Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Takdir yang tetap akan berjalan


__ADS_3

"Biarkan aku menguji gadis itu sekali saja..." ucap Mira dengan tiba tiba yang lantas membuat Max terkejut ketika mendengar ucapannya, bukankah setelah apa yang di dapatkannya tempo hari harusnya bisa memberi Mira sebuah pelajaran? namun kenyataannya itu sama sekali tidak berlaku bagi Mira.


"Apa maksud ucapan mu itu? tidakkah kau belajar dari pengalaman?" tanya Max kemudian dengan nada yang sinis sambil menatap ke arah Mira penuh tanda tanya.


"Ayolah... kau tentu tidak buta bukan? ada sesuatu dalam diri gadis itu sehingga terus menarik Barra menjadi lebih dekat dengan dirinya. Ini bahkan tidak pernah terjadi sebelumnya bukan?" ucap Mira lagi mencoba meyakinkan Max agar mau membantunya.


Max yang mendengar ucapan Mira barusan lantas terdiam, jika di pikir pikir lagi ucapan Mira barusan ada benarnya juga. Sejauh ini Max juga merasakan apa yang di rasakan Mira tentang Barra, bagi Max hubungan keduanya sungguh aneh seakan sudah terjalin cukup lama namun dengan takdir yang berbeda.


"Baiklah aku akan membantu mu tapi jangan berharap apapun karena keputusan hanya ada di tangan tuan Barra." ucap Max pada akhirnya, sepertinya Max ikut terpengaruh ketika mendengar ucapan dari Mira yang menurut Max ada benarnya juga.


"Baiklah tak apa... kabari aku apapun keputusan yang akan di ambil oleh Barra." ucap Mira kemudian berlalu pergi meninggalkan Max di sana.


"Benar benar pantang menyerah perempuan itu." ucap Max sambil geleng geleng kepala menatap kepergian Mira hingga menghilang dari pandangannya.


***


Ruang rahasia Barra


"Aku tidak memaksamu untuk percaya atau tidak, hanya saja memang itulah kenyataannya." ucap Barra lagi karena ia yakin gadis modern di sebelahnya ini tidak mungkin akan percaya dengan ucapannya.


Edrea yang mendengar ucapan Barra barusan tentu saja tersinggung, dengan perasaan yang kesal Edrea lantas bangkit sambil menatap tajam ke arah Barra yang masih dalam posisi terlentang.


"Kau meremehkan ku ya..." ucap Edrea namun terpotong karena Barra yang tiba tiba saja memukulnya dengan keras tepat di area pundaknya, hingga membuat Edrea terhempas cukup jauh dari tempatnya.


Bruk...


Edrea terhempas dan membentur dinding cukup keras membuatnya langsung pingsan seketika karena menerima serangan tersebut dengan tiba tiba.

__ADS_1


Barra yang baru sadar akan apa yang baru saja ia lakukan lantas terdiam sambil termenung, kepalanya kembali berdenyut dengan hebat. Barra sendiri juga tidak tahu apa yang baru saja terjadi, tepat ketika Edrea bangkit dan menatapnya dengan tatapan yang tajam Barra sekilas seperti melihat manik mata Edrea berubah seperti manik mata ular, namun dalam waktu yang sepersekian detik, begitu cepat hingga membuat Barra yang terkejut dengan perubahan manik mata milik Edrea lantas dengan spontan memukulnya dengan kasar.


"Manik matanya... arggg" ucap Barra yang juga terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat sambil memegang kepalanya yang kembali terasa berdenyut.


Bayangan kematian gadis yang berwajah mirip Edrea kembali terlintas di benak Barra dengan cepat hingga membuat kepala Barra berdenyut dengan hebat.


Barra menggelengkan kepalanya beberapa kali mencoba menyeimbangkan rasa sakit di area kepalanya, hingga ketika Barra merasa rasa sakit tersebut sedikit mereda barulah ia bangkit dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea.


