui hal tersebut langsung terkejut bukan main, tubuh Barra jatuh dengan seketika di pelukan Edrea. Beriringan dengan jatuhnya tubuh Barra ke pangkuannya, sebuah kepulan asap terlihat memenuhi tubuh Barra dengan erangan yang terdengar begitu menyayat hati siapapun yang mendengarnya kala itu.
Manik mata Bara yang semula berwarna hijau layaknya seekor ular, tepat seiring dengan erangan dan juga teriakan yang keluar dari mulut Barra, manik mata Barra perlahan-lahan mulai berubah menjadi ke bentuk semula. Tepat setelah perubahan manik mata Barra kepulan asap yang tadinya mengelilingi tubuh Barra perlahan-lahan mulai sirna dan terbawa oleh hembusan angin. Edrea yang melihat Barra seperti tengah kesakitan lantas menangis sejadi-jadinya, Edrea bahkan tidak mengerti akan apa yang sedang terjadi namun ketika ia sadar, tiba-tiba Barra sudah tergeletak dengan pisau belati yang menancap tepat di area dadanya.
"Barra... Apa yang terjadi hiks hiks..." ucap Edrea dengan raut wajah penuh kebingungan sambil menangis dengan tersedu-sedu.
Sambil menahan rasa sakit di area sekitar dadanya, Barra mencoba untuk tersenyum menatap ke arah Edrea untuk yang terakhir kalinya. Diusapnya pipi Edrea dengan perlahan seakan mulai mengusap air mata yang terus turun melalui sudut mata Edrea saat ini. Wajah Edrea yang begitu pucat ditambah dengan tangisan yang tidak berhenti, membuat raut wajah Edrea semakin nampak seperti mayat hidup. Edrea benar-benar bingung harus bagaimana disaat-saat seperti ini, Edrea yang tidak tahu harus melakukan apa hanya bisa menangis dan terus menangis tanpa henti membuat Barra yang melihat hal tersebut tentu saja menjadi tidak tega.
"Ja..jangan menangis Re aku... Aku sungguh tidak apa.. Setelah ini kehidupan mu akan kembali seperti semula.. Itu janji ku kepada mu bukan? Uhuk.. uhuk..." ucap Barra dengan nada yang tersendat.
Sedangkan Edrea yang mendengar perkataan Barra barusan tentu saja langsung menangis dengan sejadi-jadinya. Dipeluknya tubuh Barra dengan begitu eratnya seakan tidak ingin ditinggalkan oleh pria yang saat ini telah mengisi relung hatinya tersebut. Dengan tangisan yang tersedu-sedu tubuh Barra yang berada di pelukannya perlahan-lahan mulai memudar secara pelan dimulai dari kaki dan naik ke atas, hingga ketika tinggal di bagian atasnya saja wajah Barra terlihat tersenyum menatap ke arah Edrea untuk yang terakhir kalinya sampai pada akhirnya menghilang dengan sepenuhnya dari pelukan Edrea.
__ADS_1
"Barra!"
Bersambung.