
Setelah mendapat perintah dari Barra untuk memberi ijin bergerak kepada Mira, Max lantas melangkahkan kakinya menuju ke arah ruangan Mira. Hanya saja ketika langkah kaki Max hendak menuju ke sana, di lorong kantor yang letaknya tak jauh dari ruangan Mira, Max bertemu dengan Wili.
Wili yang berpapasan dengan Max lantas langsung dengan spontan sedikit menunduk menyapa sekaligus memberi penghormatan kepada Max kemudian meneruskan langkahnya.
"Oh ya... aku ucapkan selamat atas bergabungnya kau kembali di gerbong dark walau mungkin ucapan selamat ku ini agak terlambat, dan satu hal lagi akan ada kasus arwah pendendam yang akan tim kalian tangani, mungkin ini akan menjadi kasus pertama yang kau kerjakan setelah menjalani masa hukuman kemarin." ucap Max tepat setelah menghentikan langkah kakinya ketika tak sengaja berpapasan dengan Wili barusan.
"Tentu dengan senang hati." ucap Wili ketika mendengar kabar dari Max barusan.
"Dan ingat jangan lagi melakukan kesalahan yang sama atau tuan akan menghukum mu lebih berat dari apa yang kau terima kemarin." ucap Max memperingatkan Wili untuk tidak kembali berulah dan bertindak menyeleweng dari tugasnya.
"Tentu saja kau tidak perlu khawatir tentang itu." ucap Wili dengan nada yang datar.
Setelah mengatakan hal tersebut Max kemudian kembali meneruskan langkah kakinya menuju ke arah ruangan Mira, begitu pula dengan Wili yang kembali melangkahkan kakinya ke tujuan semula.
Setelah Barra memutuskan untuk mencabut perintahnya yang menugaskan Wili menjadi masinis gerbong dark, Wili lantas menjalani hukuman selama beberapa hari dengan cara di cabut kekuatannya dan tidak diperbolehkan mengikuti tugas apapun selama batas yang telah di tentukan. Hingga kemudian setelah menjalani masa hukumannya selama beberapa hari, barulah kemarin Wili bisa kembali beraktifitas seperti semula dan mendapatkan kembali kekuatannya secara berangsur angsur.
**
Sementara itu setelah mendapat perijinan perintah untuk bergerak, Mira, Wili dan juga Riko lantas mulai terlihat bergerak ke arah tempat di mana arwah pendendam itu berada sesuai dengan sinyal yang mereka peroleh. Ketiganya melangkahkan kaki mereka di jalanan dengan langkah kaki yang elegan namun berpindah pindah tempat dengan cepat.
Hingga kemudian langkah ketiganya lantas terhenti ketika melihat tak jauh dari posisi di mana mereka berada, Edrea terlihat tengah memperhatikan target mereka dengan seksama.
"Kenapa harus dia lagi dia lagi sih?" ucap Mira ketika melihat kehadiran Edrea di sana.
"Maaf Madam kami berdua sama sekali tidak di beri informasi bahwa arwah kali ini akan berhubungan langsung dengan pelayan tuan Barra." ucap Riko ketika mendengar gerutuan dari Mira barusan.
"Cih... sepertinya Barra memang sengaja tidak memberitahu kita tentang gadis itu." ucap Mira kemudian dengan tatapan yang sinis ke arah Edrea.
__ADS_1
"Maksud anda Madam?" tanya Wili yang tak mengerti akan maksud dari ucapan Mira barusan.
"Tugas ini sama halnya dengan bentuk uji coba akan kesalahan yang kau lakukan kemarin Wil, sepertinya Barra ingin melihat apakah kau kali ini akan mengulang kesalahan yang sama ketika bersama dengan gadis itu atau tidak..." ucap Mira dengan tersenyum tipis ketika mendapat pertanyaan dari Wili barusan.
"Lalu saya harus bagaimana Madam?" tanya Wili setelah mendengar penjelasan dari Mira barusan.
"Lakukan saja seperti biasa dan jangan lupakan standar penjemputan arwah kita, aku yakin kali ini mungkin gadis itu yang akan mendapat masalah." ucap Mira kemudian memberi perintah pada kedua bawahannya.