"Sepertinya tadi hanya halusinasi ku saja." ucap Barra sambil menatap ke arah Edrea yang tengah terbaring di lantai.


Dengan perlahan Barra mulai menggendong tubuh Edrea ala bridal style kemudian berteleportasi ke ruangannya.


**


Ruangan Barra


Barra yang mendengar ucapan Max tidak langsung menjawabnya, namun malah meletakkan tubuh Edrea terlebih dahulu di sofa ruang kerjanya. Barra menyikap sedikit baju bagian atas Edrea untuk melihat luka bekas pukulannya di area pundak Edrea.


"Sepertinya aku terlalu keras memukulnya." ucap Barra sambil menghela nafasnya panjang ketika melihat luka lebam yang membiru di pundak Edrea.


"Apakah ada yang bisa saya bantu tuan?" ucap Max lagi karena Barra tak kunjung menjawab pertanyaannya tadi.


"Kau pergilah ke rumahnya dan mintalah ijin kepada neneknya untuk beberapa hari." ucap Barra memberikan perintah.


"Maksud anda dia akan tinggal di sini tuan?" tanya Max memastikan bahwa tebakannya adalah benar.


"Iya, kita tidak ada pilihan lagi... saatnya dia untuk melakukan tugasnya." ucap Barra dengan nada suara yang dingin.

__ADS_1


"Baik tuan." ucap Max mengerti kemudian melenggang pergi dari sana untuk melaksanakan perintah dari Barra barusan.


***


Sementara itu di sebuah tempat yang sangat gelap, sebuah suara desisan ular terdengar menggema di gua. Seorang pria pencari ular yang kebetulan tengah melintas di daerah gua tersebut lantas menghentikan langkah kakinya ketika melintasi bibir gua, laki laki itu tersenyum dengan girang ketika mendengar suara desisan ular tersebut.


"Sepertinya ular ini akan laku mahal, suara desisannya saja sudah berbeda aku yakin akan banyak peminat yang akan menawar ular ini dengan harga yang mahal." ucapnya pada diri sendiri ketika mendengar suara desisan tersebut menggema di bibir gua.


Pria tersebut yang berpikir ini adalah hari keberuntungannya lantas mulai melangkah masuk ke dalam gua untuk memanen ular dan menjualnya dengan harga yang mahal.


"Uang uanag uang uang..." ucap pria itu berulang kali dengan nada yang gembira.


Laki laki tersebut terus melangkahkan kakinya masuk dengan berbekal senter yang di pasang di kepalanya laki laki tersebut terus masuk ke dalam.


Bruk


Suara tubuh pria tersebut yang terjatuh dalam posisi terduduk terdengar menggema di dalam gua. Laki laki itu benar benar terkejut akan penampakan yang ia lihat di dalam. Seekor ular dengan panjang kira kira 30 meteran nampak melingkar dengan bagian kepalanya yang mendongak menatap ke arah laki laki tersebut sambil terus mendesis.


"Si... Siluman..." teriak laki laki itu hendak bangkit dan melarikan diri sari sana.


Ular tersebut yang melihat mangsanya kabur lantas melilitkan ekornya ke tubuh laki laki itu dan membawanya kembali mendekat ke arahnya.


"Dasar manusia serakah... sebelum kau menjual ku, aku akan terlebih dahulu m*l**at tubuh mu hidup hidup." ucap ular tersebut dengan suara berat disertai dengan tawa yang menggema memenuhi gua tersebut.


"Tidak.... aaaaaa tolong..... ampuni saya mbah..." ucap laki laki itu berteriak dengan kencang mencoba meminta tolong tepat sebelum tubuhnya di makan bulat bulat oleh sosok ular tersebut.


"Hanya menunggu beberapa waktu lagi agar tubuh ku bisa seutuhnya menjadi manusia. Takdir yang sudah digariskan pasti akan kembali terulang dengan cara yang sama hahaha." ucap sosok ular tersebut sambil menatap ke arah langit langit gua.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2