Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Bagaimana bisa?


__ADS_3

"Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi karena aku yakin perubahan sikap mu ini bukanlah tanpa sebuah alasan!" ucap Barra kemudian yang lantas membuat Mira langsung menelan salivanya dengan kasar.


"Aku..." ucap Mira bingung harus mengatakan apa kepada Barra.


Mira yang dalam posisi tersudut, lantas langsung mendorong tubuh Barra agar sedikit menjauh dari dirinya kemudian bergeser ke sebelah dan memunggungi Barra, membuat Barra lantas semakin curiga ketika melihat tingkah Mira yang aneh seperti itu.


"Ini juga semuanya karena mu, jika kau tidak memberikan apel itu mungkin semua pandangan ku tidak akan berubah seperti ini!" ucap Mira kemudian dengan nada yang kesal pada akhirnya, membuat Barra lantas memasang raut wajah yang bingung ketika Mira malah menyalahkan dirinya padahal dia sama sekali tidak tahu apa apa.


"Apa maksud ucapan mu itu?" ucap Barra kemudian.


Mendengar hal tersebut tentu saja membuat Mira semakin kesal dan pada akhirnya mulai menceritakan segalanya, semua bermula dari apel pemberian Barra yang mengatakan bahwa itu berasal dari Ibu, tepat setelah memakan apel tersebut Mira mendapat penglihatan masa lalu yang berisi tentang Edrea dan juga Mira yang ternyata adalah kakak beradik di masa lalu. Kenyataan tersebut memang membuat Mira kaget, mengingat Mira yang begitu membenci Edrea karena selalu menempel dengan Barra, namun hubungan darah yang terjalin di masa lalu tetaplah lebih kental daripada hanya sebuah perasaan iri yang membumbung memenuhi hatinya, membuat hati Mira pada akhirnya melunak dan merubah semua pandangannya terhadap Edrea.


Barra yang mendengar segala cerita dari Mira lantas langsung terdiam sejenak, informasi yang baru saja ia dapat benar benar sulit untuk Barra cerna. Barra dan Edrea memang berhubungan di masa lalu, namun Barra sama sekali tidak tahu bahwa Edrea mempunyai kakak karena memang baik Edrea maupun Barra selalu bertemu dan bermain di hutan. Posisi Barra yang di asingkan oleh keluarganya, membuat ia seperti enggan menginjakkan kakinya di desa, hingga setiap harinya Edrea lah yang datang mengunjunginya ke hutan.


"Lalu sekarang apa?" ucap Barra kemudian sambil menatap ke arah Mira dengan tatapan penuh tanya.


"Ya susul Edrea sekarang Bar, bantu dia jangan hanya diam!" pekik Mira kemudian yang lantas membuat Barra terkejut ketika mendengar suara Mira barusan.


***

__ADS_1


Edrea mengerjapkan kelopak matanya berulang kali ketika sebuah cahaya terasa menembus ke dalam retinanya, Edrea mengedarkan pandangannya dan melihat ke sekeliling, sepertinya Edrea tengah berada di ruang UGD saat ini. Mengetahui hal tersebut perlahan lahan Edrea mulai bangkit dan mengambil posisi duduk sambil memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.


"Kamu sudah bangun? apa sudah merasa baikan? bagian mana yang sakit?" ucap seorang dokter yang melangkahkan kakinya mendekat ke arahnya begitu melihat Edrea sudah siuman dari pingsannya.


Edrea terdiam sejenak mencoba mengingat ingat apa yang sedang terjadi, hingga kemudian barulah ia mengingat tentang sosok gadis itu yang rohnya tidak ia lihat di manapun, membuat Edrea lantas terkejut bukan main dan langsung bangkit dari posisinya, membuat dokter tersebut lantas menjadi kebingungan ketika melihat Edrea yang tiba tiba saja bangkit dari ranjang pasien.


"Apa yang terjadi? kamu mau kemana?" ucap dokter tersebut yang lantas langsung menghentikan langkah kaki Edrea.


