
"Baiklah akan aku tunjukkan kejadian di masa lalu antara kau dan juga Barra." ucap Fano dengan nada yang setengah berbisik tepat di telinga Edrea, kemudian tanpa aba aba langsung menggigit area leher Edrea, membuat Edrea yang tidak menyadari hal itu lantas di buat terkejut ketika sebuah taring tertancap tepat di area lehernya.
"Aaaaaaaaaa" teriak Edrea ketika Fano tanpa aba aba menggigit lehernya.
Tepat ketika Fano menggigit leher Edrea, manik mata Edrea yang semula berwarna kecoklatan perlahan lahan berubah menjadi berwarna hijau layaknya seekor ular. Dalam perubahan manik mata tersebut Edrea mendapat sebuah penglihatan tentang masa lalu yang di ucapkan oleh Fano sebelumnya.
Dalam penglihatan tersebut bayangan di mana dirinya di tikam belati oleh Barra kembali terulang. Rasa sakit yang perlahan lahan Edrea sudah melupakannya kini kembali berdenyut dan terasa menyakitkan. Tak ada gambaran lain selain adegan tersebut yang terus terulang hingga membuat kepala Edrea terasa berdenyut ketika menerima penglihatan tersebut secara terus menerus.
**
Sementara itu Barra yang mencoba mencari jejak Edrea dan juga Fano, pada akhirnya menemukan titik terang. Beberapa menit kemudian Barra tiba di sebuah gedung tua yang terbengkalai.
"Aaaaaaa"
Suara teriakan Edrea menggema memenuhi ruangan tersebut, membuat Barra lantas terkejut ketika mendengar teriakan tersebut.
Barra menyisir daerah sekitar mencoba mencari keberadaan Edrea di sana, hingga pandangannya terhenti ketika melihat Fano yang tengah menggigit leher Edrea.
"Apa yang sedang kau lakukan?" teriak Barra sambil melesat dengan gerakan yang cepat ke arah Fano.
Dengan gerakan yang cepat Barra lantas menarik tubuh Fano dan melemparkannya begitu saja ke sembarang arah.
Edrea yang baru saja terlepas dari gigitan Fano lantas limbung dan jatuh ke lantai, sedangkan Fano yang melihat racunnya sudah mulai bekerja memasuki tubuh Edrea lantas tersenyum dengan senang.
"Tidak apa aku mengalah hari ini, tapi yang jelas aku sudah berhasil membagi sukma ku ke tubuh gadis itu." ucap Fano dengan tersenyum sinis kemudian berteleportasi dan menghilang dari sana setelah ia berhasil mencapai tujuannya.
__ADS_1
**
Barra yang melihat Fano sudah melarikan diri lantas hanya bisa melihat kepergiannya dengan geram. Ingin sekali rasanya Barra pergi dan mengejar Fano saat ini, namun untuk kali ini yang terpenting adalah Edrea.
Barra melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea dan mencoba untuk menyadarkannya.
"Rea... sadarlah..." ucap Barra kemudian ketika melihat Edrea tidak sadarkan diri.
Edrea yang merasakan tepukan pelan namun secara berulang kali di pipinya, lantas perlahan lahan mulai mengerjapkan matanya dan sadar. Wajah yang pertama kali ia lihat ketika membuka matanya adalah Barra, ya seorang Barra Rafeyfa Zayan seseorang yang dekat dan tiba tiba hadir di dalam hidupnya tanpa ia minta dan Edrea duga akan mengisi kekosongan di sudut hatinya yang terdalam.
Setetes air mata menetes begitu saja membasahi sudut mata Edrea, membuat Barra yang melihat ekspresi sedih yang di tunjukkan oleh Edrea saat ini sedikit merasa bingung.
"Apa kau baik baik saja?" tanya Barra ketika melihat raut wajah sendu Edrea.
Ditatapnya wajah Barra selama beberapa detik kemudian Edrea kembali menunduk, membuat Barra lagi lagi merasa kebingungan akan tingkah laku Edrea saat ini.