"Baik Madam..." ucap Riko dan juga Wili secara bersamaan.
***
Sementara itu di ruangan Barra
Tok tok tok
"Masuk" ucap Barra ketika mendengar pintu ruangannya di ketuk.
"Apakah tuan memanggil saya?" tanya Max sambil menatap ke arah Barra yang kini sedang duduk termenung.
"Aku akan pergi ke rumah ibu, awasi gadis itu dan juga Stasiun selama aku pergi." ucap Barra dengan nada yang datar sambil menatap ke arah Max.
Max yang mendengar ucapan Barra barusan tentu saja terkejut, pasalnya Barra sudah lama sekali tidak mengunjungi ibu. Mungkin terakhir kali Barra mengunjunginya sekitar seratus tahun yang lalu dan itu pun karena hal penting yang mendesak, jika kali ini Barra kembali berkunjung ke tempat ibu itu artinya sesuatu yang penting sedang terjadi. Hanya saja mengapa Max sama sekali tidak merasakan apapun jika memang itu benar benar genting?
"Apakah sesuatu telah terjadi tuan?" tanya Max kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
"Ada beberapa hal yang mengganggu pikiran ku belakangan ini dan aku rasa ibu pasti tahu sesuatu akan hal itu." ucap Barra menjawab pertanyaan dari Max barusan.
__ADS_1
"Haruskah saya ikut dengan anda tuan?" tanya Max menawarkan diri karena Max yakin jika sampai bertemu dengan ibu maka masalah yang di ucapkan oleh Barra barusan tentulah bukan hal kecil.
"Tidak perlu, cukup awasi saja gadis itu dan pastikan semuanya berjalan dengan lancar mungkin aku akan sedikit lebih tenang ketika di sana." ucap Barra lagi.
"Tentu tuan anda tidak perlu khawatir." ucap Max pada akhirnya.
***
Kembali kepada Edrea
"Bukankah itu pria yang berselingkuh dengan Putri tadi? untuk apa Ardi menatapnya seperti itu? jangan bilang Ardi akan berbuat nekat?" ucap Edrea bertanya tanya tentang kemungkinan yang akan terjadi. "Lalu cahaya apa itu?" imbuh Edrea ketika melihat pancaran cahaya hitam pekat di sekitaran Ardi.
Edrea yang sadar keadaan sudah mulai tidak enak, lantas langsung bergerak hendak mendekat ke arah Ardi namun langsung di tahan oleh Wili yang menghadang tepat di depannya..
"Untuk kedepannya arwah Ardi Laksmana akan menjadi urusan kami, dia sudah tidak lagi berada dalam kode Biru dan aku harap kamu tidak perlu ikut campur akan urusan ini." ucap Wili dengan nada yang datar.
"Apa? bagaimana bisa?" ucap Edrea yang terkejut akan informasi yang ia dapat barusan.
"Kau tentu mendengar tentang arwah pendendam bukan? aku yakin Max sudah menjelaskannya padamu." ucap Wili dengan nada yang dingin.
"Itu tidaklah mungkin, bukankah Ardi masuk ke dalam kode Biru bagaimana mungkin tiba tiba berganti menjadi Dark?" ucap Edrea yang tidak percaya begitu saja akan ucapan dari Wili barusan.
"Lihatlah cahaya kehitaman yang timbul di sekitaran arwah tersebut, hal itu sudah menjadi ciri dari seorang arwah pendendam. Jika kau masih tidak percaya maka silahkan lihat iPad ini maka kau akan mengetahui bahwa perkataan ku adalah benar." ucap Wili sambil memberikan iPad kepada Edrea.
Edrea yang juga penasaran akan apa alasan di balik bergantinya kode milik arwah Ardi, lantas langsung menerima iPad dari Wili dan menggesernya satu persatu.
Sedangkan Mira yang melihat arwah Ardi mulai bertindak, lantas langsung melesat tanpa perduli lagi dengan Edrea dan juga Wili yang tengah berada di sana.
__ADS_1
"Akh"
Bersambung