"Saya mau mengurus administrasi, terima kasih banyak dok maaf merepotkan." ucap Edrea kemudian berlalu pergi dari sana, membuat dokter tersebut hanya bisa menatap kepergian Edrea dengan tatapan yang kebingungan.


**


Edrea yang mulai khawatir, terlihat mengusap rambutnya dengan kasar ke arah belakang sambil menggigit bibir bagian bawahnya mencoba untuk berpikir hal apa yang harus ia lakukan di saat saat seperti ini. Hingga kemudian sebuah ide lantas mendadak terlintas di benaknya, membuat Edrea langsung terlihat sumringah ketika mendapatkan ide tersebut.


"Setidaknya jika hanya berteleportasi aku rasa itu tidak apa bukan? lagi pula Mira mengatakan untuk tidak menggunakan kekuatan tapi sama sekali tidak membahas teleportasi, yang berarti bahwa teleportasi aman untuk di gunakan." ucap Edrea pada diri sendiri sambil melirik sekilas ke arah raga Sari yang masih terlihat menutup matanya tanpa ada pergerakan sedikitpun.


Edrea mendekatkan dirinya ke arah tubuh Sari, kemudian menggenggam tangannya dengan erat seakan memberikan semangat kepada Sari saat ini.


"Aku memang tidak tahu bagaimana rasanya namun aku yakin kamu bisa melaluinya, tetaplah semangat meski kamu sedang terpuruk saat ini." ucap Edrea dengan nada yang lirih kemudian setelah itu langsung berteleportasi menghilang dari sana menuju ke tempat roh Sari berada lewat interaksinya terhadap raga Sari.

__ADS_1


Edrea yang menganggap teleportasi yang ia lakukan hanya berpengaruh kecil, namun nyatanya titik teleportasi Edrea yang begitu dekat dengan tubuh Sari membuat suatu reaksi yang fatal pada tubuh Sari, perlahan lahan tekanan darah dan denyut jantung Sari mendadak menaik dengan signifikan, membuat alarm yang terletak di ruang jaga mulai terdengar yang menandakan pasien sedang dalam kondisi yang kritis atau dalam kedokteran sering di sebut kode blue.


Membuat beberapa dokter dan juga perawat yang sedang berjaga, langsung berlarian menuju ke arah ruang perawatan Sari untuk memberikan pertolongan kepada Sari tepat setelah kepergian Edrea dari sana, sehingga Edrea sama sekali tidak menyadari bahwa apa yang telah ia lakukan menimbulkan kesalahan yang fatal tanpa Edrea sengaja.


***


Stasiun Pemberhentian


Sesuai permintaan dari Mira tadi di ruangannya, kini baik Mira dan juga Barra terlihat tengah melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Barra hendak menuju ke tempat di mana Edrea berada saat ini. Di saat langkah kaki keduanya sedang bergerak dengan langkah yang bergegas, tak jauh dari posisi keduanya Wili nampak terlihat melangkahkan kakinya dengan terburu buru mendekat ke arah di mana Mira berada, hingga membuat langkah kaki Barra dan Mira langsung terhenti seketika.


"Maaf mengganggu, saya ke sini ingin memberitahukan bahwa ada arwah yang harus kita jemput sebentar lagi dan saya membutuhkan persetujuan tuan dan juga Madam saat ini." ucap Wili sambil memberikan iPad yang sedari tadi ia bawa kepada Mira.


Mira yang memang sedang terburu buru, lantas langsung menerima iPad pemberian Wili dengan kesal kemudian menatap ke arah layar tersebut untuk melihat siapa arwah yang di maksud oleh Wili barusan. Mira yang melihat data demi data arwah tersebut lantas di buat terkejut ketika melihat arwah yang akan Wili jemput.


"Bar bagaimana bisa?" ucap Mira kemudian dengan tatapan yang bingung ke arah Barra.


"Ada apa?" tanya Barra kemudian.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2