Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Kode gerbong biru


__ADS_3

Ruangan Barra


"Jadi katakan padaku, apa keputusan yang akan kau ambil kali ini?" tanya Barra dengan raut wajah yang penasaran meski sebenarnya tanpa di tanya pun Barra sudah dapat menebak keputusan apa yang akan di ambil oleh Edrea kali ini.


Edrea yang mendapat pertanyaan dari Barra barusan lantas langsung terdiam seketika, kali ini Edrea tidak ingin langsung menjawabnya karena Edrea tidak menginginkan kejadian kali ini akan sama seperti kejadian beberapa waktu lalu ketika dirinya salah dalam membuat pilihan dan membuat nyawa seseorang lantas melayang begitu saja karena keputusannya, meski sebenarnya ada dan tidaknya keputusan Edrea waktu itu Barra akan tetap menghukum pembunuh tersebut dengan hukuman yang setimpal.


"Aku... aku..." ucap Edrea dengan nada yang bingung sambil terus memutar kepalanya agar tidak salah pilih kali ini. "Aku menginginkan kamu mencabut tugas tersebut untuk Wili." ucap Edrea pada akhirnya.


Barra yang mendengar pilihan dari Edrea barusan lantas langsung tersenyum, sesuai dengan tebakannya Edrea pasti akan memilih hal itu.


"Baiklah" ucap Barra dengan singkat, namun malah membuat Edrea lantas mendongak dan menatap ke arah Barra dengan tatapan yang bingung.


"Apanya yang baiklah? bisakah kau tidak mengatakan kata kata yang ambigu seperti itu?" ucap Edrea dengan nada yang kesal karena jawaban ambigu dari Barra barusan.


"Baiklah aku akan mencabut tugas yang aku berikan pada Wili, apa kau puas?" ucap Barra sambil menghela nafasnya panjang ketika mendengar ucapan dari Edrea barusan.


"Begitu dong jelas, aku kan jadinya..... tunggu sebentar kamu mengatakan iya tadi kan? aku tidak salah dengar bukan?" ucap Edrea kemudian yang di balas Barra dengan anggukan kepala sambil memutar bola matanya jengah karena harus mengulangi ucapannya kembali.


"Iya" jawab Barra dengan singkat.


"Aaaaaa.... terima kasih banyak..." teriak Edrea yang langsung memeluk tubuh Barra dengan spontan saking senangnya, membuat Barra yang di peluk langsung terdiam seketika karena terkejut akan tindakan dari Edrea barusan.


Edrea benar benar senang Barra menyetujui permintaannya tanpa embel embel atau semacamnya, Edrea yang terlalu senang sampai melupakan bahwa orang yang dia peluk dengan gemas adalah si tuan angkuh berkepala dingin yaitu Barra.


"Apa kau akan terus seperti orang gila?" ucap Barra dengan nada dingin yang lantas menghentikan gerakan Edrea dengan seketika.

__ADS_1


Edrea yang baru sadar akan kelakuannya lantas langsung melepas tangannya dengan spontan kemudian mundur beberapa langkah.


"Pokoknya terima kasih banyak, aku pergi dulu." ucap Edrea kemudian melarikan diri dari sana tanpa melihat ke arah belakang saking malunya pada Barra.


"Bodoh sekali kau Rea... benar benar memalukan!" ucap Edrea dalam hati sambil melangkahkan kakinya keluar dari sana secepat mungkin karena malu akan tingkahnya yang sangat agresif kepada Barra tadi.


"Dasar gadis bodoh." ucap Barra dengan spontan sambil tersenyum ketika melihat Edrea mengambil langkah seribu setelah memeluk tubuhnya barusan.


******


Sementara itu di sebuah halte bus yang terletak di daerah Jawa Barat, terlihat beberapa orang sedang berlalu lalang dan menanti keberangkatan bus sesuai dengan tujuan mereka masing masing.


"Pemberitahuan kepada penumpang jurusan kota Jakarta di mohon untuk masuk ke dalam bus dengan no B14 dan bersiap sebelum keberangkatan yang akan di lakukan lima menit lagi." ucap sebuah suara yang berasal dari pengeras suara di halte bus tersebut.