"Mengapa kau melakukannya padaku?" tanya Edrea dengan tiba tiba yang lantas membuat Barra semakin tidak mengerti akan arah dari pembicaraan Edrea saat ini.
"Melakukan apa? jangan mulai ngelantur deh... sebaiknya kita segera pergi dari sini." ucap Barra kemudian sambil bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya hendak membantu Edrea untuk bangkit berdiri.
Edrea yang melihat uluran tangan Barra hanya menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan, membuat Barra semakin menjadi salah tingkah dan serba salah ketika berhadapan dengannya.
"Apakah semudah itu mempermainkan ku Bar?" tanya Edrea lagi kali ini dengan manik mata yang berkaca kaca.
"Mempermainkan apa? sebenarnya apa yang kamu bicarakan saat ini? mengapa kamu terus berputar putar sedari tadi?" ucap Barra pada akhirnya dengan kesal karena Edrea terus saja memberikan clue tanpa ingin mengatakannya secara langsung.
__ADS_1
Edrea yang mendengar kekesalan Barra, lantas langsung bangkit berdiri dan menatap tajam ke arah Barra.
"Aku memang tidak lah tahu dengan jelas tentang segala detailnya di masa lalu, hanya saja... tidakkah menikam ku dengan sebilah belati di masa lalu membuat mu puas hingga kini di masa depan kau malah menjerat ku sebagai pelayan mu dengan atau tanpa seijin ku." ucap Edrea dengan penuh penekanan di setiap kata katanya.
Barra yang mendengar ucapan Edrea lantas terdiam seketika, perkataan Edrea yang tiba tiba membahas masa lalu membuat Barra terkejut karena tidak menyangka Edrea telah mengetahui akan tragedi itu.
"Aku tahu kau itu berkuasa... tapi apakah kau tidak punya hati nurani sedikit pun padaku? jika memang kau menyesal harusnya kau tidak usah lagi mengganggu ku di masa depan, tapi yang kau lakukan malah sebaliknya. Oh... atau jangan jangan ini semua adalah akal akalan busuk mu karena kau belum puas membunuh ku di masa lalu. Iya kan Bar? jawab! jangan hanya diam saja!" teriak Edrea karena ia hanya melihat Barra diam saja sedari tadi tanpa menanggapi ucapannya sedikitpun, membuat Edrea semakin merasa terluka ketika ia mengetahui kenyataan tersebut.
"Kau menginginkan jawaban apa untuk pertanyaan mu itu?" ucap Barra kemudian yang lantas membuat Edrea langsung dengan spontan menatap ke arah Barra tanpa bisa berkata kata lagi.
"Setidaknya sangkal aku Bar... katakan bahwa semua itu bohong! apa kata kata penenang seperti itu tidak bisa keluar dari mulut tuan berhati dingin seperti mu?" ucap Edrea dengan emosi yang tidak bisa lagi ia tahan.
"Maaf..."
Hanya kata kata itu yang keluar dari mulut Barra, membuat Edrea tidak lagi bisa membendung air matanya karena tidak menyangka Barra akan mengatakan satu kata yang melambangkan pembenaran dari sebuah masalah yaitu kata maaf.
Edrea yang mendengar perkataan maaf dari Barra bukannya senang malah di buat semakin terluka.
Edrea kemudian lantas mulai melangkahkan kakinya mundur secara perlahan dengan tatapan yang masih tidak percaya menatap ke arah Barra yang juga sedang menatap ke arahnya saat ini.
"Jangan temui aku untuk beberapa waktu Bar... aku rasa itu lebih baik." ucap Edrea, tepat setelah mengatakan hal tersebut Edrea mulai menjentikkan jarinya dan menghilang dari sana meninggalkan Barra seorang diri di bangunan tua yang sudah terbengkalai itu.
"Edrea" ucap Barra dengan tatapan yang sendu namun Edrea sudah terlebih dahulu menghilang dan meninggalkannya seorang diri di sana.
Bersambung
__ADS_1