Seorang pemuda nampak mencium punggung tangan ibunya dengan khidmat tak jauh dari nomor bus yang di sebutkan dalam pemberitahuan barusan.


"Ibu tenang saja ya, Ardi pasti jaga diri lagi pula ini tidak akan lama... hanya mengurus surat surat sebentar Ardi janji akan langsung kembali nanti." ucap Ardi dengan tersenyum.


"Hati hati di jalan mas, aku akan menunggu mu di sini.. sampai bertemu di hari H." ucap seorang perempuan calon istri Ardi yaitu Putri.


"Pasti, sampai jumpa di hari H..." ucap Ardi lagi dengan tersenyum ke arah perempuan itu.


"Hati hati di jalan mas, jangan lupa untuk mengabari aku dan ibu ketika kamu sudah sampai di sana nanti." ucap Putri dengan nada yang lembut namun dengan manik mata yang berkaca kaca seakan tak rela jika harus melepas kepergian Ardi ke ibu kota saat ini.


"Semoga ini hanya firasat ku saja." ucap Putri dalam hati, jujur saja ada perasaan tidak enak yang menyelimuti hatinya ketika mengantar Ardi berangkat ke kota, namun Putri sebisa mungkin untuk tetap berpikir positif akan firasatnya itu.

__ADS_1


"Tentu saja, jaga diri kalian baik baik." ucap Ardi dengan tersenyum tulus pada keduanya, diciumnya puncak kepala Putri dan juga ibunya secara bergantian sebagai bentuk rasa sayangnya kepada keduanya.


Setelah selesai berpamitan Ardi kemudian lantas melangkahkan kakinya naik ke dalam bus dengan perasaan yang tidak tega meninggalkan keduanya, entah mengapa rasanya begitu berat untuk Ardi kali ini, padahal ini bukan pertama kalinya Ardi pergi ke kota untuk bekerja. Hanya saja bedanya kali ini kepergian Ardi untuk mengurusi cuti dan juga beberapa urusan lainnya sebelum ia menikah dengan Putri nantinya.


"Bukankah ini hanya sebentar? mengapa rasanya berat sekali?" batin Ardi dalam hati sambil terus menatap ibunya dan juga Putri dari balik kaca bus sebelum akhirnya bus tujuan ke kota Jakarta itu berangkat.


***


Kembali pada Edrea


Setelah kepergian Edrea dari ruangan Barra, Edrea mencoba sebisa mungkin mengatur detak jantungnya yang berdetak dengan kencang setelah memeluk Barra tadi.


"Ada apa dengan diriku sebenarnya? benar benar gila..." ucapnya sambil memegang kedua pipinya yang teras panas saat ini.


Ketika Edrea tengah sibuk menstabilkan jantungnya yang terus berdebar, suara sirine yang menggema di seluruh tempat lantas mengejutkan Edrea yang sedari tadi sedang tersenyum seperti orang gila.


"Ada apa ini?" ucap Edrea bertanya tanya dengan nada yang kebingungan.


Belum habis rasa kebingungan Edrea, dari segala penjuru arah beberapa orang nampak berlarian dengan langkah yang cepat, membuat Edrea yang melihat pemandangan tersebut lantas terkejut karena bingung akan apa yang sedang terjadi sebenarnya. Hingga kemudian Edrea yang melihat Arya juga berlarian dan melintasinya lantas langsung menghentikan langkah kaki Arya untuk meminta penjelasan.


"Ada apa ini sebenarnya?" tanya Edrea dengan tatapan yang bingung ke arah Arya.


"Kode gerbong biru, semua petugas di Stasiun di panggil untuk berkumpul." ucap Arya dengan terburu buru.


Edrea yang mendengar hal itu bukannya mengerti malah di buat semakin bingung akan ucapan dari Arya barusan.

__ADS_1


"Kode gerbong biru? berkumpul? tapi dimana dan untuk apa?" ucap Edrea bertanya tanya dengan tatapan yang bingung.


Bersambung


__ADS_2